Konflik-Sesama dan Kritik Dunia Modern

Sejarah mencatat sekitar seabad lalu Perang Dunia Ke-1 (PD I) berakhir setelah berkecamuk selama empat tahun dalam periode 1914-1918. PD I adalah jenis konflik masal antar sesama manusia (singkatnya, konflik-sesama) yang melibatkan kekerasan dan ketika penghilangan nyawa manusia dari pihak lawan dianggap sah (valid) secara moral dan bahkan dinilai semacam kebajikan (virtue). Momen berakhirnya konflik sejenis itu jelas suatu “kemenangan” bagi kemanusiaan dan bersifat historis sehingga layak bagi kita untuk merefleksikannya.

Kita dapat mulai refleksi dengan mengingat bahwa PD I adalah konflik-sesama bertaraf internasional yang melibatkan hampir semua negara Eropa bersama Rusia, Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Dalam konflik ini berhadapan dua kelompok kekuatan: di satu pihak ada Kekuatan Poros (Central Powers) dengan anggota utama Jerman, Austria-Hongaria, dan Turki, di sisi lain ada Kekuatan Sekutu dengan anggota utama Perancis, Inggris, Rusia, Italia dan Jepang di sisi lain. (AS menyusul kemudian pada tahun 2017.) Konon semua peserta peperangan ini merasa yakin akan memenangkan peperangan dalam hitungan bulan.

PD I dijuluki Perang Besar (Great War) dan julukan ini layak paling tidak dilihat dari besarnya korban. Menurut suatu laporan, PD I melibatkan sekitar 960 juta penduduk dengan korban: lebih dari 8 juta jiwa meninggal dalam peperangan, 2.3 juta jiwa warga sipil meninggal, 5.4-6.1 juta warga sipil yang meninggal akibat dari kekurangan gizi dan penyakit (di luar influenza), 15.4 juta jiwa yang meninggal atau 19 jiwa per 1000 penduduk, dan 22.1-23.7 juta personil korban luka dari kalangan militer[1].

Sejarah mencatat pula bahwa konflik dengan korban yang sangat besar ini tidak membuat kita (secara kolektif) merasa jera. Buktinya, sekitar dua dekade usai PD I berkecamuk Perang Dunia Kedua (PD II), perang global yang melibatkan banyak sekali negara yang tergabung dalam kekuatan Sekutu atau Poros. Perang ini melibatkan senjata yang jauh lebih merusak (termasuk senjata nuklir) dibandingkan dengan yang digunakan dalam PD I, ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kematian massal warga sipil termasuk Holocaust, memakan korban jiwa sebanyak 50- 70 juta jiwa, serta menegaskan reputasinya sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia[2].

Konflik yang mematikan akibat PD II ternyata tidak juga membuat kita jera. Buktinya, pasca PD II sejarah menyaksikan sejumlah peperangan lain: Perang Korea (1950-53), Perang Vietnam (1957-75), Perang Irak-Iran (1980-88), Perang Afganistan (2001-sekarang), Perang Irak (2003-11), Perang Libiya (2011-sekarang), Perang Syria (2011-sekarang), dan Perang Yaman (2015-sekarang). Semua peperangan ini tidak bersifat global tetapi bukan berarti tanpa korban jiwa dan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif. Dua yang pertama pada umumnya dinilai sebagai “perang yang dimandatkan” (Inggris: proxy war) antara AS dengan sekutu PBB-nya melawan China-Rusia, sementara empat terakhir merupakan perang saudara disertai tragedi kemanusiaan meluas dalam lingkup regional. Bentuk tragedi itu antara lain pengungsian masal ke negara tetangga bahkan Eropa, pengungsi-lokal (internally-displaced persons), pekerja paksa (forced labour), degradasi tingkat kesejahteraan masyarakat, penyebaran wabah penyakit, bahkan kelaparan ekstrem.

pd1_100

Pertanyaan retrospektif yang layak layak-simak bagi kita secara kolektif adalah mengapa kita membiarkan terjadinya konflik-sesama sejenis itu. Banyak jawaban yang ditawarkan untuk pertanyaan semacam ini tetapi bagi orang semacam Guènon[3], peperangan atau semua bentuk kekacauan lainnya, merupakan implikasi logis dari cara-pandang-dunia budaya modern. Pandangan Guènon mengenai hal ini dapat kita simak dalam bukunya yang berjudul The Crisis of Modern World[4] yang dipublikasikan pasca PD I, tepatnya 1927.

Isi buku ini pada intinya menarasikan, dalam bahasa Martin Ling[5], “kritik tajam (penetrating critique) Guènon terhadap Dunia Modern dan penilaiannya mengenai kekacauan total dalam waktu dekat”. Gagasan pokok Guènon diungkapkan secara padat oleh Martin Ling dalam kutipan berikut[6]:

The rational, material, and secular worldview of modern science threaten to overwhelm realities that underlie the grand design of the natural world… Renè Guènon identified the deep chasm that separates ancient from modern, sacred from profane, and true knowledge from empirical science, a series of deep wounds such as can fully be helded (sic.) only by ending of this cosmic cycle and the beginning of another.

Pandangan duniawi yang rasional, material, dan sekuler dari ilmu pengetahuan modern yang mengancam realitas yang mendasari desain besar dunia alami … Renè Guènon mengidentifikasi jurang yang mendalam yang memisahkan dunia kuno dari dunia modern, yang sakral dari yang profan, dan pengetahuan sejati dari sains empiris, suatu rangkaian luka yang sedemikian parahnya sehingga seolah-olah hanya dapat diobati sepenuhnya dengan mengakhiri siklus kosmik ini dan dimulai lagi dari siklus yang lain.

Anak kalimat terakhir “suatu rangkai luka …” mengungkapkan keprihatinan Guènon yang mendalam terhadap ulah “manusia modern” yang bahkan terkesan putus asa. Keprihatinannya didasari oleh pengamatannya terhadap PD I dan isu yang terkait dengannya. Kita dapat membayangkan keprihatinan beliau jika sempat mengamati PD II, tragedi September 11, Tragedi Kemanusiaan Yaman-Syria-Rohingnya, dan sebagainya.

Terlepas dari kritik Guènon terhadap budaya Dunia Modern, alasan mendasar bagi konflik-sesama yang disertai penghilangan nyawa manusia barangkali dapat dikembalikan kepada tabiat manusia yang menurut “penilaian” malaikat suka “menumpahkan darah” [7] (Arab: yasfikud-dimaa). Wallahualam!

Mengapa kita membiarkan peperangan konflik sejenis itu berulang? Jangan-jangan karena kita termasuk makhluk yang lengah sebagaimana dilansir dalam teks suci:

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka (seperti) hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah[8].

Menurut teks suci ini kelengahan membuat kita bermartabat lebih rendah dari binatang ternak. MasyAllah!…@

[1] https://www.britannica.com/event/World-War-I

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

[3] Nama lengkapnya René Guénon (15 November 1886– 7/ January 1951) yang juga dikenl sebagai “Shaykh `Abd al-Wahid Yahya”.

[4] London: Luzac and Co., 1942; edisi dalam Bahasa Prancis terbit 1927.

[5] Martin Lings dalam “Introduction” buku The Essential Rene Guenon (2009:ix), World Wisdom.

[6] Ibid

[7] Al-Quran (2:30); yakni, Surat ke-2 Ayat ke-20.

[8] Al-Quran (7:179).

← Back

Thank you for your response. ✨

Homo Islamicus: Perbandingan dengan Manusia Modern

Dalam kalimat pertama salah satu bukunya yang terkenal yaitu Understanding Islam[1], Schuon mendefinisikan Islam sebagai ajaran mengenai “Tuhan apa adanya dan manusia apa adanya”. Walaupun terkesan enteng, definisi ini sebenarnya relatif lengkap dan sangat padat: lengkap, karena sudah mencakup dua tema utama ajaran Agama Islam yaitu Rabb Alamin dan manusia; sangat padat, karena dinarasikan hanya dalam tujuh kata. Ketepatan definisi Schuon lebih jelas terlihat dalam uraiannya yang juga sangat padat mengenai dua kalimat kunci itu: “Tuhan apa adanya (God as such)”, dan “manusia apa adanya (man as such)”. Mengenai yang pertama Schuon memaknainya sebagai Dia yang Mutlak dalam diri-Nya, suatu makna yang tersirat dalam misteri kata hua[2]. Mengenai yang kedua dia merujuk pada manusia yang secara normatif sesuai dengan cetak-biru penciptanya, manusia yang belum “tercemari” oleh perdaban  modern. Tulisan ini memfokuskan pada makna manusia dalam pengertian ini yang oleh Nasr disebut sebagai Homo Islamicus[3].

Manusia Modern: Antropomorfisme

Makna Homo Islamicus tersirat dari perbandingkannya dengan Manusia Modern[4]. Sayangnya, istilah yang terakhir ini tidak mudah didefinisikan karena dua hal. Pertama, kita berada di dalam dunianya sehingga diperlukan refleksi untuk memahaminya dengan cara mengambil jarak kognitif. Kedua, diskusi mengenai modernitas pada umumnya memiliki tema tertentu (tematis) dalam pengertian bersifat sepotong-sepotong (parsial) sehingga jika dilihat secara keseluruhan tema modernitas akan tampak sangat beragam dengan rentang mulai dari dunia kekinian (contemporary) sampai hanya sekadar istilah sederhana seperti “inovatif” atau “kreatif”. Prinsip dasar atau nilai kebanaran ultimanya jarang sekali didiskusikan. Kelangkaan dalam hal kejelasan, ketepatan dan ketajaman mengenai prinsip dasar dan kebenaran ultima semacam ini sering kali menyebabkan diskusi mengenai modernitas –khususnya jika dikaitkan dengan agama– menjadi “panas”, emosional, dan kurang produktif. Kelangkaan semacam ini yang justru khas dalam arus-utama cakrawala pikir manusia modern

Kekecualian dari arus-utama dalam konteks ini adalah mazhab pemikiran tradisional[5]. Bagi mazhab ini modernitas tidak ada kaitannya dengan kekinian, kebaharuan (up-to-date), atau keberhasilan “menaklukkan” atau mendominasi dunia alamiah. Bagi mereka modern berarti segala sesuatu yang, seperti dinarasikan oleh Nasr[6],

… cut off from the transcendent, from the immutable principles which in reality govern everything and which are made known to man through revelation in its most universal sense. Modernism is thus contrasted with tradition (al-din).

… terputus dari yang transenden, dari prinsip-prinsip yang tak- terbantahkan yang dalam realitas mengendalikan semua hal, sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia melalui wahyu dalam pengertiannya yang paling universal. Modernisme dengan demikian berbeda dengan tradisi (agama).

Apanya yang terputus? Yang terputus adalah keajekan dalam cara pandang dunia (worldview), khususnya mengenai posisi manusia di dalam jagat raya kesadaran. Menurut Nasr, selama “ratusan ribu tahun” hidup di muka bumi manusia mempertahankan tanpa putus pandangannya mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam dilihat sebagai ciptaan dan ayat (Teofani) Tuhan. Pandangan tradisional yang sudah berumur “ratusan ribu tahun ini’ oleh manusia modern “diputus” sejak sekitar abad ke-16[7] dengan menetapkan manusia sebagai satu-satunya kriteria kepastian kebenaran.

Modern thought, …, became profoundly anthropomorphic the moment man was made the criterion of reality. When Descartes uttered “I think, therefore I am” (cogito ergo sum), he placed his individual awareness of his own limited to self as the criterion of existence for certainly the “I” in Decrates assertion was not to be divine “I” who through Hallj exclaimed “I am the Truth (ana’l Haqq), the Divine “I” which according to tradition doctrine alone has the the right to say “I”.

Alam pikiran Modern, …, menjadi sangat antropomorfis dengan menjadikan manusia sebagai kriteria kebenaran. Ketika Descates[8] mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada”, dia meletakan kesadaran individualnya terbatas pada diri sebagai kriteria kepastian; “Aku” dalam penegasan Descartes bukan “Aku” ilahiah sebagaimana yang dikumandangkan Hallaj[9] “Aku adalah Kebenaran”, “Aku” ilahiah yang dalam pandangan tradisional hanya yang berhak mengatakan “Aku”.

Kutipan berikut ini diharapkan dapat memperjelas:

What happened in the post-medieval period in the West was that higher levels of reality became eliminated on both subjective and the objectives domains. There was nothing higher in man than his reason and nothing higher in the objective worlds.

Apa yang terjadi dalam setelah periode kegelapan (yakni sebelum era modern) di Barat adalah bahwa realitas yang lebih tinggi dihilangkan dalam kesadaran subjektif maupun objektif. Tidak ada di dalam manusia yang lebih tinggi dari pada pikirannya dan tidak ada dunia objektif yang lebih tinggi.

Dari dua kutipan di atas jelas mode pemikiran modern memosisikan pikiran manusia (human reason) sebagai satu-satunya acuan kebenaran subyektif maupun obyektif. Ini sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan tradisional yang menganggap lokus dan wadah pengetahuan bukan semata-mata pikiran manusia tetapi Intelek Ilahiah (the Divine Intellect). Seperti ditegaskan Nasr, pengetahuan yang benar bukan didasarkan pada pikiran manusia tetapi pada Intelek milik realitas tingkat supra-manusia yang juga berfungsi memberikan pencerahan kepada pikiran manusia.

