Saat “korupsi berjamaah” hampir menjadi “norma baru”, di mana kejujuran dianggap naif dan keberanian untuk bersih justru dikucilkan—kita butuh senjata yang lebih kuat dari sekadar kampanye.
Allah SWT sudah memberikannya sejak 14 abad lalu:
“وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ”
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)
Ayat ini bukan sekadar seruan moral. Ini adalah pedoman revolusioner untuk membongkar logika korupsi sistemik.
Mari kita bedah:
Korupsi berjamaah sering dibenarkan dengan dalih:
· “Ini sudah budaya, kita cuma ikut arus.”
· “Kalau nggak ikut, nanti disingkirkan.”
Ayat kita MEMBALIK logika itu:
1. “عَلَى الْبِرِّ” → Kerjasama hanya sah jika landasannya KEBAIKAN SEJATI: kejujuran, keadilan, amanah. Kerjasama untuk mencuri uang rakyat? Itu BUKAN kerjasama, itu konspirasi kejahatan.
2. “وَالتَّقْوَىٰ” → Landasannya adalah KESADARAN bahwa Allah Maha Melihat. Saat rasa takut pada atasan lebih besar dari takut pada Yang Maha Menyaksikan, di situlah korupsi tumbuh.
Maka, melawan korupsi berjamaah harus dengan KEBAIKAN berjamaah yang lebih kuat:
1. Bentuk “Jamaah Alternatif” di kantor, kampus, komunitas. Cari dan dukung mereka yang masih lurus. Solidaritas kita adalah untuk para pejuang integritas.
2. Transparansi adalah Ibadah. Mulai dari hal kecil: kelola kas RT, dana masjid, iuran organisasi dengan terbuka. Praktikkan “ta’āwun ‘alal birr” dari lingkaran terdekat.
3. Berani menjadi “Minoritas Mulia”. Keberanian untuk jujur dalam sistem yang busuk adalah jihad kontemporer. Sejarah akan membela mereka yang memilih takwa.
Korupsi berjamaah hanya bisa dikalahkan oleh kebaikan yang lebih berjamaah, lebih cerdas, dan lebih konsisten.
Mari jadikan ayat ini senjata sehari-hari. Mulai dari diri, lalu ajak satu orang, lalu bentuk lingkaran kebajikan.
Karena perbaikan harus dimulai, dan Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan.