Makna Batiniah Wudu

Istilah wudu (abolition) merujuk pada aktivitas pembasuhan sebagian anggota tubuh tertentu khususnya pada bagian muka, kedua belah tangan sampai siku, dan kedua pasang kaki sampai pergelangan kaki. Secara lahiriah, tindakan pembasuhan itu bersifat fisikal atau duniawi (profan). Walaupun demikian, wudu mengandung makna beyond tindakan profan karena intensi, “niat-ingsun” atau motivasinya adalah membebebaskan, membersihkan atau menyucikan dari dari segala sesuatu yang bersifat tidak suci (hadats). Inilah yang penulis maksdukan dengan “makna batiniah” (the inner meaning) wudu.

Penegasan mengenai makna batiniah wudu dapat dilihat dari praktek para ulama yang melafalkan bacaan-bacaan tertentu ketika membasuh anggota tubuh tertentu ketika berwudu. Sebagai ilustrasi, ketika membasuh kaki, sebagian ulama membaca lafal doa “Allâhumma tsabbit qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillul aqdâmu fin nâri”; yang artinya kira-kira, “Wahai Tuhanku, tetapkan kedua kakiku di atas shirat pada hari ketika banyak kaki manusia terpeleset di api neraka,”[1] Dalam lafal do’a itu tampak bahwa kaki melambangkan keseluruhan jalan hidup kita di dunia ini.

wudhu107

Menurut fikih wudu hukumnya bersifat anjuran (sunat) tetapi menjadi keharusan (wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf). Dengan berwudu seseorang menjadi terbebas dari ketidaksucian atau hadats kecil yang secara umum tidak kasat mata[2].

Dalam praktek, anggota tubuh yang dibasuh dalam berwudu tidak hanya mencakup wajah, tangan dan kaki, tetapi juga mulut, hidung dan telinga. Seperti disinggung sebelumnya, masing-masing anggota tubuh itu mengandung simbol kekotoran tertentu yang harus disucikan ketika seorang hamba siap menghadap-Nya. Tangan, misalnya, menurut Schuon menyimbolkan tindakan-tindakan duniawi (profan) secara umum. Untuk lengkapnya, berikut ini disajikan ungkapan Schuon mengenai makna simbolis anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu:

In abolition, the hand refers to profane actions; the mouth to the impurities contracted knowingly; the nose to the impurities contracted unwillingly and unconsciously; the face to the shame of sin; the forearms to impure intention; the ears to deafness with regard to the divine Words; the head to pride; the ears to waywardness. Or in positive terms: the purified hand to spiritual actions; the mouth to active purity; the nose to passive and unconsciousness purity; the face to the state of grace; the forearms to purity of intention; the ears to the receptivity to the divine Words or to spiritual or angelic inspirations; the heads to humility before God, hence to awareness of our nothingness;the feet to our qualification for the path of contemplation (Schuon: 145-146)[3]

Dari kutipan di atas tampak bahwa masing-masing anggota tubuh melambangkan suatu aspek ketidaksucian atau ketidakmurnian tertentu yang melekat dalam diri kita sehingga perlu dimurnikan terlebih dahulu sebelum menghadap Dia yang Maha_Suci:

·      Tangan : Tindakan duniawiah (profan);
·      Mulut : Kekotoran yang dilakukan secara sengaja;
·      Hidung : Kekotoran yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar;
·      Wajah : Keburukan aib dosa;
·      Lengan : Kekotoran niat; dan
·      Telinga : Ke-tidak-patuhan.

Dari kutipan di atas juga tampak bahwa setelah dimurnikan masing-masing anggota tubuh itu mengandung suatu aspek kesucian tertentu:

·      Tangan : Tindakan spiritual;
·      Mulut : Kemurnian yang bersifat aktif;
·      Hidung : Kemurnian yang bersifat pasif dan tanpa sadar;
·      Wajah : the state of grace;
·      Lengan : Kemurnian niat;
·      Telinga : Kesiapan menerima Firman ilahiah atau inspirasi spiritual;
·      Kepala : Kerendahan hati di hadapan Tuhan; dan
·      Kaki : Kualifikasi untuk menempuh jalan kontemplasi.

Keharusan wudu sebelum menghadap-Nya melalui salat menghendaki agar kita terbebas dari semua bentuk “kekotoran”: keterikatan terhadap semua urusan duniawi serta terbebas dari semua jenis kekotoran, aib dosa, kekotoran niat, dan dari semua bentuk ketidak-patuhan. Hemat penulis, semua ini mengisyaratkan bahwa Dia hanya berkenan menerima kita jika keseluruhan individualitas kita sudah murni dalam arti terbebas dari semua bentuk kekotoran itu. Pertanyaan restropektif: Apakah kualifikasi itu berlaku untuk mengahadap-Nya melalui pintu kematian? Astagfirullah…. @

[1] Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta; http://www.nu.or.id/post/read/66243/doa-basuh-kaki-kanan-saat-wudhu;

[2] Untuk terbebas dari hadats besar seseorang harus mandi dengan niat khusus yakni bersuci dari hadats besar.

[3] Frithjof Schuon, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom, Inc. Nama muslim Schuon adalah Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an. Schuon adalah Syech dari tarekat itu sampai akhir hayatnya (May, 1998).

Simbolisme Gua dan Gunung

Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama di Gua Hira, suatu gua kecil di Jabal Nur yang terletak 5 km di utara Mekah. Dikisahkan pula bahwa Nabi Musa As menerima wahyu Taurat di Gunung Thur, suatu gunung yang berlokasi di semenanjung Sinai, Mesir. Dalam dua konteks ini gua maupun gunung, selain memilki arti harfiah (geografis), tetapi juga makna simbolis. Makna kedua ini mudah dipahami karena terkait dengan penurunan wahyu yang berarti “pengungkapan ilahiah atau supernatural kepada manusia mengenai sesuatu yang terkait dengan eksistensi manusia atau dunia. Jalalyan ketika mengartikan kata at-tur (Ayat ke-1, Surat ke-52) menarasikan sebagai “bukit tempat Allah berfirman secara langsung kepada Nabi Musa”.

Di luar tradisi agama samawi, dalam banyak peradaban purba kata gua maupun gunung dimaknai sebagai representasi pusat spiritual.

  • Dalam Bahasa Sansekertakata gua (guhā) berasal dari akar kata guh yang berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Kata itu seakar kata dengan gup, karenanya gupta yang digunakan untuk apapun yang bersifat rahasia dan tidak tampak di permukaan.
  • Dalam Bahasa Latin kata itu sinonim dengan kata “crypt” yang  yang juga berarti “menutupi” atau “menyembunyikan”. Ide dari kata-kata itu terkait dengan pusat, sejauh itu dilihat sebagai paling batini (inward) dan karenanya merupakan titik yang tersembunyi (hidden point).

Ide yang sama juga merujuk pada inisiasi (mistis) yang bersifat rahasia dalam kaitannya dengan peristiwa itu sendiri maupun dengan tempat di mana inisiasi itu berlangsung; keduanya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan yang masih berjiwa duniawi (profane) .

Dalam artian simbolis gua dilihat sebagai tempat yang terletak di bawah atau di dalam gunung sehingga keduanya saling melengkapi. Walaupun demikian, gunung menurut Guénon secara simbolis lebih purba (primordial) dibandingkan gua. Berbeda dengan gunung yang dapat terlihat secara kasat mata dari semua sisi, gua pada dasarnya tempat tersembunyi dan tertutup. Dari pengamatan ini Guénon menyimpulkan bahwa representasi pusat spiritual dari gunung terkait dengan periode di mana “kebenaran seluruhnya dapat diakses oleh semua”; pada periode sesudahnya kebenaran itu hanya dapat diakses oleh segelintir kalangan elit. Untuk memperoleh gambaran agak lengkap mengenai pikiran Guénon, berikut ini disajikan ungkapannya secara langsung :

It must be mentioned… that the mountain is more “primordial” in its significance than the cave: it is so in virtue of being outwardly visible, we might even say of being the most visible object from all sides, whereas the cave is, on the contrary, an essentially hidden and closed place. It can easily be deduced from this that the representation of the spiritual center by the mountain corresponds to the original period of earthly humanity, during which the truth was wholly accessible to all …; but when owing to the downward march of the cycle, this truth was no longer within the scope of more than a fairly restricted “élite” …. and had become hidden from the majority, the cave was a more fitting symbol of the spiritual center and therefore of the initiatic sanctuaries which are its images.

Harus disinggung… bahwa gunung lebih “primordial” signifikansinya dari gua: demikianlah karena gunung secara lahiriah terlihat, kita bahkan mungkin mengatakan menjadi objek yang paling terlihat dari semua sisi, sedangkan gua adalah, sebaliknya, pada dasarnya tersembunyi dan tertutup. Dari sini dapat dengan mudah disimpulkan bahwa representasi dari pusat spiritual oleh gunung sesuai dengan periode awal manusia di bumi ketika kebenaran sepenuhnya dapat diakses oleh semua; pada masa selanjutnya, karena siklus yang merngarah ke ke bawah, kebenaran ini tidak hanya dapat diakses hanya oleh kalangan “elite” yang cukup terbatas …. dan telah menjadi tersembunyi dari mayoritas, gua adalah simbol lebih pas dari pusat spiritual dan karenanya menggambarkan tempat inisiasi suci.

Ungkapan di atas tidak menujukkan gunung berubah atau pindah tempat; yang terjadi adalah “puncaknya” seolah-olah menyembunyikan diri ke bagian dalam. Bagi Guénon perubahan yang tampak terbalik ini (reversal) juga tidak berarti bahwa “dunia lebih tinggi dan lebih lebih dalam” (higher and inner world) telah berubah; yang berubah adalah “dunia luar” (external world), demikian juga hubungan antara keduanya. Oleh Guénon gunung diilustrasikan oleh segitiga yang mengarah ke atas sementara gua segitiga lebih kecal yang mengarah ke bawah yang lebih kecil. Gambar 1 meujukkan hubungan “terbalik” sekaligus “saling melengkapi” antara keduanya.

goa101

Bagaimana agar segitiga yang di bawah dimasukkan ke dalam segitiga yang di atas sedemikian rupa sehingga menutupi yang pertama secara sempurna. Menurut Guénon, yang kebetulan ahli matematika, caranya adalah dengan menarik satu garis tengah secara horizontal pada segitiga yang di atas dan menjadikan garis tengah itu sebagai “alas” bagi segitiga yang mengarah ke bawah. Hasilnya adalah “klop” dengan 4 segitiga: satu mengarah ke bawah, sisanyake atas sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Guénon  memaknai ini sebagai simbol “Segel Sulaiman” (“Seal of Solomon”). Wallahu’alam.

Guénon mengungkapkan bahwa segitiga terbalik juga melambangkan hati (heart) dan cawan (cup), khususnya dalam kaitannya dengan misteri Cawan Suci (Holy Grail). Selain itu dia mengungkapkan bahwa segitiga yang di bawah lebih kecil dibandingkan dengan yang di atas tetapi dalam kaitan ini kata kecil sekaligus bermakna besar, jauh lebih besar:

Moreover, in the present case, there is a more special reason: we have recalled, in connection with the relationship between the cave and the heart, the text of the Upanishads where it is said that the Principle, which resides at “the center of the being”, is “smaller than a grain of rice, smaller than a grain of barley, smaller than a grain of mustard, smaller than a grain of millet, smaller than the seed that is in a grain of millet”, but also at the same time “larger than the earth, larger than the atmosphere (or the intermediary world), larger than the heavens, larger than all the worlds together”…

Selain itu, dalam kasus ini, ada alasan khusus lainnya: kami ingat sehubungan dengan hubungan antara gua dan hati, teks Upanishad mengungkapkan bahwa Prinsip, yang berada di “pusat wujud”, “lebih kecil dari sebutir beras, lebih kecil dari sebutir gandum, lebih kecil dari sebutir mustar, lebih kecil dari sebutir milet, lebih kecil dari benih yang ada di sebutir millet “, tetapi juga di saat yang sama “lebih besar dari bumi, lebih besar dari atmosfer (atau dunia perantara), lebih besar dari langit, lebih besar dari semua dunia bersama-sama.

Terkait dengan kutipan di atas kita dapat menganalogikan makna “besar-kecil” dengan misteri hati seorang Mukmin yang sekalipun fisik kecil tetapi menurut satu hadits qudsi dapat menampung Tuhan: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”

Wallahu’alam ……@

xx

xx

← Back

Thank you for your response. ✨

Jaring dan Ikan

Jaring dan Ikan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Sebagian besar ikan yang terjerat dalam jaring konon tidak menyadari terjerat sehingga tidak terpikir untuk membebaskan diri. Sebagian kecil ikan yang terjerat itu konon menyadari kondisinya sehingga berjuang keras untuk membebaskan diri: sebagian besar gagal, sisanya berhasil. Anggota dari kelompok ke-3 ini– yang berusaha membebaskan diri dan berhasil– relatif sangat sedikit jumlahnya. Tetapi ada kelompok ikan lain dengan jumlah anggota jauh lebih sedikit: anggota kelompok ini tidak tertarik oleh jaring sehingga sejak awal terbebas dari jeratannya. Dari uraian di atas kita dapat membagi ikan– dalam kaitannya dengan jaring– ke dalam empat kelompok: (1) mereka yang terjerat jaring tetapi “tidak menyadari” bahwa ia terjerat, (2) mereka yang “menyadari” terjerat dan berjuang keras untuk membebaskan diri, (3) mereka yang berhasil keluar dari jeratan dan bebas, dan (4) mereka yang sejak awal terbebas dari jeratan jaring.

Dalam cerita di atas yang dikemukanan oleh Ramakrishna itu[1] jaring melambangkan dunia, sedangkan ikan melambangkan jiwa manusia. Disini terlihat “kelincahan” tradisi India dalam memanfaatkan kasus pengalaman hidup sehari-hari sebagai titik tolak pemikiran filsafat; ini berbeda dengan tradisi Barat yang terlalu mengandalkan reasoning atau spekulasi intelektual sehingga Filsafat Barat oleh Swami Yasiwaranda dikritik sebagai hanya senam intelektuali yang tidak banyak bermafaat bagi kehidupan nyata sehari-hari[2]. Memberikan label filsuf kepada sosok Ramakrishna (1836-1886) mungkin tidak memadai karena beliau adalah seorang yogi dan mistis India, bergelar Bagawan dan Mahatma, dan dilaporkan sangat dihormati dan diakui kebesarannya oleh semua pemuka agama atau tradisi besar dunia termasuk Kristen (Ortodoks), Islam, Budha, dan Sikh[3].

Menggunakan analogi jaring-ikan itu Sang Bagawan membagi jivas atau jiwa-jiwa individual terbagi ke dalam empat kelas: (1) Badha (terikat, the bound), (2) Mumukshu (pencari kebebasan, the seeker after freedom), (3) Mukta (terbebas, emancipated) dan (4) Nitya-Mukta (bebas abadi, the eternally free). Seperti disinggung sebelumnya, anggota dari kelas jiwa ke-4 jumlahnya paling sedikit, mungkin setara dengan apa yang dikenal dalam kajian sufi sebagai “orang-orang khusus dari kelompok orang khusus” (khawasul-khawaas). Sebaliknya, kelompok ke-1 merupakan mayoritas sehingga memperoleh perhatian lebih dari Sang Bagawan.

Jiwa Badha

Menurut Sang Bagawan, ikan dalam kelompok pertama, ketika tertangkap, akan lari dan bersembunyi dalam lumpur dengan tetap berada dalam jeratan jaring, masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam lumpur. Inilah gambaran orang yang berjiwa Badha. Selanjutnya Ramakrishna melukiskan mereka sebagai orang yang tidak mampu menarik pelajaran dari pengalaman hidup yang pahit seperti terungkap dalam kutipan langsung berikut[4]:

Those who are thus caught in the net of the world are the Baddha, or bound souls. No one can awaken them. They do not come to .their senses even after receiving blow upon blow of misery, sorrow, and indescribable suffering. …. The bound souls may meet with great grief and misfortune, but after a few days, they are just as they were before. The wife may die or become unchaste, the man will marry again; his son may die, he will be extremely sorrowful, but he will soon forget him. The mother of the boy may be overwhelmed with grief for a short time, but in a few days she will once more be concerned her personal appearance and will deck herself with jewels and finery.

Mereka yang terjerat dalam jaring dunia adalah Baddha, atau jiwa yang terbelenggu. Tidak ada yang bisa membangunkan mereka. Mereka tidak bergeming bahkan setelah menerima berbagai deraan penderitaan, kesedihan dan kesengsaraan yang tak terlukiskan. …. Jiwa yang terbelenggu (dunia) itu bisa saja mengalamai kesedihan dan kemalangan yang dahsyat, tapi setelah beberapa hari mereka akan kembali seperti sebelumnya. Istrinya bisa mati atau menjadi pelacur, tapi orang itu akan menikah lagi; anaknya bisa saja mati dan ia akan sangat bersedih karenanya tetapi akan segera melupakannya. Ibu dari anak itu mungkin akan mengalami kesedihan luar biasa (atas kematian anaknya) tetapi itu hanya untuk waktu singkat, dalam beberapa hari ia tidak akan peduli dan kembali lebih memperhatikan penampilan pribadi dengan segala aksesori perhiasan.

Ciri orang yang berjiwa Badha lainnya adalah standar moralnya yang rendah serta tidak memiliki apresiasi terhadap kehidupan beragama. Mengenai hal ini Ramakrishna mengungkapkan[5]:

There is another sign of a Baddha, or worldly soul. If you remove him from the world and put him in a better place, he will pine away and die. He will work like a slave to support his family, and he will not hesitate to tell lies, to deceive or to flatter in order to earn his livelihood. He looks upon those who worship God or who meditate on the Lord of the universe as insane. He never finds a time or opportunity to think of spiritual subjects. Even at the hour of death he will think and talk worldly things. Whatever thought is strongest in the minds of worldly people comes out at the time of death. If they become delirious, they rave of nothing but material objects.

Ada tanda lain dari Baddha, atau jiwa duniawi. Jika Anda memindahkan dia dari dunia dan menempatkannya di tempat yang lebih baik, ia akan merana dan mati. Dia akan bekerja seperti budak untuk mendukung keluarganya, dan ia tidak akan ragu untuk berbohong, menipu atau untuk menyanjung dalam rangka untuk memperoleh penghasilan. Dia memandang orang-orang yang menyembah Allah atau yang merenungkan Tuhan alam semesta sebagai gila. Dia tidak pernah menemukan waktu atau kesempatan untuk memikirkan pelajaran spiritual. Bahkan pada saat kematian ia akan berpikir dan berbicara mengenai hal-hal yang bersifat duniawi. Apapun yang menjadi pikiran terkuat di benak orang-orang duniawi akan terungkap pada saat kematian. Jika mereka menjadi mengigau, mereka igauannya hanya terkait dengan benda-benda material.

Sayangnya Ramakrishna yang hidup di abad ke-19 sehingga tidak sempat menyaksikan gaya hidup manusia kontemporer. Seandainya kesempatan itu ada, penulis menduga beliau akan memasukkan para elit berikut sebagai contoh kasus orang yang berjiwa Badha: penguasa negara yang berani merampok secara kasar hak-hak dasar rakyatnya, pejabat publik dengan fasilitas wah tetapi masih berani mengkorupsi uang rakyat, para pengusaha “sukses” tetapi tega mengambil hak-hak pekerja, profesional muda “sukses” yang menghabiskan hampir seluruh waktu dan energinya untuk menata karir duniawi tanpa menyisakan ruang dan waktu untuk berpikir hal-hal yang luhur.

Kebanyakan kita tampaknya tidak layak bermimpi untuk memiliki jiwa ke-4 (Nitya Mukta) tetapi patut berlindung kepada-Nya dari sifat-sifat  orang berjiwa ke-1 (Badha). Kita dapat berharap minimal memilki jiwa ke-2 (Mumukshu) sambil terus berupaya dan berharap pertolongan-Nya agar diangkat ke kelas jiwa ke-3 (Mukta). Kenapa perlu pertolongan-Nya? Karena jiwa kita berada dalam genggaman-Nya seperti terungkap dalam ujung doa tahiyat akhir dalam tradisi Islam: “Wahai yang membolak-balikan jiwa, tetapkanlah jiwaku dalam agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu (Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘ala a diinika wa’ala thaa’atika).

Apa kata agama?

Konon semua agama berbeda dalam hal perumusan teologi tetapi mempunyai bahasa yang sama ketika terkait dengan kesalehan moral pribadi dan sosial. Hemat penulis semua agama mengajarkan hidup sederhana, menentang kemewaahan berlebihan, dan merasa prihatin dengan moralitas masyarakat yang berjiwa Badaha.

Islam, sejauh yang penulis pahami, tidak menentang secara serta merta kehidupan dunia: secara fisikal kita merupakan bagian dari dunia sehingga kehidupan dunia tak terhindarkan. Kita tidak mungkin menghindari ketertarikan kepada “harta” dan “wanita”;  by design itulah sifat-dasar kita:

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan anak-anak, harta benda yang bertumpuk berpa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan dunia dan sisi Allahlah tempat kembali yang baik[6].

Tantangannya adalah bagaimana mengendalikan sifat-dasar kita itu sehingga keduanya tidak menguasai dan memperbudak jiwa kita. Menghadapi tantangan ini jalan Islam secara umum– ini mungkin berbeda dengan jalan Kristen atau Hindu—mengambil “jalan tengah” atau moderat. Hal ini diilustrasikan oleh kisah Usman Ibn Mazhun (adik Umar Ibn Khattab), seorang sahabat Nabi Saw yang dikenal paling zuhud, bahkan sebelum masa turunnya wahyu. Dia sangat tertekan oleh hasrat-hasrat duniawi sehingga suatu saat dia meminta izin kepada Nabi SAW untuk bertapa dan menghabiskan sisa hidupnya untuk menjadi sorang fakir. Jabawan Nabi Saw[7]:

“Tidakkah engkau jadikan aku sebagai teladan bagimu?” “Aku menikah, aku makan daging, dan aku juga berpuasa, dan aku juga berbuka. Bukan dari kaumku orang yang menjadikan dirinya dan orang lain fakir”. “Engkau berpuasa setiap hari dan asyik beribadah sepanjang malam”. “Tidak begitu, dan jangan lakukan itu karena sesungguhnya matamu memilki hak atas dirimu, dan tubuhmu juga memiliki hak-haknya, demikian juga keluargamu memiliki hak-hak yang harus kau penuhi. Maka salat dan tidurlah, berpuasa dan berbukalah”.

Dalam ajaran moderatnya, Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sendau gurau (la’ib dan lahw)[8] seingga sangat tegas mengecam:

  • Sikap hidup yang lebih mengedapankan kehidupan dunia dari kehidupan ahirat padahal yang terakhir “lebih baik” dan “lebih kekal” (al-A’la:16-17);
  • Orientasi hidup dengan menempatkan sukses kehidupan dunia sebagai tujuan final sehingga di akhirat “tidak memperoleh apa-apa”( al-Baqarah: 200); dan
  • Kecintaan kepada harta yang berlebihan (al-Fajr:20).

serkah101

Itulah ajaran-ajaran pokok Islam, sejauh yang penulis pahami, mengenai kehidupan dunia yang sangat jelas dan realistis dalam arti sesuai dengan fitrah manusia: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam) yang sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu…” (Ar-Rum:30). Cinta berlebihan kepada dunia jelas bukan bagian dari fitrah manusia; ia  menurut Nabi Saw(*) merupakan “pangkal dari segala kesalahan”.  Wallahu’alam ….@

[1] The Gospel of Ramakrishna (1907:44-45), The Vedanta Society, New York.

[2] Lihat tulisan penulis “Senam Filsafat” dalam posting sebelumnya.

[3] The Gospel, halaman 8-9.

[4] Ibid, halaman 45-46.

[5] Ibid, halaman 46-47.

[6] Al-Quran, al-Imran ayat 14, The Wisdom, Al-Mizan Publishing House, 2013.

[7] Martin Lings (Abu Bakar Siraj al-Din), Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Halaman 309-310, PT Serambi Ilmu Semesta, 1991

[8] Al-Hadid (20).

(*) Menurut satu sumber sabda Nabi Isa AS: Abu Nu’aim al Ashbahâny (w. 430 H), Hilyatul Awliya wa Thabaqâtul Ashfiyâ’, Juz 6 hal 338, sebagaimana dikemukakan dalam https://mtaufiknt.wordpress.com/2011/12/19/cinta-dunia-adalah- pangkal-kesalahan/

Senam Intelektual

Senam Intelektual

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah senam intelektual (intellectual gymnastic) dikemukakan Swami Yatiswarananda (1889-1966) ketika melancarkan kritik terhadap Filsafat Barat. Dia adalah “anak spiritual” Ramakrishna (1836-1886), seorang mistis dan yogi India yang sangat dihormati.  Ramakrishna konon pernah mempraktekkan ajaran Kristen dan pernah pula diislamkan oleh seorang guru India. Terkait dengan yang terakhir ini ia dilaporkan taat berdzikir, mempraktekkan salat lima kali, dan mengenakan pakaian Arab Muslim [1]; semuanya menandakan bahwa ia serius dalam keislamannya, wallahu’alam. Ajaran-ajaran Ramakrishna sampai ke kita melalui para muridnya antara lain dan Swami Yatiswarananda yang menyebarkan ajaran gurunya itu di kawasan Eropa selama dekade 1930-1940-an.

Kenapa Swami Yatiswarananda mengkritik Filsafat Barat? Karena menurutnya Filsafat Barat terlalu mengandlakan nalar. Baginya, nalar saja tidak cukup, bahkan tidak banyak berguna. Untuk lengkapnya, dan untuk mengurangi risiko salah tafsir, berikut ini disajikan kutipan terkait argumen itu [2]:

Western philosophy has never had any great influence on life, not even on the life of the philosopher himself. Western philosophy is all reasoning, and mere reasoninsg has no great value and only leads us up to a certain point. We see the results in Kant. This is of no value at all as far as life and our progress are concerned. It is just intellectual gymnastics.

Filsafat Barat tidak pernah berpengaruh besar dalam kehidupan, bahkan bagi kehidupan filsuf sendiri. Filsafat Barat hanya berdasarkan pada penalaran saja tidak memiliki nilai yang besar dan hanya mengarahkan kita suatu titik tertentu. Kita lihat hasilnya dalam (filsafat) Kant. Ini tidak bernilai sama sekali sejauh keprihatinan kita tertuju pada kehidupan dan kemajuan. Itu hanya senam intelektual.

Mengatakan karya Kant tidak bernilai sama-sekali mungkin berlebihan; yang lebih tepat mungkin karyanya dalam realitas kehidupan tidak membawa kita kemana-mana kecuali kepada kebingungan. Untuk memperjelas maksudnya, Swami Yatiswarananda membandingkan Filsafat Barat dengan tradisi India. Menurutnya, dalam tradisi India yang datang terlebih dahulu adalah pengalaman, setelah selang waktu yang lama baru datang dasar intelektual yang berbasis pengalaman. Singaktnya, dalam tradisi India pengalaman selalu ditekankan, bukan spekulasi intelektual yang tanpa basis pengalaman.

Meninjau Ulang Makna Intelek

Kata dasar intektual jelas intelek (intellect) yang pada umumnya diartikan sebagai kemampuan berfikir secara logis (“the ability to think with a logical way”) dan kepintaran atau kecerdasan seseorang (“a very smart person”) [3]. Jika arti itu yang digunakan maka istilah senam intelektual sah secara kebahasaan. Pertanyaannya, kenapa ada istilah intellect jika maknanya sudah tercakup dalam kata think, logical dan smart? Hemat penulis, yang terjadi di sini ini adalah reduksi makna intellect yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Reduksi makna semacam itu pada umumnya merefleksikan keengganan peradaban kontemporer untuk mengakui dan berbicara mengenai hal-hal yang bersifat subtil.

Untuk memperjelas dapat dilihat persepktif filsafat perennial mengenai hal ini. Menurut Schuon, seorang juru bicara utama filsafat itu, intelek –yang berbeda dengan nalar yang kerjanya melalui operasi logika– befungsi melalui instuisi. Uraian lebih lengkap dapat dilihat dalam kutipan berikut

Intellectual intuition … is contemplative power, receptivity toward uncreated Light, the opening of the Eye of the heart, which distinguishes transcendent intelligent from reason. Reason perceives the general and proceeds by logical operations, whereas Intellect perceives the principial—the methaphysical—and proceeds by intuition; intellection is concrete in relation to rational abstraction and abstract in relation to divine Consciousness; …

Intuisi intelektual…. adalah daya kontemplatif, penerimaan Cahaya abadi, pembukaan Mata hati, yang membedakan kecerdasan transenden dari nalar. Nalar mempersepsikan yang umum dan berfungsi melalui oprasi logika, sementara intelek mempersepsikan yang prinsip atau metafisis dan bekerja melalui intuisi; intelleksi konkrit dalam kaitannya dengan abstraksi rasional dan abstrak dalam kaitannya dengan Kesadaran ilahiah.

Dari kutipan di atas jelas bahwa intelek berbeda dengan nalar. Karena intelek dalam pengertian ini asing bagi Filsfat Barat maka penerapan istilah senam intelektual bagi filsafat itu sebenarnya tidak tepat. Dari kutipan yang sama, penulis memperoleh kesan bahwa intelek kira-kira setara dengan hati dalam Bahasa Indonesia.

Hati dan Kedalamannya

Sekadar penyegar ingatan, dalam bahasa qurani terdapat empat kata yang semuanya berarti hati (Bahasa Indonesia): shard, qolb. fuad atau afidah dan albab. Konotasi masing-masing kata itu berbeda. Kata shard meruju pada bagian luar hati dan biasa diterjemahkan dada (tetapi bukan artian fisik). Kata ini digunakan oleh Nabi Musa AS ketika siap menghadapi Fir’aun: “Rab-ku, luaskanlah dadaku” (Thaha: 25). Doa ini mengisyaratkan bahwa hati sebenarnya di uar kuasa kita tetapi berada di genggaman-Nya. Karena bukan dalam kekuasaan kita bagaimana mengajaknya “bersenam”? Kutipan berikut mungkin memperjelas makna shadr:

Menurut Amir An-Najr, shadr merupakan pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari Tuhan. Shadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia.
Dada adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri kita, tempat kita di uji dengan kecendrungan-kecendrungan nagatif nafsu. Kalau sisi positif itu yang dominan, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada dalam pengawasan jiwa ilahi. Tapi jika sebaliknya yakni sisi negatif yang dominan, seperti dengki, syahwat, keangkuhan, atau kepedihan, penderitaan atau tragedi yang berlangsung lama, maka dada akan dilingkupi oleh kegelapan. Hati akan mengeras dan cahaya bhatiniyah menjadi redup [4].

Jika kata shadr merujuk pada bagian luar hati maka kata qalb pada hati dalamnya. Mengenai yang terakhir ini, sekadar penyegar ingatan, bagian akhir tahiyat akhir dalam salat berisi doa: “Wahai dzat yang membolak-balikan qalb, tetapkanlah dalam qalb-ku dalam agamamu dan ketaatan kepada-Mu” [5]. Narasi doa ini kembali memperjelas bahwa urusan hati di luar kendali kita (jadi tidak bisa diajak bersenam).

Dua padanan kata lainnya yang berarti hati adalah fuad atau afidah dan albab: fuad adalah hati yang lebih dalam dari qalb, sementara albab lebih dalam lagi dari fuas, “hatinya hati”. Wallahu’alamubimraadih.

images2

Tanda matinya hati

Sebagai penutup, berikut disajikan kutipan dari seorang Syech Sufi yang sangat berpengaruh mengenai tanda matinya hati[6]:

Di antara tanda-tanda matinya hati (qalb) dalah tidak adanya perasaan sedih atas ketaatan yang kaulewatkan dan tidak adanya perasaan menyesal atas kesalahan yang kaulakukan.

A sign of the heart’s death is the absence of sadness over the acts of obedience you have neglected and the abandonment of regret over the mistakes you have made.

Pertanyaan: Seberapa hidup hati kita?

Astagfirullaah…..@

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Ramakrishna.

[2] Swami Yatiswarananda, Readings on the Gospel of Sri Ramakrihna (1994:177), Vedanta Study Circle, Athens, Greek.

[3] Merriam-Webster’s Advanced Learner’s English Dictionary, 2008.

[4] http://emka.web.id/ke-nu-an/2011/4-level-hati-menurut-tafsir-quran/

[5]Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ‘alaa diinika wa’ala thaa’atika

[6] Al-Hikam: Ibnu Atha’illah s-Sakandari, Wali Pustaka, 2016.

Doa Personal

Mengomentari Aksi Demo “Damai” 4/11/16 Ustadz Mansur –dalam suatu acara TV talk show 5/11/16 yang lalu– menekankan arti penting doa, menjelang dan pasca demo. Mengenai relatif amannya demo ini beliau mengatakan kira-kira: “Siapa yang mampu mengendalikan pendemo yang jumlahnya mencapai jutaan (secara nasional) kecuali Dia yang menguasai hati setiap orang”.

Menurutnya, karena tidak ada satu pihak pun yang menghendaki kekacauan atau kerusuhan, beliau mengajak semua pihak, termasuk penganut agama lain, untuk memanjatkan doa bagi keamanan Indonesia yang hakikatnya “milik” Tuhan. Beliau sangat meyakini kekuatan doa dan penulis yakin beliau dalam hal ini dia tidak sendirian, apalagi dalam konteks Indonesia yang dikenal religious. Melalui tulisan ini penulis bermaksud berbagai pendapat mengenai doa, khususnya mengenai doa personal.

Mode Berdoa

Dalam bentuknya yang elementer, istilah doa merujuk pada doa personal (personal prayer); artinya, yang menjadi subyek doa adalah seorang individu sehingga yang digunakan adalah kata ganti orang pertama (Saya, Aku). Contoh doa personal: “Ya Allah, karuniakan kepadaku nikmat kesehatan dan keberkahan hidup”. Contoh lain adalah doa Nabi Musa menjelang ketemu Fir’aun (Thaha: 25-26): “… Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku”.

Pernyataan doa di atas berbeda, dengan, misalnya, doa yang dinarasikan dalam al-Fatihah (ayat 5): “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Di sini yang menjadi subyek doa bukan seorang individu manusia (such a man), melainkan manusia secara keseluruhan atau sebagai satu ras (man as such). Doa ini wajib dibaca dalam salat sehingga ketika salat sebenarnya kita meng-atas-nama-kan atau mewkili semua orang yang salat, bahkan seluruh umat manusia sebagai satu ras.

Salat, berbeda dengan doa personal, merupakan mode berdoa dengan tatacara yang sudah baku atau kanonik. Dalam konteks ini ada dua catatan yang layak dikemukakan:

  • Dalam Bahasa Inggris, istilah prayer berlaku untuk doa personal mapun salat. Karena tatacaranya yang baku (given, canonical), salat dapat dikatakan sebagai doa kanonik (canonical prayer).
  • Jika dalam doa personal masing-masing subyek doa secara bebas dapat menetukan cara dan merumuskan lafalnya; dalam doa kanonik tatacara dan lafal doa sudah baku, sudah ditentukan.

Siapa yang “mengarang” ketentuan baku itu dalam doa kanonik? Dalam konteks Islam Tuhan sendiri yang menjadi pengarangnya, didemonstrasikan oleh Jibril yang dapat dilihat secara sempurna oleh Rasul SAW[1] dan diterima oleh umat secara aklamatif.

Doa kanonik dianggap lebih sempurna dari pada doa personal karena individu manusia secara umum terlalu terbatas kepastiasnya untuk menyatakan keinginannya secara layak di hadapan Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Lebih dari itu, karena keterbatasan visinya, yang diminta dalam doa kita sama-sekali tidak mustahil malah merugikan kita.

Kita– di hadapan Tuhan, karena keterbatasan kita– bisa berperilaku seperti anak kecil kepada ibunya: merengek minta es krim padahal tengah menderita batuk-pilek, atau, ngotot minta permen atau coklat padahal sedang sakit gigi.

Di atas doa kanonik ada lagi mode doa yang dinilai lebih sempurna yaitu menyebut Nama Tuhan atau, mengunakan istilah agama, dzikir; yakni, melafalkan Nama Tuhan secara berulang-ulang, kira-kira seperti japa dalam tradisi Hindu[2].