Homo Islamicus

Sangat berbeda dengan Manusia Modern, mode pemikiran Homo Islamicus menempatkan wahyu (revelation) dan intuisi intelektual (dhawq, kashf atau shuhud) sebagai lokus dan wadah pengetahuan. Seorang muslim melihat wahyu sebagai sumber utama pengetahuan dan menyadari kemungkinan memurnikan diri sehingga mencapai “pandangan hati” (eye of the heart, ‘ayn al– qalb) yang terletak di pusat keberadaannya, yang memungkinkannya memperoleh visi langsung mengenai realitas “surgawi” (supernal reality). Seperti diungkapkan Nasr, akhirnya, “ia menerima kekuatan pikiran untuk mengetahui tetapi pikiran ini senantiasa terkait dan memperoleh bantuan kekuatan wahyu di satu sisi dan intuisi intelektual di lain sisi”. Matriks berikut ini mempertegas perbedaan mode pemikiran antara Manusia Modern dengan Homo Islamicus.

Matriks: Kontras antara Manusia Modern dan Homo Islamicus

Isu Manusia Modern Homo Islamicus
Evolusi Manusia berevolusi dari ciptaan yang lebih rendah Sekalipun mengandung unsur nabati dan hewani manusia tidak berasal dari ciptaan lebih rendah. Manusia adalah “mahkota” ciptaan (ashraf al-makhluqat): Tuhan YME “meniupkan” ruh-Nya
Kebutuhan Kebutuhan manusia hanya bersifat kebumian (earthly needs). Kebutuhan manusia tidak terbatas pada sesuatu yang terkait dengan kebumian (terrestrial) tetapi kebutuhan lain yang lebih subtil (kebutuhan jiwa dan spiritual), pikiran yang bersumberkan wahyu dan intuisi intelektual.
Peran di bumi Penguasa bumi Memerintah bumi bukan atas nama dirinya tetapi sebagai khalifah-Nya yang dituntut pertanggung-jawaban. Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Sumber pengetahuan Pikiran dalam pengertian sempit (reason) Pikiran tetapi dalam pengertian luas (sesuai dengan kata fikr dalam Bahasa Arab) yang terkait dengan meditasi dan kontemplasi, tidak semata-mata pikiran murni.
Terminal terakhir Bumi sebagai terminal akhir perjalanan Hidup di bumi sekadar singgah dalam perjalanan ke terminal akhir yang sangat jauh.
Sumber: Diadaptasi dari Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan tajam antara mode pemikiran modern dan mode pemikiran Homo Islamicus. Bagi yang pertama, manusia dianggap sebagai bebas dari “surga”, menguasai sepenuhnya takdirnya, terikat tetapi juga penguasa bumi. Bagi yang kedua, manusia tidak sepenuhnya bebas dari “surga”, tidak sepenuhnya menguasai takdirnya, dan bukan sepenuhnya penguasa bumi. Demikian tajam perbedaan itu sehingga sangat sulit (kalau tidak mustahil) mengharmonikan keduanya.

Sinopsis: Ditinjau dari cara pandang dunia (worldview) dan mode pemikiran, Homo Islamicus dan manusia modern berbeda secara mendasar. Upaya mengharmonikannya sangat sulit kalau tidak mustahil dilakukan. Wallahualam …@

homo1

[1] World Wisdom Books, Inc. (1998). Nama lengkap Schuon adalah Frithjof Schuon (18/6/1907 – 5/5/1998); juga dikenal dengan nama Islamnya yaitu  Īsā Nūr al-Dīn.

[2] Misteri kata hua dapat diihat dalam bukunya yang berjudul Transfigurasi Manusia. Versi sederhananya dapat dilihat dalam https://uzairsuhaimi.blog/2017/04/21/tiga-puisi-misteri/

[3] Lihat Sayyid Nasr dalam “Reflection on Islam and Modern Life”, online library articles, http://www.worldwisdom.com. Semua kutipan Nasr dalam artikel ini merujuk pada artikel yang berjudul itu. Tulisan ini merupakan penyempurnaan tulisan serupa sebelumnya yang berjudul Homo Islamicus yang juga disajikan dalam blog ini tetapi sayangnya tidak bisa lagi diakses secara sempurna (corrupted).

[4] Kata modern pertama kali digunakan 1585 terkait dengan, atau ciri dari kekinian atau masa lalu yang belum lama (contemprary); atau melibatkan teknik, metode, atau ide baru (up-to date) (www.merriam- webster/dictionary).

[5] Istilah tradisional digunakan di sini sekadar untuk memudahkan. Istilah yang lebih tepat mungkin mazhab perenialis yang dipopulerkan oleh Schuon. Mazhab ini mengedepankan hakikat kebenaran abadi yang tanpa bentuk tetapi kemudian diberi “bentuk tertentu” oleh suatu agama dan tradisi.

[6]  Seyyed Hossein Nasr (1983), “Reflections on Islam and Modern Thought”, Studies in Comparative Religion, Vol. 15, No. 3 & 4. (Summer-Autumn, 1983). © World Wisdom, Inc. http://www.studiesincomparativereligion.com.

[7] Era modern dimulai kira-kira abad ke-16; jadi, belum lama (baru sekitar setengah milenium yang lalu) dalam rentang sejarah panjang umat manusia. Era ini diawali oleh peristiwa kejatuhan Konstantinopel tahun 1153, kejatuhan Muslim Spanyol dan penemuan Benua Amerika tahun 1992, dan reformasi Protetan Luther tahun 1517 (www.wikipedia/wiki/Modern_history).

[8] Pada tataran filosofis Descartes dapat dianggap sebagai “Nabi” manusia modern.

[9] Hallaj adalah tokoh sufi yang dihukum pancung karena perkataannya oleh para ulama ketika itu dianggap terlalu subtil untuk dapat dipahami oleh orang awam sehingga “berbahaya” bagi umat.

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Syarïa, Haqïqa dan Tharïqa

Agama Islam mencakup aspek syarï’a dan aspek haqïqa, aspek luar (exoterism) dan aspek dalam (esoterism). Syarï’a secara harfiah berarti “jalan besar” (“great way”), jalan yang diperuntukkan bagi seluruh lapisan umat tanpa kecuali, jalan “lebar” yang dapat dilalui semua individu, tanpa melihat perbedaan mentalitas atau kapasitas intelektual-spiritual. Berbeda dengan syarï’a, haqïqa yang secara harfiah berarti “kebenaran batini” (inward truth) disediakan khusus bagi kalangan elit karena alasan sederhana: tidak semua orang memiliki bakat kecerdasan (aptitude) atau kualifikasi yang diperlukan untuk menjangkau kebenaran batini itu.

Tulisan ini dimaksudkan untuk meninjau secara singkat hubungan antara kedua istilah itu. Sebagai catatan awal, sebenarnya banyak kitab klasik yang membahas masalah ini; walaupun demikian, karena kita tidak akrab dengan rasa bahasa yang digunakan oleh para pengarangnya– dalam tulisan ini kita merujuk pada karya Guénon (15 November 1886 – 7 Januari 1951) yang bernama lengkap René-Jean-Marie-Joseph Guénon dan dikenal luas dengan nama ʿAbd al-Wāḥid Yaḥyá.

Pusat Lingkaran

Sebagian kalangan sufi menggunakan analogi “qishr” atau “kulit” (“shell”) untuk syarï’a dan “lubb” atau “inti” (“kernel”) untuk haqïqa. Sebagian kalangan sufi lainnya menggunakan analogi lingkaran (circle) untuk yang pertama dan pusat (center) untuk yang kedua. Seperti halnya pusat lingkaran yang bukan merupakan unsur tambahan dalam suatu lingkaran, demikian juga haqïqa bukan merupakan sesuatu yang ditambahkan pada syarï’a.

Jika syarï’a utamanya adalah suatu aturan bertindak, maka haqïqa adalah kebenaran murni dan raison d’être syarï’a sebagaimana diungkapkan oleh Guénon[1]:

It could be said that syarï’a is first and foremost a rule of action, whreas the haqïqa is pure knowledge; but it must be well understood that it is this knowledge that gives even the syarï’a its higher and deeper meaning and its raison d’être, so that even though not all those participating in the religion are aware of it, the haqïqa is nevertheless its true principle, just the center is the principle of the circumference.

Bisa dikatakan bahwa syarï’a adalah peraturan tindakan yang pertama dan terutama, sementara haqiqah adalah pengetahuan murni. Sekalipun demikian harus dipahami dengan baik bahwa pengetahuan inilah yang bahkan memberikan syarï’a makna yang lebih tingi dan lebih dalam, dan alasan keberadaannya, raison d’être-nya, sehingga walaupun tidak semua orang yang berpartisipasi dalam agama mereka sadar akan hal itu: haqiqa adalah prinsip syari’a yang sebenarnya, seperti halnya titik pusat dari suatu lingkaran.

Analogi lingkaran dan pusat secara meyakinkan menunjukkan sifat ke-tak-terpisah-an antara syarï’a dan haqïqa: per definisi, lingkaran menghendaki keberadaan satu (dan hanya satu) pusat lingkaran. Analogi itu menarik untuk disimak lebih lanjut. Selain itu, semua titik dalam lingkaran dapat terhubung dengan pusat melalui jari-jari (radii) yang dalam terminilogi sufi dikenal dengan istilah tarïqa yang secara harfiah berarti “jalan” (“way” atau “path”). Jumlah jari-jari itu tidak terhingga dan ini mengilustrasikan banyaknya jalan menunju kebenaran batini: “jalan menuju Allah berjumlah sebanyak jiwa manusia” (“at-turuqu ila ‘Llahi ka-nufusi bani Adam”). Istilah turuq (jamak dari tariqa) pada dasarnya menujukkan perbedaan metodologi tanpa kemungkinan adanya perbedaan doktrin yang fundamental. Kenapa tanpa kemungkinan itu? Karena keunikan doktrin Tauhid (at-tawhidu wahid).

Tasawwuf

Istilah tasawwuf yang mencakup haqïqa dan tarïqa merepresentasikan aspek esoterisme dalam Agama Islam. Istilah itu memiliki akar kata süfï yang menurut Guénon perlu dilihat sebagai nama simbolis, tanpa perlu terjebak dalam kerumitan etimologis kata itu[2]. Menurut dia, makna utama dan fundamental kata itu dapat diperoleh dengan menghitung nilai numeriknya. Hasil perhitungan menunjukkan jumlah nilai kata süfï sama dengan kata hikmah ilahi dan ini mengisyratkan bahwa kedua kata itu secara maknawi identik[3]:

But given the character of the Arabic language (a character which it shares with Hebrew), the primary and fundamental meaning of a word is to be found in the numerical values of the letters; and in fact, what is particularly remarkable is that the sum of the numerical values of the leters which from the word süfï has the same number as al-Hikmatu’l-ilahiya, “Divine Wisdom”.  The true süfï is therefore the one who possess this Wisdom, or, in other words, he is al’arif bi’Llïh, that is to say “he who knows through God”, for God cannot be known except by Himself; and this is the supreme or “total” degree of knowledge or haqïqa.

Tapi mengingat karakter bahasa Arab (karakter yang sama dengan bahasa Ibrani), makna dasar dan mendasar sebuah kata dapat ditemukan dalam nilai numerik huruf; faktanya, apa yang luar biasa adalah bahwa jumlah nilai numerik dari huruf dalam kata süfï memiliki jumlah yang sama dengan al-Hikmatu’l-ilahiya, “Hikmat Ilahi”. Süfï sejati adalah orang yang memiliki Kebijaksanaan ini, atau, dengan kata lain, dia adalah al’arif bi’Llïh, artinya “dia yang tahu melalui Tuhan”, karena Tuhan tidak dapat diketahui kecuali oleh diriNya sendiri; dan ini adalah tingkat tertinggi atau “total” dari pengetahuan atau haqïqa.

Kembali kepada analogi lingkaran_pusat, catatan berikut layak dicermati. Secara teoritis adalah mungkin ada banyak lingkaran yang memiliki pusat yang sama. Fakta geomteris ini menunjukkan kemungkinan banyak syarï’a yang memiliki haqïqa yang sama. Kemungkinan ini secara ekplisit disebutkan dalam ayat al-Qur’an ketika menjelaskan keunikan pesan Tauhid (keesaan Allah SWT) risalah kerasulan semua rasul-Nya, paling tidak sejak Nabiyullah Ibrahim A.S: masing-masing mengusung syarïa sendiri tetapi dengan pesan Tauhid yang sama[4]. Al-Qur’an juga secara eksplisit memerintahkan untuk mengedepankan kesamaan haqïqa ini (kalimatun sawää) dalam menyikapi fakta keragaman syarï’a khususnya dari kalangan Ahli-Kitab:

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah… (Al-Imran: 64).

Pertanyaan retrospektif bagi internal Umat: Jika perbedaan antar-syarïa perlu disikapi dengan mengedepankan faktor kesamaannya (kalimatun sawaa), bagaimana menyikapi keragaman tarïqa atau “sekte” (misalnya Suni v.s Syiah) yang berinduk pada syarïa yang sama? Allahummagfir-lanaa-khathaayaanaa …@


[1] Bagi Guénon, kajian etimologis mengenai kata sufi terlalu banyak dengan kewajaran yang sama (padahal logisnya hanya satu yang benar). Dengan demikian, kajian itu tidak dapat diharapkan akan menghasilkan kesimpulan final yang memuaskan.

[2] www.worldwisdom.com/public/library/defaults.aspx (halaman 89).

[3] www.worldwisdom.com/public/library/defaults.aspx (halaman 91).

[4] Al-Baqarah 133.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Ayat Korupsi

Ayat Korupsi[1]

Syahwat Harta

Tidak ada negara yang tidak berupaya mencegah praktik korupsi. Tidak ada agama yang tidak mengutuk perilaku korupsi. Agama mungkin berbeda dalam hal perumusan ajaran teologis tetapi sama dalam hal semangat memerangi korupsi karena sifatnya yang sangat merusak tatanan masyarakat dan diakui luas sebagai “ibu” dari berbagai macam penyakit sosial (social evil), khususnya ketimpangan ekonomi. Lalu kenapa korupsi tetap merajalela? Jawaban singkatnya adalah karena kebanyakan kita tidak mampu mengendlikan syahwat harta yang melekat dalam sisi gelap kita, nafsu untuk memperoleh kekayaan material sebanyak-banyaknya dan berbangga dengan itu. Dalam frase qur’ani (102:1-2), syhawat itu, tidak akan berakhir “sampai kamu masuk dalam kubur”.

Penulis yakin banyak teks suci agama atau tradisi besar di luar Islam yang berbicara serius mengenai penyakit sosial yang satu ini. Dalam konteks Islam, teks suci itu mengenai korupsi dalam arti luas, dapat ditemukan antara lain dalam Surat al-Baqarah Ayat 188. Ayat ini yang dicoba dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Posisi Ayat.

Menarik utuk dicatat, posisi ayat ini terletak setelah ayat mengenai puasa (ayat 183-187), bentuk ibadah yang mendidik umat untuk dapat mengendalikan syhawat makanan, sebagai upaya mencapai derajat taqwa. Posisi ayat ini bagi penulis mengesankan ajaran bahwa untuk mencapai derajat ideal (taqwa) seseorang tidak cukup hanya dengan mengendalikan syahwat makanan tetapi harus diikuti oleh mengendalian syahwat harta, syahwat yang men-trigger praktek korupsi.

Menarik juga untuk dicatat, posisi ayat ini terletak sebelum ayat hajji (ayat 189-203), ibadah puncak dalam rukun Islam. Posisi ini bagi penulis mengisyaratkan bahwa ibadah haji tidak boleh menggunakan harta hasil korusi tetapi juga mengajarkan bahwa kita tidak layak bertemu dengan-Nya di padang mahsyar (yang diiulstrasikan oleh ritual berkumpul di padang Arafah) apalagi berada di sekitarat-Nya (diilustrasikan oleh ritual tawaf ifadah). Wallahu’alam.

Fungsi Sosial Harta

Ayat korupsi itu dimulai dengan larangan memakan harta: “Dan janganlah kamu makan hartamu di antaramu secara batil” (“Walaa ta’kuluu amwaalakum bil baathil…”). Ada tiga catatan penting mengenai potongan ayat ini:

  1. Istilah makan di sini tentu tidak hanya bermakna harfiah, “makan”, tetapi juga “memperoleh” dan “menggunakan”, atau menggunakan istilah teknis ekonomi, “mengkonsumsi” (makanan atau non-makanan);
  2. Istilah batil, menurut frase Qur’ani, mengandung dua makna: salah (sebagai lawan kata haqq[2] dan tanpa tujuan[3] (tanpa makna, berlebihan, iseng); dan
  3. Redaksi “di anatara kamu” (“bainakum”) mengisyaratkan fungsi sosial harta.

Mengenai yang terakhir ini Syihab memberikan ilustrasi[4]:

Harta yang dimilki oleh si A hari ini, dapat menjadi milik B esok. Harta seharusnya memiliki fungsi sosial, sehingga sebagian di antara apa yang dimiliki si A seharusnya dimiliki pula oleh B, melalui zakat maupun sedekah.

Singkatnya, Islam tidak mengizinkan harta pribadi secara eksklusif. Dalam konteks ini peran “hakim” (pemerintah) sangat penting dalam hal pengelolaan hak “pribadi” untuk menghindari gesekan sosial yang sangat mudah dipicu karena perbedaan kekayaan antar masyarakat.

Perilaku Korupsi

Potongan berikutnya dari ayat korupsi ini, hemat penulis, terkait dengan kekayaan negara, “harta manusia” dalam istilah Quani[5]:

… dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.

wa tudluu bihaa ilal hukkaami lita’kuluu fariqan min anwaalin annaas wa awantum ta’lamuun.

Terjamahan the Wisdom[6] terhadap frase “tudluu bihaa ilal hukkaami“ tampaknya lebih sesuai dengan situasi kontemporer paling tidak di Indonesia: “menyuap para hakim”. Ayat Korupsi sebagaimana tercantum dalam al-Baqarah 188 adalah sebagai berikut:

korupsi102

Makna lain potongan terakhir ayat ini menurut Syihab adalah sebagai berikut:

… dan janganlah menyerahkan harta kepada hakim yang berwenang memutuskan perkara bukan untuk tujuan memperoleh hak kalian, tetapi untuk mengambil hak orang lain dengan melakukan dosa, dan dalam keadaan mengetahui bahwa kalian sebenarnya tidak berhak”

Bagi penulis, dalam konteks ke-Indonesiaan kontemporer, kata hakim dalam ayat di atas dapat merujuk kepada yang menyandang profesi sebagai hakim, anggota dewan (semoga tidak termasuk anggota DKM), atau mungkin lebih jelas, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Yang terakhir ini dalam lembaga pemerintahan biasanya berkedudukan sebagai kepala lembaga atau pembantunya.  “Menyerahkan urusan” mungkin dapat diterjemahkan sebagai upaya “memanipulasi data atau keadaan” sedemikian rupa agar KPA memberikan izin untuk menggunakan “kekayaan negara” untuk kepentingan pribadi atau kelompok (korupsi berjamaah).

Naudzubillah min dzalik.…@

korupsi1

Sumber gambar: Google

[1] Tulisan ini diilhami oleh Khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ali Khan yang bertajuk A Quranic Lesson in Religious Psychology: https://www.youtube.com/watch?v=S_spaSigisY

[2] Waqul jaaal haqqa wazahaqal baathila (Al-Isra:81).

[3] “Wama khalaqna assamaawaati wal ardha wamaa bainahuma baathila.. (ayat).

[4] M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 1: 413

[5] Shihab, ibid

[6] The Wisdom, Al-Mizan (2014: 58).

Catatan Akhir Tahun 2016: Catatan Bencana Alam dan Tragedi Kemanusiaan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tahun 2016 hampir berlalu yang bagi sebagian besar kita meninggalkan sejumlah kenangan manis maupun pahit; tahun 2016 mengantarkan kita ke tahun 2017 dengan yang bagi sebagian besar kita mengandung sejumlah harapan atau kecemasan. Frase “bagi sebagian besar kita” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil kita yang menduduki maqam atau kondisi-permanen spiritual istimewa, sedemikian istimewanya sehingga “bau” duniawi yang menggembirakan atau menyedihkan tidak berpengaruh terhadap kondisi jiwanya. Kalangan elitis ini “senantiasa berada dalam keadaan salat (“pray without ceasing[1]) atau tenggelam dalam dzikir. Maqam istimewa ini masih terlalu jauh bagi penulis dan mungkin bagi sebagian besar kita.

Sekalipun belum berada pada maqam istimewa, kita masih dapat berharap cukup bijak untuk dapat melihat masa lalu tidak hanya sekadar kenangan, tetapi juga ladang pembelajaran untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang akan datang. Hasilnya yang diharapkan: keadaan, capaian atau prestasi individual masing-masing kita pada tahun 2017 lebih baik dari pada tahun 2016 (I2017> I2016). Jika tidak, konon menurut Ali RA, kita “merugi” (I2017= I2016) atau bahkan “celaka” (I2017< I2016). Inilah yang pantas dijadikan sasaran “proyek 2017” bagi masing-masing kita secara individual. Di luar proyek individual tentu kita juga memiliki juga proyek kolektif yang bersifat global. Sasaran yang pantas dari proyek global adalah mengatasi sejumlah “warisan” tahun 2016 berupa sejumlah dampak bencana alam dan tragedi kemanusiaan.

Bencana Alam

Tahun 2016 menyaksikan sejumlah bencana alam yang berada di luar jangkauan kita untuk mencegahnya. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gempa baru-baru ini (6 Desember 2016) di Kabupaten Sigli dengan intensitas maksimum berkategori IX (violent, sangat parah): 245 bangunan runtuh, 990 terluka (136 diantaranya serius) dan 104 meninggal dunia. Bencana Sigli sama-sekali bukan satu-satunya gempa yang terjadi tahun ini: dilaporkan, sepanjang 2016 terjadi 15,711 gempa. (Angka ini catatan sampai 16 November 2016 sehingga tidak mencakup bencana Sigli[2].) Wilayah yang terkena gempa tahun ini mencakup semua benua. Luasnya cakupan bencana diilustrasikan oleh Tabel 1 yang mendaftar bencana yang terjadi bulan terakhir tahun ini[3].

Mengenai bencana alam ada dua pertanyaan retrospektif yang layak diajukan: (1) Apakah taraf iptek kontemporer sudah dapat mengantisipasi bencana semacam yang terjadi di Sigli? (2) Apakah bencana alam “murni alamiah” dalam arti tanpa “campur tangan” Dia_yang_Maha_Tinggi? Untuk pertanyaan pertama agaknya kita perlu memberikan jawaban negatif. Untuk yang kedua, kebanyakan kita mungkin cenderung menjawab positif: murni alamiah, tanpa keterlibatan Tuhan. Walaupun demikian, penulis yakin sebagian kecil dari kita meyakini keterlibatan Tuhan dalam setiap bencana alam sekalipun tidak memahami sepenuhnya hikmah dari kebijaksanaan-Nya: mereka tidak mempertanyakannya; bilaa kaifa, kata kalangan santri.

Tragedi Kemanusiaan

Tahun 2016 juga menyaksikan sejumlah tragedi kemanusiaan yang menyayatkan hati (sejauh kita masih memiliki hati). Faktor yang melatar belakanginya bemacam-macam, mulai dari fenomena el-nino, sampai pada konflik antar suku, ideologi atau faksi-keagamaan. Hebatnya, faktor latar belakang itu memiliki efek domino yang berkepanjangan. Sebagai ilustrasi, fenomena el-nino –khususnya di negara-negara berkembang dengan tingkat teknologi pertanian yang masih banyak-mengandalkan-kebaikan-alam– akan menyebabkan bencana kekeringan yang parah yang pada gilirannya menurunkan secara drastis produksi pangan serta meningkatkan harga pangan sehingga tidak terjangkau bagi kebanyakan. Sebagai ilustrasi lain, konflik antar faksi keagamaan menyebabkan perang saudara dan kekacauan politik dalam negeri sehingga mendorong migrasi masif antar negara bahkan antar benua.

Menurut Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), kebanyakan orang yang bekerja di lembaga bantuan meyakini bahwa tahun 2016 memberikan warisan pada tahun 2017 dengan meningkatnya kebutuhan bantuan kemanusiaan. Diperkirakan, belasan negara akan membutuhkan bantuan kemanusiaan dengan “harga” sekitar $20.1 milyar:

There’s one prediction for 2016 that most aid workers can make with confidence – that the new year will usher in rising humanitarian needs. Besides displacement caused by long-term conflicts in places like Syria and South Sudan, there is also the threat of more violence in the Central African Republic and hunger caused by El Nino, which is expected to bring more drought to already-parched southern regions in Africa and potential flooding in the east. The United Nations projects that at least 87 million people in dozens of countries will require humanitarian aid next year, and is seeking a record $20.1 billion to meet their needs.

Ada satu prediksi untuk 2016 yang diyakini oleh sebagian besar pekerja bantuan bahwa tahun baru kebutuhan bantuan kemanusiaan akan meningkat. Selain untuk pengungsian yang disebabkan oleh konflik berkepanjangan di wilayah-wilayah seperti Suriah dan Sudan Selatan, juga untuk ancaman kekerasan lainnya di Republik Afrika Tengah dan kelaparan yang disebabkan oleh El Nino yang diperkirakan membawa kekeringan lebih parah di kawasan selatan yang sudah kering di Afrika dan potensi banjir di kawasan timur. PBB memperkirakan setidaknya 87 juta orang di berbagai negara akan memerlukan bantuan kemanusiaan tahun depan, dan mencari rekor $ 20,100,000,000 untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Upaya untuk mengumpulkan dana sebesar $20.1 milyar merupakan tantangan besar karena konon secara psikologis kita cenderung “tidak peduli” dengan tragedi kemanusiaan yang bersifat masif: kita lebih prihatin dengan yang satu dari pada yang banyak. Dalam hal ini menarik untuk disimak tulisan David Ropeik yang berjudul agak provokatif: “Statistical Numbing: Why Millions Can Die and We Don’t Care[4]”. Dalam tulisan ini Ropeik mengutip ungkapan Paul Slovic yang menilai kecenderungan kita ini sebagai “cacat fundamental dalam kemanusiaan kita” (“a fundamental deficiency in our humanity“), cacat yang menyebabkan kita tidak peduli, mengetahui tetapi tidak bertindak memadai, untuk mencegah terjadinya penderitaan masif dan genosida di Kongo atau Kosovo atau Kamboja atau banyak yang lainnya. Dalam tulisan yang sama Ropeik mengutip ucapan Theresia dan Stalin: (1) Ibu Theresa: “If I look at the mass I will never act. If I look at the one I will”, dan (2) Stalin: “One death is a tragedy. One million is a statistic”. 

