Berpuasa dengan Ihsan

Signifikansi Puasa

Saat ini hampir dua milyar kaum muslimin secara serentak berpuasa. Ini tak pelak merupakan suatu event tahunan unik dan salah satu pengalaman spiritual tingkat global terdahsyat di dunia ini[1]. Kenapa kaum muslimin bersusah payah berpantang makan, minum, berhubungan seksual dan kegiatan lain yang diketahui atau patut diduga dapat membatalkan puasa, sepanjang hari selama sebulan penuh? Jawabannya singkatnya, mereka menyadari puasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu kewajiban agama, sesuai al-Baqarah ayat 183. Mereka, berdasar ayat yang sama, mengetahui bahwa kewajiban serupa juga berlaku bagi umat-umat sebelumnya, termasuk penganut Agama Nasrani. Walaupun demikian, main stream kelompok umat ini tampaknya tidak menganggap puasa sebagai suatu kewajiban agama[2]:

Scripture does not command Christians to fast. God does not require or demand it of Christians. At the same time, the Bible presents fasting as something that is good, profitable, and beneficial. The book of Acts records believers fasting before they made important decisions (Acts 13:2; 14:23).

Kenapa seperti itu, tentu ada hikmah ilahiah yang berada di luar jangkauan nalar kita untuk memahami sepenuhnya. Mungkin kita hanya dapat berandai-andai: seandainya puasa dipraktekkan oleh Umat Nasrani sebagaimana Umat Islam melakukanya, dunia mungkin akan menyaksikan kehidupan global yang lebih indah dari yang kita alami sekarang. Kenapa lebih indah? Paling tidak karena dua alasan. Pertama, secara statistik, populasi Umat Nasrani pada tingkat global lebih besar dari pada populasi Umat Islam. Kedua, praktek puasa dapat mengundang turunnya rahmat dan berkah “langit” berupa kesempatan untuk mengembangkan spiritualitas pelakunya.

Fasting in Ramadan is a unique opportunity to develop spiritually and gain strength and control over our selves, our egos, the nafs, the unconscious automatic primitive nature that tends to dominate our lives when unchecked. … By observing fasting in Ramadan, a Muslim has a profound and unique opportunity to become more peaceful, present and spiritual — the very goal of Islam.

Puasa sebagi Rukun Islam

Bagi muslim, puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Dalam konteks ini Islam dimaknai dalam arti sempit sebagai amalan lahiriah. Mengacu kepada hadits Jibril, Islam sebagai amalan lahiriah dapat dibedakan dari Iman yang menekankan amalan intelektual dan Ihsan yang menekankan amalan hati. Aspek amalan lahiriah merupakan bidang keahlian para ahli fiqh, sementara amalan intelektual dan amalan hati masing-masing merupakan keahlian ahli kalam dan ahli tasauf. Islam dalam arti sempit ini diilustrasikan oleh ayat ini:

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka) “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam)”, karena iman belum masuk dalam hatimu…. “ (49:14).

Yang perlu dicermati adalah bahwa Al-Qur’an menggunakan kata Islam (atau kata turunanya) dalam berbagai konteks dan mengandung makna yang lebih luas dari yang terungkap dalam kutipan di atas. Makna Islam yang lebih luas dapat dilihat dalam kutipan ayat-ayat berikut:

  1. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikma-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu (5:3)
  2. Apakah kamu menjadi saksi saat maut menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya (Arab: muslimun) (2:133)
  3. Maka mengapa mereka mencari agama lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri (Arab: aslama) kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya semua dikembalikan (3: 83).

Kata Islam dalam kutipan pertama mengacu kepada keseluruhan ajaran Muhammad saw dan inilah yang tampaknya menjadi definisi Islam yang paling populer. Walaupun demikian, kita tidak boleh kehilangan wawasan bahwa al-Qur’an sebenarnya menggunakan istilah Islam dalam konteks yang lebih luas dari definisi populer itu karena menyangkut keseluruhan ajaran Ibrahiem AS dan ajaran anak-cucunya (2:133), dan bahkan mengacu pada keber-serahan-diri seluruh alam (3:83).