Kenapa dzikir lebih sempurna? Karena menurut Schuon[3]: (1) Tuhan dan Nama Tuhan identik, dan (2) Tuhan Sendiri (God Himself) yang menyatakan atau melafalkan NamaNya (His Name) dalam diri-Nya (in Himself), dengan demikian, dalam keabadian dan di luar semua ciptaan. Itulah sebabnya keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan (His unique and uncreated Word) merupakan bentuk dasar (purwa-rupa, prototype) dari dzikir dan bahkan, secara kurang langsung, dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan (orison).

…..  keunikan-Nya dan firman-Nya yang tidak diciptakan merupakan bentuk dasar dari dzikir dan bahkan dari semua mode “pertemuan” manusia dengan Tuhan.

Dari uraian singkat di atas terlihat ada tiga cara atau mode berdoa: doa personal, doa kanonik, dan dzikir. Bagian selanjutnya dari tulisan ini, sebagaimana tercermin dari judul, membahas mode doa pertama, doa personal.

Arti Penting Doa Personal

Pernyataan bahwa doa personal kurang sempurna dibandingkan doa kanonik (apalagi dzikir) bukan berarti doa personal tidak penting bagi kita: kita tidak dapat berbuat apa-apa tanpa pertolongan Dia karena Dialah menentukan atau, menggunakan bahasa teologis, sebab efisien dari segalanya. Selain itu, keteguhan atau kebulatan hati (resolution) tidak ada artinya tanpa disertai doa, petisi atau atau permintaan tolong kepada-Nya.

Ketika berdoa kita, selaku individu, mengekspresikan secara langsung keinginan dan kehawatiran kita, harapan dan rasa syukur kita.

doa102

Yang sangat mendasar untuk dicatat adalah bahwa tujuan berdoa bukan hanya untuk mengamankan agar keinginan tertentu kita terkabul. Doa seyogyanya juga bertujuan untuk membersihkan jiwa kita karena fungsi doa antara lain melonggarkan simpul-simpul psikis (psichic knots) kita, melarutkan gumpalan-gumpalan yang memenuhi bawah-sadar kita, serta melepaskan berbagai macam racun yang tersembunyi dalam diri kita (bangga, iri, serakah, dan sebagainya).

Melalui doa kita mengemukakan di hadapan Tuhan kesulitan-kesulitan kita, kesalahan-kesalahan kita, tekanan-tekanan jiwa yang kita alami, dan semua ini, meminjam istilah Shuon[4] “mengandaikan jiwa yang rendah-hati dan jujur, dan penyingkapan ini, dilakukan di hadapan yang Absolut, perlu untuk membangun kembali keseimbangan dan memulihkan kedamaian; singkatnya, untuk membuka pintu rahmat bagi kita”.

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, dalam doa personal, subyek doa dapat merumuskan lafal doa secara bebas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar karena doa yang tulus perlu diawali permintaan ampun, serta disemangati paling tidak oleh oleh rasa syukur dan rasa pasrah.

  • Permintaan ampun (istigfar): bisa jadi yang kita minta bertentangan dengan kehendak Ilahiah (divine Will);
  • Rasa syukur (thankfulness): kita sadar bahwa setiap pengabulan permitaan yang diinginkan pada dasarnya merupakan rahmat (grace) yang bisa saja tidak kita peroleh; dan
  • Pasrah (tawakkal, resignation): kita perlu mengantisipasi doa yang tidak terkabul, atau lebih tepatnya, belum dikabulkan atau dikabulkan tetapi dalam bentuk lain yang lebih menguntungkan bagi kita.

 

Sikap Pasrah

Teks suci menegaskan bahwa Tuhan dekat dengan kita dan pasti mengabulkan doa personal kita (al-Baqarah: 186), Dia sangat lebih dekat urat leher nadi kita; dia sangat dekat dengan kita, lebih dekat bahka dari pada urat leher kita (Qaaf:16). Walaupun demikian, bisa jadi yang diminta dalam doa kita waktunya belum sesuai, atau perlu diganti dengan yang lebih baik. Bukankah orang tua yang bijak akan menunda mengabulkan permintaan anaknya yang merengek minta dibelikan balap padahal umurnya masih balita sampai umur si anak mencapai belasan, atau mengganti apa yang diminta dengan speda beroda tiga?

Terkait pendundaan pengabulan doa ini layak direnungkan wejangan ringkas dari syech sufi berikut ini[5]:

doa101

Jangan sampai tertundaya karunia Tuhan kepadamu setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu merasa putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilhan-Nya, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

In spite of intense supplication, a delay in the timing of the Gift, let that not be the cause of your despairing. He has guaranteed you a response in what He chooses for you, not in what you choose for yourself, and at the time He desires, not the time you desire.

 Wallahu’alam …..@

[1] Konon, keungulan Rasul SAW dibandingkan rasul lain adalah kemampuannya untuk melihat. Ayat 1-18 Surat An-Najm hemat penulis mengilustrasikan keunggulan ini.

[2] http://www.hinduwebsite.com/hinduism/concepts/japa.asp.

[3] Schuon, Frithjof, Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:60). Nama muslim Schuon adalah   Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an.

[4] Schuon, ibid, halaman 58.

[5] Al-Hikam – Ibnu Attha’illah As-Sakandari, Wali Pustaka, 2016