Legowo: Pendalaman Makna

Kata legowo (istilah halus: legawa) berasal dari bahasa Jawa yang berarti sikap batin tertentu untuk menerima satu keadaan dengan lapang dada. Apa yang perlu segera dicatat adalah bahwa legowo adalah suatu pilihan: menerima atau menolak, menerima dalam satu cara, atau dengan cara lain yang bertentangan. Mengenai definisi legowo, pernyataan Ade Ilyasi berikut dapat dirujuk[1]:

Legowo. Bisa menerima apa yang berlaku pada dirinya dengan sabar, ikhlas dan pasrah. Sabar, tidak mengeluh atas cobaan yang ada. Ikhlas, lapang dada menerima cobaan tanpa rasa emosi atau dendam. Pasrah, semua akan di serahkan kepada sang pencipta karena semua ada hikmahnya.

Paling tidak ada dua catatan mengenai definisi di atas. Pertama, kata legowo mengandung tiga unsur yang masing-masing mencerminkan suatu kebajikan spiritual tertentu: kesabaran, ketulusan dan pasrah. Ini jelas menyiratkan makna mendalam dari kata legowo dan pada saat yang sama menunjukkan sifat ekspresif bahasa Jawa. Kedua, dalam “definisi” di atas kata legowo lebih mengarah pada sifat pasif dan hanya terkait dengan cobaan.

Pertanyaannya adalah apakah kata itu dapat juga digunakan untuk mengekspresikan suatu sikap yang lebih aktif; misalnya, sebagai kesiapan-diri untuk mengambil risiko dari tindakan atau keputusan yang diambil sadar dan intensional. Jika jawabannya “ya” maka kata legowo dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas; termasuk misalnya, dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, frasa “kehidupan beragama dengan legowo”, misalnya, dapat diartikan sebagai sikap, perilaku atau praktik agama yang disertai unsur kesabaran, ketulusan atau keikhlasan dan tawakal atau berserah-diri:

  • sabar dalam menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya,
  • tulus dalam memasang niat beragama, dan
  • tawakal dalam menerima takdir Tuhan.

Beragama secara legowo dalam pengertian ini sejalan dengan ajaran qurani, ajaran berbasis otoritas tertinggi dalam Islam, Al-Quran:

(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah kepada-Nya (Quran 19: 65).

Padahal mereka (ahli Kitab: Umat Yahudi dan Umat Nasrani) hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Quran 98:5).

dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (Quran 5:11).

Untuk mengeksplorasi makna Legowo lebih lanjut  kita dapat mengambil kasus menarik terkait dengan pemilihan Gubernur Jakarta yang lalu. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penilaian atas kasus tersebut; sebaliknya, tulisan ini hanya tertarik pada pemberitaan mengeai reaksi salah satu kandidat dalam menanggapi hasil pemilihan. Liputan media dalam kasus ini beragam tetapi berita utamanya dapat dirumuskan dalam kalimat singkat: “Ahok menerima kekalahannya dengan legowo, mengucapkan selamat kepada pemenang, dan menyebutkan kekalahannya sebagai kehendak Tuhan”.

Dalam kalimat itu dapat “dirasakan” hubungan-senafas antara legowo, pengakuan akan kelebihan pihak lain, dan ketetapan takdir. Dalam kalimat itu juga dapat “dirasakan” adanya unsur rendah hati (Inggris: humble, humility) dalam kata legowo. Sukar membayangkan sikap legowo dari orang yang tidak memiliki sikap rendah hati.

Rendah hati adalah salah satu matra kebajikan (Inggris: virtue, Arab: birr)[2] yang lebih mudah dipahami dari lawan katanya yaitu tinggi hati (Arab: takkbur, Inggris: pride). Istilah terakhir ini dikenal luas oleh umat beragama sebagai suatu sikap batin yang dianggap sebagai sumber, akar atau induk semua keburukan.

Sebagai kesimpulan, empat pernyataan berikut patut ditegaskan kembali:

  • Legowo adalah sikap batin untuk menerima situasi- betapa pun menyakitkan– dengan sabar, tulus dan pasrah;
  • Legowo mencerminkan kesiapan diri dalam menerima risiko dari tindakan yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab;
  • Legowo adalah sikap batin yang sulit dibayangkan datang dari mereka yang kurang memiliki sikap rendah hati; dan
  • Legowo adalah suatu pilihan.