Bagi non-manusia, Islam atau sikap berserah-diri bersifat otomastis, tetapi bagi manusia sikap itu bersifat voluntir dalam arti harus didasari oleh kehendak sendiri. Kenapa? Karena manusia diciptakan sesuai “gambar”-Nya sehingga memiliki kebebasan penuh bahkan untuk membangkang-Nya.

Islam dalam pengertian paling sempit (49:14), seperti disinggung sebelumnya, dapat dibedakan dari Iman atau Ihsan. Tripatriat Islam-Iman-Ihsan membangun keseluruhan al-Dien atau Islam dalam arti luas. Pada umumnya para ulama sepakat bahwa ber-Islam (dalam artian sempit) belum tentu ber-Iman, tetapi ber-Iman mustahil tanpa ber-Islam. Mereka pada umumnya juga sepakat bahwa ber-Iman belum tentu ber-Ihsan, tetapi ber-Ihsan mustahil tanpa ber-Iman. Dalam bahasa matematis: Islam merupakan subset dari Iman yang merupakan subset dari Ihsan.

Pada hakikatnya, tripatriat Islam-Iman-Ihsan melingkupi semua tindakan utama khas manusia yang perlu diintegrasikan agar suatu tindakan positif mendatangkan hasil yang optimal sesuai yang dikehendaki. Tripatriat ini setara dengan tripatriat actingknowing-willing; atau activity-intellectuality-spirituality; atau work- faith-perfection.

ihsan

Sumber: Youtube

Dalam kaitannya dengan puasa, uraian di atas menyimpulkan bahwa untuk mencapai sasaran yaitu taqwa, puasa perlu dilakukan secara Ihsan. Kalimat pendek ini berarti bahwa untuk mencapai puncak kualitas mausia (taqwa), puasa perlu dilakukan bukan hanya sebagai tindakan lahiriah, tetapi sekaligus juga harus didasari oleh Iman, dan disempurnakan dengan Ihsan[*]. Ini berarti berarti pula bahwa puasa seyogyanya  dilakukan secara sempurna sesuai kaifiat (tatacara) yang ditetapkan syariat, dimotivasi keinginan untuk memperoleh ridha-Nya dan bukan karena motif lain, memperhatikan adab puasa, serta menyibukkan diri dengan amalan-amalan unggulan baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Inilah agaknya makna hadits: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Bukhari). Wallahu’alam ……@

[*] Posting mengenai Ihsan ini dapat diakses dalam blog ini, antara lain yang bertajuk Ihsan: Pilar Agama yang Terabaikan.

[1] http://www.islamicrenaissance.com/blog/10-reasons-for-fasting-in-ramadan/

[2] http://www.christianbiblereference.org/faq_fasting.htm

Puasa (3): Bulan Penuh Rahmat

Ada hadits yang artinya kira-kira “Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka”. Hadits ini sangat populer tetapi perlu dicatat bahwa statusnya tergolong lemah. Para ahli hadits, sebagaimana didokumentasikan dalam muslim.or.id, pada umumnya sepakat dengan kesimpulan ini: “di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya” (lihat, misalnya, https://muslim.or.id/22019-hadits-lemah-ramadhan-dibagi-tiga-bagian.html)

Dangan berpuasa dalam Bulan Ramadhan kita dapat “berharap banyak” memperoleh tetapi juga “cemas” tidak memperoleh rahmat-Nya. Kenapa “berharap banyak” (Arab:thama’a)? Karena mamang Rabb kita Rahim; juga karena Ramadhan bulan penuh rahmah. Harapan ini dapat diperkuat dengan, misalnya, melaksanaan amalan-amalan unggulan puasa secara ikhlas: salat malam, tadarus, banyak merenung (i’tikaf), banyak berbagi, dan sebagainya. Tetapi kenapa harus cemas (Arab:khaufa)? Karena rahmat by definition adalah pemberian “langit”, Rabb, yang berada di luar kendali kita.