Seperti terungkap dalam Laporan Forum Ekonomi Dunia sebagaiman tercantum dalam kutipan di atas, tragedi kemanusiaan tampaknya tidak hanya akan “berlanjut” di kawasan Syria seperti yang memperoleh perhatian media masa, tetapi juga di Yaman dan kawasan Afrika yang sejauh ini kurang memperoleh perhatian media masa. Baru-baru ini, Yayasan Thomson Reuters melakukan jajak pendapat terhadap lembaga bantuan dunia yang utama. Masing-masing mereka diminta menyebutkan tiga prioritas kemanusiaan tahun 2016 yang paling penting. Hasilnya, tidak mengagetkan: Syria berada dalam puncak daftar keprihatinan mereka. Hal ini dapat dipahami karena, seperti yang diungkapkan lembaga Vatikan kepada Lembaga Hak Azai Manusia PBB, setelah berlangsung lima tahun, perang di Syria menimbulkan “perasaan yang tanpa saya di depan tragedi yang tanpa akhir” ( “feeling of helplessness in front of an endless human tragedy”)[5].

Ringkasan hasil jajak pendapat oleh yayasan itu disajikan pada Tabel 2. Catatan menarik yang diungkapkan tabel itu antara lain bahwa bahwa di luar Syria dan Yaman, sejumlah kawasan di Afrika juga berada dalam daftar puncak keprihatinan lembaga bantuan dunia. Isu-isu spesifik dari tragedi kemanusiaan menurut keprihatinan lembaga-lembaga bantuan itu ternyata sangat bervariasi dan hal ini menggambarkan luasnya spektrum tragedi kemausiaan sebagaimana diungkapkan oleh Tabel 3. Mengingat intensitas dan luas spektrum tragedi kemanusiaan 2016 yang dampaknya diduga masih akan kita hadapi tahun depan, maka tahun 2017 akan menjadi saksi nilai kesalehan sosial kita, nilai yang sejauh pemahaman penulis merupakan salah satu inti ajaran agama-agama besar, diukur dengan prestasi kita secara kolektif dalam merespon bencana dan tragedi itu. Wallahu’alam  …..@

Tabel 1: Gempa Desember 2016

  1. A magnitude 5.2 earthquake struck Costa Rica 6 km (3.7 mi) east northeast of Cartago on December 1 at a depth of 5.0 km (3.1 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[236] The earthquake caused landslides and damaged some homes, forcing at least 5 families to move to a community centre.[237]
  2. A magnitude 6.3 earthquake struck Peru 43 km (27 mi) northeast of Huarichancara, Puno Region on December 1 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[238] At least 40 houses in Lampa Province were damaged, with some suffering total collapse. One person died and 17 others were injured.[239]
  3. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States 53 km (33 mi) south of Shemya Island, Alaska on December 3 at a depth of 26.9 km (16.7 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[240]
  4. A magnitude 6.3 earthquake struck Indonesia 148 km (92 mi) north northeast of Palu’e Island, East Nusa Tenggara on December 5 at a depth of 526.0 km (326.8 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).[241]
  5. A magnitude 6.5 earthquake struck Indonesia 19 km (12 mi) southeast of Sigli, Aceh on December 6 at a depth of 8.2 km (5.1 mi). The shock had a maximum intensity of IX (Violent). About 245 buildings collapsed as a result of the quake. 104 people were killed and over 900 were injured,[243] of which 136 suffered serious injuries.
  6. A magnitude 5.9 earthquake struck China 57 km (35 mi) south southeast of Shihezi in the Xinjiang Autonomous Region on December 8 at a depth of 13.7 km (8.5 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[245] Two people were injured, and 25 houses suffered damage in Ürümqi region.
  7. A magnitude 6.5 earthquake struck offshore of the United States 160 km (99 mi) west of Ferndale, California on December 8 at a depth of 12.1 km (7.5 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[247]
  8. A magnitude 7.8 earthquake struck the Solomon Islands 69 km (43 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 41.0 km (25.5 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[248] Tsunami waves up to 5.0 cm (2.0 in) were measured in New Caledonia and Vanuatu.[249] More than 200 buildings in the southern part of Malaita were damaged and buildings collapsed in Makira; more than 7,000 people were affected by the quake. An eleven-year-old girl died when a building collapsed.
  9. A magnitude 6.5 earthquake struck the Solomon Islands 79 km (49 mi) west southwest of Kirakira on December 8 at a depth of 14.7 km (9.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[253] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  10. A magnitude 4.4 earthquake struck Croatia 3 km (1.9 mi) east of Trogir, Split-Dalmatia county on December 9 at a depth of 21.9 km (13.6 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[254] The quake caused minor damage in the form of cracked walls and broken windows.[255]
  11. A magnitude 6.9 earthquake struck offshore of the Solomon Islands 94 km (58 mi) west southwest of Kirakira on December 9 at a depth of 20.6 km (12.8 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong).[256] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  12. A magnitude 6.1 earthquake struck Papua New Guinea 131 km (81 mi) west northwest of Arawa, Bougainville on December 10 at a depth of 157.1 km (97.6 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[257]
  13. A magnitude 6.0 earthquake struck offshore of the United States trust territory of the Northern Mariana Islands 97 km (60 mi) north northwest of Farallon de Pajaros on December 14 at a depth of 27.6 km (17.1 mi). The shock had a maximum intensity of III (Weak).
  14. A magnitude 7.9 earthquake struck Papua New Guinea 46 km (29 mi) east of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 103.2 km (64.1 mi). The shock had a maximum intensity of VIII (Severe).[259] Though tsunami waves up to 8.0 cm (3.1 in) were measured[260] and power was knocked out in some parts of the country, no reports of injuries or damage were reported.[261]
  15. A magnitude 6.3 earthquake struck offshore of Papua New Guinea 169 km (105 mi) southeast of Taron, New Ireland on December 17 at a depth of 35.9 km (22.3 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).[262] This was an aftershock of the 7.9 quake.
  16. A magnitude 6.0 earthquake struck the Solomon Islands 83 km (52 mi) west northwest of Kirakira on December 18 at a depth of 39.1 km (24.3 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).[263] This was an aftershock of the 7.8 quake.
  17. A magnitude 6.1 earthquake struck the Federated States of Micronesia 24 km (15 mi) east southeast of Ngulu Atoll on December 18 at a depth of 13.2 km (8.2 mi). The shock had a maximum intensity of IV (Light).
  18. A magnitude 6.4 earthquake struck Peru‘s Ucayali Region 201 km (125 mi) south of Tarauaca, Brazil on December 18 at a depth of 619.4 km (384.9 mi). The shock had a maximum intensity of II (Weak).
  19. A magnitude 5.4 earthquake struck Ecuador 14 km (8.7 mi) south southwest of Propicia, Esmeraldas Province on December 19 at a depth of 10.0 km (6.2 mi). The shock had a maximum intensity of VI (Strong).[266] This earthquake damaged houses, hotels, and caused some landslides in Atacames. Three people died and 47 others were injured.
  20. A magnitude 6.4 earthquake struck the Solomon Islands 80 km (50 mi) west northwest of Kirakira on December 20 at a depth of 11.3 km (7.0 mi). The shock had a maximum intensity of VII (Very strong). This was an aftershock of the 7.8 quake.
  21. A magnitude 6.7 earthquake struck offshore of Indonesia 278 km (173 mi) east northeast of Dili, East Timor on December 21 at a depth of 151.5 km (94.1 mi). The shock had a maximum intensity of V (Moderate).