Pernyataan terakhir mengandung arti bahwa kita dapat menerima suatu peristiwa i yang telah terjadi atau menolaknya (dan ini mustahil), menerimanya dengan sabar atau tulus, atau dengan cara lain. Yang pasti, ada ketentuan takdir sebagaimana diungkapkan dengan padat dan indah dalam aforisme ketiga dari Al-Hikam:

Sensasi semangat tidak akan mampu menembus benteng takdir.

Mengenai aforisme ini, komentar Syekh Fadhallah berikut layak disisipkan di sini [3] untuk mengakhiri artikel ini:

Tak berguna! Bagaimanapun banyak energi yang Anda curahkan untuk maksud atau tujuan, itu tetap tidak akan tercapai jika tidak sesuai dengan keputusan Tuhan. Anda tidak akan memenangkan kehendak Anda di atas kehendak-Nya, yang telah menetapkan sifat yang terlihat dan tidak terlihat, dan menentukan nasib kita semua.

Demikianlah kedalaman makana spiritual kata legowo dalam konteksnya yang luas  …. @

[1] https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120707193759AA3FrcK

[2] Lihat: https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/22/dimensi-kebajikan/ dan https://uzairsuhaimi.blog/2016/01/01/rendah-hati/.

[3] Ibn Atthaillah, Al-Hikam, yang disertai ulasan Sech Fadhalla, Jakarta: Mandiri Abadi (2003).

 

Versi pdf (tanpa audio) dapat diakses di  https://drive.google.com/open?id=1FkcK9G-tDzXadsZxqpBc9p3qaIqaMuVG

 

 

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Kesadaran Kongkrit dan Syahadat

Tulisan singkat ini diilhami oleh tulisan singkat yang bertajuk the Alternative karya Schuon (18/6/1907–5/5/1988) yang memiliki nama Islam yang lumayan panjang: ʿĪsá Nūr ad-Dīn ʾAḥmad, al-Mālikī, ash-Shādhilī ad-Darqāwī al-ʿAlawī al-Maryamī[1]. Schuon adalah seorang Jerman kelahiran Swiss yang pernah diinisiasi sebagai murid suatu tarekt sufi oleh Syaikh Ahmad al-Alawi (1933). Yang terkhir ini dikenal sebagai orang suci abad ke-20. Sebagai pengikut tarekat sufi Schuon sempat menduduki jabatan muqaddam (1935) dan bahkan Syaikh (1936)[2]. Dalam kedudukannya sebagai Syaikh inilah ia seringkali membimbing muridnya melalui tulisan-tulisan singkat yang pada mulanya bersifat pribadi dan tidak disiapkan untuk dipublikasikan, termasuk the Alternative. Para kolega dan murid Schuon merasa perlu untuk mempublikasikan tulisan pribadi ini mungkin karena kedalaman isinya. The Alternative pada dasarnya terkait dengan ajaran Tahuhid, tepatnya mengenai kesadaran kongkrit dan makna batiniah Syahadat.

Menuju Ke Kesadaran Kongkrit

Schuon membuka tulisannya dengan menekankan perlunya beranjak dari gagasan abstrak (abstract notion) menuju kesadaran kongkrit (concrete awareness) mengenai apa yang merupakan keyakinan-dasar kita. Bagi Schuon inilah jalur yang harus ditempuh jika kita ingin beranjak dari kemunafikan (hypocrisy) menjadi ketulusan (sincerity). Jika kita, misalnya, mengakui bahwa Tuhan yang paling utama dari segala sesuatu dan bahwa akhirat (hereafter) lebih baik dari dunia (here-below) tetapi berprilaku seolah-olah tidak mengakuinya, maka kita masih tergolong munafik. Bagi Schuon inilah bentuk kemunafikan yang paling umum: berprilaku tidak sesuai dengan pengakuan.

Hemat penulis pernyataan Schuon ini sejalan dengan al-Baqarah Ayat 8: “Dan di antara manusia ada yang berkata, “kami beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. Dalam konteks ini, pengakuan beriman masih berupa gagasan abstrak dan belum mencerminkan kesadaran kongkrit. Fakta bahwa hampir semua ayat pada lembar ke-dua al-Qur’an (dan banyak sekali ayat serupa) berbicara mengenai kemunfikan, bagi penulis mengisyaratkan pentingya mewaspadai sifat-sifat kemunafikan yang melekat dalam diri kita yang mungkin kita sadari. Wallahu’alam.

Untuk memperoleh gambaran lengkap gagasan Schuon mengenai topik ini, berikut ini disajikan kutipan langsungnya[3]:

It is necessary to pass from the abstract notion to concrete awareness; this is the passage from hypocrisy to sincerity. Most men who admit that God takes precedence over everything and that the hereafter is better than the here-below behave as if they did not admit it; this is the most usual hypocrisy.

Syahadat

Bagian selanjutnya dari tulisan Schuon terkait dengan Syahadat, formulasi teologis bagi Agama Islam yang menurut Schuon mengandung kebenaran universal. Pernyataan Syahadat adalah la ilaha illa Allah, tidak ada (la) Tuhan selain (illa) Allah. Pernyataan ini terdiri dari dua bagian: yang pertama merupakan penolakan atau penegasian (Nafy) Tuhan, yang kedua menunjukkan afirmasi (Ithbāt) bahwa Allah sebagai (satu-satunya) Tuhan.

Formulasi ini mengekspresikan makna metafisis mengenai alternatif antara yang Haq (Riil) dengan yang ilusi atau tidak atau kurang riil. Bagi Schuon, makna metafisis saja tidak cukup: baginya, formulasi itu juga menujukkan alternatif antara dunia dan akhirat , antara Ingat (Remembrance) dan lalai (headlessness), dan antara dhākirūn (orang yang berdzikir) dan gāfilūn (orang yang lalai). Penulis menduga, gagasan mengenai kelebihan kehidupan akhirat lebih dari dunia merupakan salah satu ajaran pokok semua agama; dalam konteks Islam hal itu dinyatakan secara tegas dalam al-‘Ala (16-17): “Sedangkan kamu memilih kehidupan dunia” (16), “padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (17).

Dalam bagian Nafi dari Syahadat kata la menyimbolkan sisi keterpisahan, ilusi, dan kesementaraan (impermanency) dari dunia. Sebaiknya, kata illa merujuk kepada sisi dunia yang partisipatif, simbolik dan menyatukan (unitif), tepatnya segala sesuatu yang memungkinkan arketif langit tampak. Simbolisme ini mencakup apa saja yang secara alamiah mampu lebih mendekatkan kita kepada Tuhan, terlepas dari sifatnya apakah subyektif atau obyektif, apakah alamiah atau spiritual. Dalam bagian Ithbāt kata illā merujuk pada unsur ciptaaan dalam alam surgawi-akhirat, Nama Allah jelas mengekspresian yang Tak-tercipta (the Uncreated).

Alinea terkhir merupakan terjemahan bebas penulis dari kutipan berikut ini[4]:

In the Nafy the word lā symbolizes the separative, illusory, and impermanent side of the world; the word ilāha refers then to the participative, symbolic, unitive side, that is, to things that allow celestial archetypes to appear through them; this symbolism encompasses everything that by its nature brings us nearer to God, whether these values are objective or subjective, natural or spiritual. In the Ithbāt the word illā symbolizes the created element within the celestial hereafter; the Name Allāh very clearly expresses the Uncreated.

Ghāfil V.S Dhākir

Di antara orang-orang percaya, dhākirūn adalah mereka yang menerima Syahadat dengan tingkat ketulusan tertentu dan ini bertentangan dengan ghāfilūn yang bersyahadat tanpa ketulusan. Untuk mewujudkan ketulusan spiritual adalah perlu bagi jiwa untuk beranjak dari pemikiran abstrak ke kesadaran kongkrit.

dzikir

Sumber: Google Image (dzikir)

Mengenai keindahan duniawiah, perspektif seorang ghāfil (orang lalai) sangat berbeda dengan seorang dhākir (orang ingat): bagi yang pertama itu melekatkan dirinya dengan dunia sementara bagi yang kedua menghapuskan dirinya dari dunia. Keindahan duniawi bagi dhākir lebih mendekatkan dirinya pada surga karena ia tahu bahwa itu memanifestasikan Rahmah ilahi dan karena ia melihat bagaimana Rahmah itu sudah indah dalam manifestasi duniawiahnya. Ia memilih Rahmah bukan dunia.

Pertanyaan restropektif

Kita, Insyaallah, termasuk orang yang mengakui akhirat lebih baik dari dunia. Pertanyaannya, apakah prilaku kita sehari-hari sejalan dengan pengakuan itu dalam arti lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia? Jika jawabannya positif maka insyaalah, kita “aman”; otherwise, jangan-jangan kita termasuk orang munafik tanpa kita sadari. Naudzubillah… @

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/

[2] Frithjof_Schuon Frithjof Schuon and the Perennial Philosophy, 2010, © World Wisdom, Inc

[3] “Letters” © World Wisdom, Inc / For Personal Use Only

[4] Ibid

Hidup: Jalan Menyempit

Catatan:

Tulisan Singkat ini diadaptasi dari tulisan Frithjof Schuon bertajuk “Mode of Prayer” dalam Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:75).

 

Jauh dari yang dipercayai dan diobesesikan oleh anak-anak dan kebanyakan kita (wordly man), hidup bukanlah ruang yang penuh kemungkinan yang menjanjikan untuk memperoleh aneka kesenangan hidup duniawi. Jauh dari itu. Hidup adalah satu jalan yang terus semakin menyempit: dari kekinian (present moment), sampai ke kamatian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian (eternity). Semua realitas ini sudah hadir dalam Salat, aktualitas nirwaktu (timeless) dari kehadiran yang Ilahi.

Jauh dari yang dipercayai dan diobesesikan kebanyakan kita, yang diperhitungkan dalam hidup bukanlah diversitas pengalaman sepanjang jalur magis yang kita kenal sebagai durasi. Jauh dari itu. Yang diperhitungkan adalah menjaga kesucian diri (perseverance) dan dzikir (remembrance) yang membawa kita keluar dari kungkungan waktu, serta mengatasi semua harapan kehawatiran kita. Dzikir ini sudah hadir dalam keabadian; di dalamnya, suksesi aksi hanyalah ilusi, Salat menyatukannya. Salat karenanya sudah merupakan suatu kematian, pertemuan dengan Tuhan, suatu kebahagiaan abadi (an eternity of bliss).

Bagi kita, empat hal sudah pasti: kekinian, kematian, pertemuan dengan Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah jalan keluar dari suatu dunia yang tertutup, pertemuan dengan Tuhan adalah langkah pertama pada keabadian yang kekal, keabadian adalah kepenuhan wujud cahaya murni, dan kekinian adalah “tempat” dalam durasi kita yang hampir tidak dapat dipahami (ungraspable) ketika kita sudah berada dalam keabadian, satu titik waktu dalam rentang keabadian yang tak terhingga.

Dalam konteks ini, apa fungsi Salat? Salat memberi kita kesempatan penuh dan seketika untuk menikmati keabadian dan nilai-nilai ilahiahnya, kapal suci yang mengantarkan kita ke pelabuhan berikutnya, ke keheningan cahaya:

Prayer gives to the terrestrial instant of the full weight of eternity and its divine value; it is a sacred ship that bears its load, through life and death, toward the further shore, toward the silence of light.

Wallâhu’alam….@

 

Aturan Emas: Meditasi, Konsentrasi dan Salat

Konon ada Aturan Emas (Golden Rule) yang merangkum inti ajaran semua agama. Aturan Emas itu adalah: “Mencintai Tuhan dengan segenap kekuatan dan mencintai tetangga”[1]. Dalam Aturan ini kata mencintai berarti tindakan inteligensi yang didasari keyakinan yang benar (Iman, Faith), tindakan kehendak untuk menyeleraskan dengan kebenaran Iman, serta tindakan hati untuk “berasimilasi” dengan kebenaran itu. Mencintai dengan pengertian ini menuntut partisipasi keseluruhan wujud (whole being): inteligensi, kehendak dan hati sekaligus.

Apakah hubungannya dengan meditasi? Jawabannya tergantung pada definisi meditasi. Jika meditasi diartikan secara umum sebagai “tindakan atau proses meluangkan waktu untuk berpikir tenang” (“act or process of spending time in quiet thought”)[2], maka meditasi tidak terkait dengan Aturan Emas. Sebaliknya, hubungan antara keduanya sangat erat jika meditasi diartikan sebagai “kontak antara inteligensi dengan Kebenaran” sebagaimana dilihat dari perspektif kaum tradisionalis. Untuk memperoleh gambaran yang agak memadai mengenai makna meditasi dari perspektif tradisional yang dimaksud, berikut ini disajikan kutipan dari tulisan tokoh utamanya:

Another mode of orison is meditation; contact between man and God here become contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. …. Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it “awaken” certain consubstantial “memories”, and on other hand upon the subconscious imagination, which end up incorporating into itself the truth mediated upon, resulting in fundamental and quasi-organic persuasion”[3].

Mode orisin yang lain adalah meditasi; kontak antara manusia dengan Tuhan disini menjadi kontak antara inteligensi dengan Kebenaran, atau kebenaran relatif dikontemplasikan dalam yang Absolut… Meditasi beraksi di satu sisi melalui inteligensi sehingga “membangkitkan” kenangan konsubstansial tertentu, dan di sisi lain melalui imaginasi bawah_sadar, yang berakhir dengan  penggabungan kebenaran yang dimeditasikan ke dalam diri, hasilnya adalah persuasi fundamental dan kuasi-organis.

Dari kutipan di atas jelas bahwa meditasi mengandung makna yang sangat luas dan mendalam, jauh lebih luas dan lebih mendalam dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh kamus umum yang dikenal. Dengan perkataan lain, istilah meditasi dalam kamus umum yang kita kenal sebenarnya sudah didegradasikan maknanya dengan cara menghilangkan unsur-unsur yang “berbau” Tuhan. Degradasi berlaku untuk banyak istilah penting bagi kajian metafisis keagamaan lainnya termasuk intelek.[4]

Apa peran meditasi? Dalam perspektif kaum tradisionalis meditasi berperan penting dalam “membuka jiwa”:

The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrate it into God, if one may speak in this way, however, reintegration may be only a fixation in a given “beatific vision, that is, a still indirect participation in divine Beauty.

Meditasi berperan untuk membuka jiwa, pertama untuk berkah yang menjauhkan dari dunia, kedua untuk apa yang membawa lebih dekat kepada Tuhan, dan ketiga untuk apa yang mengintegrasikannya dengan Tuhan, jika boleh menggunakan ungkapan ini, tetapi reintegrasi mungkin hanya suatu fiksasi dari “visi keindahan” tertentu, suatu bentuk partisipasi tidak langsung dalam Keindahan ilahiah.

Jika meditasi terkait dengan Kebenaran dan inteligensi, maka konsentrasi terkait dengan Jalan (Way) dan kehendak (the will). Jika meditasi dan konsentrasi masing-masing adalah “amalan” inteligensi dan kehendak, lalu Salat amalan apa? Salat, sampai batas tertentu, dapat dilihat sebagai amalan jiwa. Meditasi, konsentrasi dan Salat; ketiganya menunjukkan secara jelas kehidupan spiritual sekaligus menunjukkan mode-modenya yang utama. Mengenai Salat, kutipan dari Shuon berikut ini layak direnungkan:

Prayer –in the widest sense—triumphs over four accidence of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist[5].

Salat –dalam pengertian paling luas—mengatasi empat aksiden dari keberadaan kita: dunia, hidup, tubuh, jiwa; kita dapat juga mengatakan: ruang, waktu, materi dan hasrat. Salat ibarat suatu tempat berlindung yang hanya di dalamnya kita menjadi diri kita sendiri secara sempurna karena menempatkan kita dihadapan Tuhan. Salat layaknya berlian, tidak ada yang dapat menodai maupun menolaknya.

Wallâhu’alam… @


[1] Dalam konteks Islam, Aturan Emas ini dirumuskan sebagai aturan untuk menjaga tali hubungan vertikal dengan yang Mutlak (hablun min Allah) dan hubungan horizontal dengan sesame (habl min annas). Kehinaan menimpa siapapun yang mengabaikan kedua macam hubungan ini. Wâllahu’alam.

[2] Meriam Webster, Advance Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “Mode of Prayer” (59).

[4] Menurut Meriam-Webster, intelek adalah “kemampuan berpikir secara logis” (the ability to think in a logical way). Bagi kaum tradisional maknanya jauh lebih luas: “at once mirrors of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (lihat Valodia dalam Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, tanpa tahun).

[5] Frithjof Schuon (2005), dalam Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (182).

← Back

Thank you for your response. ✨