rahmat

Sumber: Youtube

Bahwa rahmat adalah “anugerah langit” dapat dilihat dari cara bagaimana kata rahmat digunakan dalam ayat al-Qur’an. Terjemahan lima ayat al-Qur’an berikut ini mudah-mudahan dapat membantu kita dalam mengapresiasi makna rahmat versi qur’ani:

  • …. Sekiranya bukan karena bukan karunia (Arab: fadhl) dan rahmat dari Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu) (4:83)
  • Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, untuk menjelaskan sesuatu dan rahmat, agar mereka beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya (6:194)
  • Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan kekal di dalamnya (9:21)
  • …. Ketahuilah bahwa infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesunggguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (9:99)
  • Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (21:107)

Dari kutipan ayat di atas jelas sekali bahwa rahmat merupakan pemberian atau karunia Allah swt, bukan semata-mata hasil dari upaya manusiawi. Sebagai catatan, kutipan ke-5 menegaskan sine qua non risalah Muhammad Saw adalah rahmat bagi seluruh alam, suatu penegasan yang menurut akal sehat totally incompatible dengan praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Makna rahmat sebenarnya sangat mendalam karena terkait dengan dua nama ilahiah yaitu Rahman dan Rahim. Gambaran mengenai kedalamannya dapat dilihat dari kutipan karya Schuon (2006:128)[1] berikut:

Rahmah – a term that is most often translated as “Clemency” – implies more profoundly, as does the Sanskrit term Ananda, all the aspects of Harmony: Goodness, Beauty and Beatitude; and Rahmah is integrated into the Divine Essence itself, inasmuch as it is fundamentally none other than the radiating Infinitude of the Principle; an identity that the Koran expresses by saying: “Call upon Allah or call upon Ar-Rahman, to Him belong the most beautiful Names”.

Istilah Rahmah, seperti istilah Ananda dalam Sankerta, mengimplikasikan secara lebih mendalam dari apa yang terungkap dalam terjemahan umumnya yaitu “Pengampunan”, karena ia menyiratkan semua aspek Harmoni: Kebaikan, Keindahan dan Ketenangan. Rahmah terntegrasi ke dalam Esensi Ilahi sendiri karena pada dasarnya ia tidak lain dari pada pancaran Ketidakterbatasan dari Prinsip, sesuatu yang diungkapan yang dalam al-Qur’an sebagai: “Serulah Allah atau al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru karena dia mempunyai nama-nama yang baik (Asmaa’ul Husnaa)”[2].

Kedalaman makna rahmat juga terlihat dari kutipan karya Schuon (1998:64-65[3]) lainnya berikut ini (sengaja tidak diterjemahkan agar pembaca dapat mengapresiasi maknanya secara lebih baik serta merasakan rasa bahasa Schuon secara langsung):

The divine Names Rahman and Rahim, both derived from the word Rahmah (“Mercy”), mean, the former the intrinsic Mercy of God and the latter His extrinsic Mercy; thus the former indicates an infinite quality and the latter a limitless manifestation of that quality. The words could also be respectively translated as “Creator through Love” and “Savior through Mercy,” or drawing inspiration from a hadith, we could comment on them thus: Ar-Rahman is the Creator of the world inasmuch as a priori and once and for all He has furnished the elements of well-being of this lower world, while Ar-Rahim is the Savior of men inasmuch as He confers on them the beatitude of the world beyond, or inasmuch as He gives them here below the seeds of that other world or dispenses its benefits.

In the Names, Rahman and Rahim the divine Mercy faces human incapacity in the sense that cunsciousness of our capacity is, when coupled with trsut, the moral receptacle of Mercy. The Name Rahman is like a sky full of light; the Name Rahim is like a warm ray coming from the sky and giving life to man.

Dari kutipan di atas jelas antara lain bahwa Rahman melengkapi unsur-unsur kebahagian di dunia-bawah-sini sementara Rahim menyiapkan benih-benih kebahagiaan untuk di dunia-atas-sana. Agaknya kita baru akan menyadari hal ini sepenuhnya ketika kita memperoleh kesempatan menikamati “buah-buahan” dan “pasangan hidup” di Surga kelak (Insyaallah):

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “inilah rezeki yang diberikan kepada kami dulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya (al-Baqarah:25).

Subhanallah!

[1] Schuon, Fritjhof, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom

[2] Al-Isra (110).

[3] Schuon, Fritjhof, Understanding Islam (1998), World Wisdom.

← Back

Thank you for your response. ✨

Puasa: Tujuan dan Adab

Dasar hukum (syar’i) puasa adalah al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ayat pendek ini mungkin termasuk paling populer di kalangan umat karena sering dikemukakan oleh para pencermah, khususnya pada bulan puasa.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa ayat ini tidak menyebutkan siapa yang yang mewajibkan puasa. Dalam hal ini apa yang diungkapkan Shihab layak disimak. Baginya, tidak disebutkannya secara eksplisit pihak yang mewajibkan puasa mengisyaratkan bahwa ibadah ini sangat penting dan berguna bagi manusia; sedemikian penting dan bergunanya ibadah ini sehingga “seandainya bukan Allah SWT yang mewajibkannya, niscaya manusia yang akan mewajibkan atas dir mereka sendiri” Shihab (2002:401). Sejalan dengan pendapat ini al-Gazali (2012:123) mengungkapkan bahwa “puasa adalah asas ibadah yang sekaligus merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah swt”.

Seperti ditegaskan dalam ayat ini, tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa yang secara singkat dapat didefinisikan sebagai “terhindar dari segala macam sanksi atau dampak buruk bagi duniawi maupun ukhrawi” (Shihab, 2003:401). Dalam narasi al-Gazali (2012:123), tujuan puasa adalah “meredam keiginan nafsu dan meningkatkan kekutan batinmu, agar engkau dapat gunakan sebagai modal untuk meningkatkan nilai ketakwaanmu”.

takwa1

Sumber: Youtube

Yang juga menarik untuk dicatat adalah bahwa penggunaan kata “agar” (Arab: la’alla) dalam ayat itu dan ini mengisyaratkan bahwa antara puasa dan takwa tidak ada hubungan otomatis; artinya, orang yang berpuasa belum tentu mencapai derajat takwa. Hal ini sejalan dengan hadits yang kira-kira artinya “banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapat manfaat apa-apa dari puasanya itu, selain rasa lapar dan dahaga”.

Apa yang menyebabkan puasa tidak “ngefek” (istilah remaja) dalam arti tidak membuahkan pahala atau tidak efektif sebagai modal untuk meningkatkan ketakwaan sebagaimana diungkapkan al-Gazali? Jawaban singkat untuk pertanyaan ini adalah bahwa pelakunya kurang atau tidak mengindahkan adab puasa. Dalam kaitan ini layak disimak apa yang dikatakan al-Gazali (2012:121):

Agar puasa menjadi sempurna, maka yang harus dilakukan adalah menahan seluruh anggota tubuh dan pikiran dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Artinya, engkau harus harus dapat menjaga mata dari hal-hal yang tidak disukai-Nya, menjaga lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak manfaatnya untukmu, dan menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang oleh Allah Ta’ala.

Termasuk dalam adab puasa adalah mengendalikan nafsu makan ketika berbuka. Mengenai hal ini al-Gazali (2012:123) sangat serius:

Jadi, bila engkau berbuka dengan memakan jatah makan yang mestinya untuk dua atau tiga kali, maka tidak ada gunanya engkau berpuasa. Sudah barang tentu perutmu akan terasa berat. Padahal benjana yang sangat dibenci Allah swt adalah perut yang terisi penuh makanan halal, hingga kekenyangan. Lantas, bagaimana dengan perut yang terisi makanan yang diharamkan”

Juga merupakan bagian dari adab puasa adalah menghindari lima perkara yang menurut hadits (dikutip oleh al-Gazali, 2012:120) dapat membatalkan pahala puasa: berbohong, mengadu-domba (namimah), memfitnah, bersumpah palsu dan memandang lawan jenis dengan syahwat.

