SDGs dan Misi Khalifah: Saat Iman Bertemu Agenda Global

Ada anggapan bahwa SDGs adalah agenda global yang “asing” dari agama. Padahal, jika dibaca lebih dalam, SDGs justru sangat dekat dengan misi kekhalifahan dalam Islam.

Pengentasan kemiskinan, pendidikan berkualitas, keadilan sosial, perlindungan lingkungan—semua ini adalah bahasa modern dari nilai-nilai lama: menjaga kehidupan, akal, martabat manusia, dan bumi.

Dengan kata lain, SDGs adalah maqashid syari’ah dalam format kebijakan global.

Ketika dunia berbicara tentang No Poverty dan Zero Hunger, Islam menyebutnya rahmah dan hifzh al-nafs.
Ketika dunia menekankan pendidikan, Islam mengingatkan: Iqra’.
Ketika dunia khawatir pada krisis iklim, Al-Qur’an sudah lama melarang ifsad fi al-ardh—merusak bumi.

Yang sering keliru adalah cara kita membaca SDGs. Ia bukan sekadar daftar target dan indikator. Tanpa etos moral, pembangunan mudah berubah menjadi angka tanpa jiwa.

Islam memberi roh itu: niat, amanah, dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Pertanyaannya bukan hanya “apa yang tercapai?”, tetapi: apakah pembangunan ini memuliakan manusia sebagai Khalifah—atau justru menggerus martabatnya?

Menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga dunia yang bertanggung jawab bukan dua pilihan yang bertentangan. Justru iman yang matang menuntut keterlibatan aktif dalam agenda kemanusiaan global.

SDGs memberi kita bahasa bersama. Islam memberi kita arah dan kompas etiknya.

Kini pertanyaannya sederhana: apakah kita hanya menjadi penonton dari agenda global—atau ikut mengisinya dengan nilai, nurani, dan tanggung jawab?

Catatan: Uraian lebih luas dan mendalam dapat ditemukan dalam buku Khalifah sebagai Sintesis Kosmis: Fusi Hikmah Mullā Ṣadrā dan Tanggung Jawab Global karya Uzair Suhaimi, yang akan segera diterbitkan oleh Nas Media Pustaka. Naskah dalam Pdf dapat diakses dalam [link] ini dan series sebelumnya dalam link ini.