Sumber: Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016

Tabel 2: Wilayah-wilayah Tragedi Kemanusiaan

Lembaga Bantuan Afrika Tengah Sudan Selatan Afrika lainnya Syria Yamen Wilayah lainnya
(1) Action against Hunger V Semenan-jung Afrika V
(2) ActionAid V Afrika Timur dan Selatan V
(3) Americares Afrika Barat V Kepulauan Pacifik
(4) Care International V V (El-Nino) V V
(5) Catholic Relief V V V (El-Nino)
(6) Cordaid V V V
(7) Danish Refugee Council V V Eropa
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) Burundi Israil dan wilayah penjajahan dan Afgha-nistan
(9) International Medical Corps (IMC) Semenan-jung Afrika dan Brundi V V
(10) Mercy Corp V V Nigeria Utara
(11) Norwegian Refugee Council V Wilayah Sahala V
(12) Plan International Ethiopia, Afrika bagian Selatan dan Brundi
(13) Save the Children V Ethiopia V
(14) Sightsavers V V Congo, dan Chad V
(15) World Vision UK V Congo V

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

Table 3: Frase Keprihatinan Lembaga-lembaga Bantuan Dunia

Lembaga Frase Keprihatinan
(1) Action against Hunger “Central African Republic is a forgotten humanitarian crisis which is not making the front pages despite the violent conflict that has left over half the population in dire need of assistance. An alarming number of children are at risk of life-threatening malnutrition. As violence continues, access for aid workers is ever more restricted and food, water, and medical supplies in short supply,” said Juliet Parker, director of operations, Action Against Hunger UK.
(2) ActionAid “Climate, conflict and humanitarian crises continue to affect the lives of the poorest women and children in the world,” said Mike Noyes, ActionAid’s head of humanitarian response.
(3) Americares “Health system strengthening in west Africa is one of our top priorities for 2016. We need to ensure the health systems in these countries are not only prepared for the next major health emergency but are also better equipped to deal with everyday health crises,” said Garrett Ingoglia, vice president of emergency response.
(4) Care International “CARE continues to deepen its efforts (in the Middle East) to provide basic services to try to help people caught up in these conflicts, including housing, cash, water and sanitation. We also support government systems in neighboring countries hosting Syria refugees and partner with other INGOs to provide essential services to those most in need,” said Barbara Jackson, humanitarian director.
(5) Catholic Relief “We’re currently witnessing levels of food shortage that could turn into a full-blown humanitarian crisis not seen in Ethiopia since 1985,” said Jennifer Poidatz, vice president, humanitarian response department.
(6) Cordaid “In this rapidly changing world, you have to continuously reinvent yourself in order to achieve maximum social impact with limited resources. For us that means creating opportunities for everyone where the need is greatest as a result of war and natural disaster,” said Simone Filippini, CEO.
(7) Danish Refugee Council “In Europe refugees are crossing the Mediterranean in a scale, we haven’t seen before. We never imagined in the Danish Refugee Council that we would be required to operate in countries within the EU. At the same time we believe that this is a political crisis, and it is, therefore, essential to push for the EU to find a political solution to this,” said Ann Mary Olsen, international director.
(8) International Committee of the Red Cross (ICRC) “In addition to the crises widely covered in 2015, next year on my radar will be Burundi (and the Great Lakes area), Israel and the Occupied Territories and Afghanistan,” said Dominik Stillhart, director of operations at ICRC. “Having worked in Afghanistan for 30 years, we see that the conflict is far from over and civilians continue to pay a heavy price: 2015 was one of the deadliest years since 2001. A deteriorating security situation forces people to leave their homes and seek refuge in neighboring countries or try dangerous routes to Europe,” said Stillhart.
(9) International Medical Corps (IMC) “Sadly, we expect the already dire humanitarian situation in both Syria and Yemen to only worsen, the drought in the Horn of Africa to push food insecurity to a level not seen in decades, and the violence and heightened rhetoric in Burundi could potentially spiral into human tragedy in 2016,” said Rabih Torbay, senior vice president of international operations.
(10) Mercy Corp “Over 4 million Syrians are now registered refugees in other countries, over half of those are children. As 2015 draws to a close, protection and humanitarian aid in Syria have reached a record high, and in the absence of a viable peace, the situation is expected to deteriorate and require even more sustained humanitarian support in the coming year,” said Michael Bowers, vice president for humanitarian leadership and response.
(10) Norwegian Refugee Council “International relief agencies and underestimated local organizations are able to work with most of the needy in most of the not-so-difficult places. But we are still remarkably absent in hundreds of communities across war-torn Syria, Yemen, South Sudan and Central African Republic. Too few organizations are capable of expanding their presence in areas where armed opposition groups or designated terrorist organisations rule over millions of civilians,” said Jan Egeland, Secretary General.
(11) Plan International “Our experience in the 2011 Horn of Africa food crisis, particularly in Ethiopia, (showed) that children and pregnant women are doubly disadvantaged. Plan International will prioritise them through community-based food and nutrition assistance and school-based feeding programmes,” said Roger Yates, director of disasters and humanitarian response.
(12) Save the Children “In Ethiopia, the key concerns for Save the Children are to make sure that food is obtained and delivered to children and their families in the most affected areas to prevent malnutrition, to have rapid life-saving therapeutic feeding for those children who do fall into severe malnutrition and to provide basic access to water in affected communities,” said John Graham, Country Director for Save the Children in Ethiopia.
(13) Sightsavers

 

“It is in the field of the Neglected Tropical Diseases where we are most often in communities facing high levels of chronic insecurity, subject either to long-term conflict or frequent flashpoints,” said Dominic Haslam, director of policy and programme strategy.
(14) World Vision UK

 

“While the Syria crisis sometimes hits the headlines, our work — and the challenges facing hundreds of thousands of refugee families — carries on every day. We’ll continue to provide a huge amount of practical support in Syria and its neighboring countries, and now in Europe,” said Mark Bulpitt, head of humanitarian and resilience.

Sumber: World Economic Forum, https://www.weforum.org/agenda/2015 /12/these-are-the-top-humanitarian-concerns-for-2016/

[1] Judul buku yang diedit oleh Patrick Laude, 2006, World Wisdom. Judul lengkapnya “Pray Without Ceasing: The Way of the Invocation in World Religion”.

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_earthquakes_in_2016.

[3] Ibid

[4] https://www.psychologytoday.com/blog/how-risky-is-it-really/201108/statistical-numbing-why-millions-can-die-and-we-don-t-care

[5] http://visitor.stclouddiocese.net/tag/human-tragedy/