Jika adab-adab puasa sebagaimana dibahas sebelumnya merupakan bagian dari akhlak (perilakuk otomtis) kita sehari-hari (bukan hanya bulan puasa), maka ada harapan puasa kita efektif dalam arti dapat menjadi modal bagi kita untuk meningkatkan nilai ketakwaan.

Perlu dicatat bahwa takwa menunut keterampilan-spiritual lebih, jauh di atas rata-rata: berinfak di waktu sempit, memaafkan kesalahan orang lain, sedikit tidur di malam hari (karena tahajjud), banyak minta ampun menjelang fajar, memberikan hak orang miskin tanpa perlu diminta. Keterampilan-keterampilan itu sama-sekali bukan mengada-ada tetapi secara eksplisit termaktub dalam al-Imran 134 dan al-Dzariat 15-19:

(orang yang bertkwa yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain (al-Iamran 134).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (surga) dari mata air (15); mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya sebelum itu (di dunia) mereka tergolong muhsinin (16); mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (17); dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) (18); dan pada harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta, dan orang-orang miskin yang tidak meminta (19) (al-Dzariat: 15-19).

Kutipan ayat di atas menegaskan unsur ihsan dalam makna takwa yang kurang memperoleh perhatian pencermah atau khatib jum’at kita ketika menjelaskan takwa. Hal ini tentu memprihatinkan terutama bagi mereka yang serius ingin menggarisbawahi wajah Islam yang ramah dan damai.

Wallahu ‘alamu bi muraadih…..@

Referensi

Iman al-Gazali (2012), Biayatul Hidayah (Jalan Meraih Hidayah Allah) (terjemahan), Khatulistiwa.

Shihab, M. Quraisy ( 2002 ), Tafsir al-Misbah, Lentera Hati

← Back

Thank you for your response. ✨

Definisi Puasa

Puasa Secara Bahasa

Puasa adalah kata benda (Arab: shiyam, ism masdar) yang berarti kemampuan menahan diri dari apa saja yang membatalkan: makan, minum, merokok, berhubungan secara seksual, dsb. Tambahan awalan “ber” menjadikan kata puasa menjadi kerja (Arab: shaama, fiil madhi). Sebagai kata kerja puasa berarti upaya untuk menahan diri untuk tidak melakukan apa yang kita sukai. Kemampuan menahan diri adalah khas manusia yang memungkin mereka memiliki keadaban (civilized) dan secara kolektif membanguna peradaban (civilization).

Puasa Secara Istilah

Secara istilah puasa adalah adalah upaya menahan diri dari yang membatalkan yang tatalaksananya diatur oleh syariat (Islam). Secara syariat puasa dapat dikenakan hukum haram (misalnya pada hari Idul Fitri), sunat (misalnya pada hari Senin) dan wajib (pada bulan Ramadhan).

Dalil

Menurut syariah semua bentuk ibadah dilarang kecuali yang memiliki dasar hukum atau dalil (syar’i). Dalam konteks puasa wajib, dalilnya adalah QS (2:183): “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Niat

Menurut syariah puasa harus diniatkan dalam arti dilakukan secara sadar (intentional). Dalam Islam, unsur niat sangat penting  bahkan menentukan nilai suatu kegiatan: “Semua amal (nilainya) tergantung niat” (Hadits). Dalam ibadah Kurban Hewan, misalnya, ditekankan yang menentukan nilainya bukan daging dan darahnya, tetapi nilai taqwa” (QS 22:37). Dalam ibadah puasa, sebagai misal lain, ada Hadits yang menegaskan “banyak yang puasa tetapi tidak memperoleh balasan apa-apa kecuali lapar dan haus” (Hadits). Sebagai tambahan, dalam Islam, kegiatan sehari-hari seperti bekerja akan bernilai ibadah jika disertai dengan niat yang benar. dalam konteks puasa tujuan itu adalah memperoleh taqwa.

Waktu

Menurut syariah puasa waktunya tertentu: mulai fajar hingga matahari tenggelam dan untuk puasa wajib selama sebulan penuh (QS 2:182-4). Muslim berkeyakinan semua ajaran agama sesuai dengan alami atau fitrah manusia (QS 30:30) dan untuk kemaslahatan manusia.  Mereka yakin tatalaksana puasa bukan hanya tidak membahayakan tetapi juga bermanfaat. “Puasalah maka kalian akan sehat” (Hadist). Riset medis secara umum mendukung keyakinan mereka.  Menurut Profesor Longo puasa bahkan menguntungan bagi sistem imunitas sel tubuh manusia.

Kesimpulan

Tatalaksana puasa dalam Islam sesuai aturan agama (syariat). Muslim melaksanakan puasa (wajib) karena ada dalilnya. Mereka meyakini tatalaksana sesuai fitrah manusia sehingga bukan saja tidak membahayakan tetapi malah membawa manfaat.

Wallahualam….@

← Back

Thank you for your response. ✨

Puasa: Pelajaran dan Tindak Lanjut

Ya Rabb!

Terimalah syukur hamba atas kesempatan menuntaskan puasa tahun ini;

perkenankan hamba bertemu ramadhan tahun depan untuk memperkaya pengalaman rohani yang produktif secara individual dan sosial.

Hamba telah berupaya berpuasa sesuai tuntunan-Mu dan teladan nabi-Mu:

berlapar-haus ketika siang sekalipun masih merasa tersiksa,

tarawih ketika malam sekalipun seringkali disertai malas,

tadarus sekalipun sering tanpa konsentrasi,

berinfaq semampunya, dan

zakat-mal sebatas nisab.

Rab!

Terimalah semua itu karena itulah kemampuan hamba.

Hamba menyadari masih banyak hal yang terlewat:

masih malas salat berjamaah, masih cepat tersinggung,

masih sering terpana melihat kecantikan wanita bukan muhrim,

masih tega menonton ketidakberdayaan kaum du’afa,

masih kurang-maaf, dan

banyak sisi-gelap lainnya.

Rab!

Engkau sajalah yang berhak menilai apakah hamba layak merayakan Ied_fitri dalam arti memenangkan pertempuran melawan hawa nafsu yang terus-menerus memerintahkan keburukan (an ammartun bil fahsyaa).

Hamba tidak dapat melawan keperkasaan hawa nafsu kecuali Engkau merahmatinya (illa ma rahima rabbi)[1].

Hamba menyadari sukses puasa hamba ditentukan oleh tiga macam pembelajaran (leasons learned) dari puasa serta kemampuan menindak-lanjuti dalam amalan kongkrit (way forward) dalam 11 bulan ke depan: pengalaman rohani, mengendalikan hawa nafsu dan kepedulian terhadap sesama.

Pengalaman rohani

Dari pengalaman singkat tadarus dan bangun malam hamba menikmati sedikit pengalaman rohani yang terbukti membawa ketenteraman hati.

Hamba menyadari sukses puasa hamba ditentukan oleh kemampuan  mempertahankan best practices ini selama 11 bulan ke depan.

Mengendalikan hawa nafsu

Dari pengalaman berlapar disadari pentingnya kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

Hamba menyadari sukses puasa hamba tergantung kepada kemampuan  mempraktekkan pelajaran hidup yang sangat penting ini dalam 11 bulan ke depan.

Peduli terhadap sesama

Dari pengalaman berlapar juga disadari arti penting peduli terhadap sesama khusunya kaum du’afa.

Hamba menyadari ukuran sukses puasa hamba ditentukan oleh apakah kepekaan itu dapat dipertahankan serta ditingkatkan dalam 11 bulan ke depan ….@


[1] Surat Yusuf (53).