Dimensi Kebajikan

Kebajikan berdimensi ganda [1]. Hal ini tercermin dari padanan katanya dalam Bahasa Inggris yaitu virtue atau dalam Bahasa Arab yaitu al-birr. Dalam kamus Bahas Inggris, kata virtue mengandung unsur integritas (integrity), adil (justice), sederhana (temperance), murni (purity), patut (decency), pantas (merit), beda (distinction), dan unggul (excellence)[2]. Dalam kamus Bahasa Arab kata al-birr mengandung unsur kejujuran (asshidieq) dan ketaatan (tha’ah), kebaikan (khair), kemasalahatan (ishlah), dan sebagainya[3].

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa semua unsur virtue maupun al-birr bernilai positif. Walaupun demikian, perbandingan yang cermat menujukkan bahwa konotasi dari dua kata itu sebenarnya tidak sepenuhnya sama: sementara yang pertama lebih banyak merujuk pada, meminjam istilah Schuon, kebajikan alamiah (natural value), yang kedua pada kebajikan supra-alamiah (supernatural value). Yang menjadi perhatian tulisan ini adalah yang kedua karena yang pertama hanya efektif jika diintegrasikan dengan yang kedua sebagaimana dinyatakan Schuon dalam kutipan berikut[4]:

Thus it is important to understand that the natural virtues have no effective value save on the condition of being integrated into the supernatural virtues….Natural virtue does not, in fact, exclude pride, that worst of illogicalities and that of preeminent vice; supernatural virtue alone –rooted in God—excludes that vice, in the eye of Heaven, cancels all the virtues. Supernatural virtue –which alone is fully human—coincide with humility; not necessarily with sentimental and individualistic humanitarianism, but with the sincere and well-grounded awareness of our nothingness before God and our relativity in relation to others. To be concrete, we would say that a humble person is ready to accept even a partially unjust criticism if it comprises grain of truth, and if it comes from a person who is, if not perfect, at least worthy of respect; a humble person is not interested in having his virtue recognized, he is interested in surpassing himself; hence in pleasing God more than men.

Adalah penting bagi kita untuk mengerti bahwa kebajikan alamiah tidak memiliki nilai efektif kecuali jika terintegrasikan ke dalam kebajikan supra-alamiah… Kebajikan alamiah tidak bebas dari kesombongan, sesuatu yang paling tidak logis dan merupakan induk dari segala keburukan; hanya kebajikan supra-alamiah –yang bersumber dari Tuhan—yang dapat terbebas dari keburukan yang dalam pandangan Langit dapat menghanguskan semua amal kebaikan. Kebajikan supra-alamiah –dan ini yang sepenuhnya manusiawi – berhimpitan dengan kebersahajaan; tidak harus sentimental atau sejalan dengan humilitiarisme individualistik, tetapi bertepatan dengan kejujuran dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan kita di hadapan Tuhan dan relativitas kita di hadapan yang lain. Agar kongkrit, kita dapat katakan bahwa seorang yang bersahaja siap menerima suatu kritik yang sekalipun sebagian tidak adil sejauh tetapi mengandung benih kebenaran, dan sejauh itu datang dari orang yang –jika tidak sempurna—paling tidak layak dihormati; seorang yang bersahaja tidak tertarik agar kebajikannya diakui, ia hanya tertarik untuk mengatasi dirinya; mencari lebih keridoan Tuhan dari pada pujian manusia.

Dari kutipan di atas dapat dipetik paling tidak dua macam pembelajaran yang saling terkait. Pertama, kebajikan (supra-alamiah) bebas dari kesombongan (pride) sehingga bertepatan dengan kebersahajaan (humility). Kedua, kebersahajaan ini berbasis nilai Ketuhanan (rooted in God) yaitu kejujuran (Arab: assiddieq) dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan diri di hadapan Tuhan dan mengenai kesetaraan atau relativitas dirinya di hadapan yang lain.

Dari kutipan di atas juga tersirat arti penting hubungan vertikal (“tali Allah”) dan hubungan horizontal (“tali manusia”) dalam konteks kebajikan; yang kedua ini merupakan basis dari kemurahan-hati (charity). Dua jenis “tali” ini perlu dipegang_teguh agar terhindar dari kehinaan (dzillah): “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanian) dengan manusia…”[5]

kebajikan

Varian Kebajikan[6]

Kebajikan (supra-alamiah) memungkinkan kebenaran (veracity) menjadi kongkrit, terlihat dan hidup: tanpa unsur kebajikan, kebenaran tidak tampak atau seolah-olah tidak bertubuh (imposture). Di sisi lain, dalam perspektif spiritual, kebajikan menjadi tidak bermakna jika tidak dilandasi kebenaran.

Uraian di atas juga menyinggung kaitan kebijakan dengan kebersahajaan dan kemurahan-hati, dua wujud dari kebajikan fundamental (fundamental value). Agar berkah atau manjur, masing-masing kebijakan fundamental itu perlu dipadukan sehingga menghasilkan dua varian kebajikan: (1) “kebersahajaan” bersifat “murah hati” (charitable humility) dan (2) “murah-hati” bersifat “bersahaja” (humble charity).

Karena merupakan wujud kebajikan, masing-masing kebajikan fundamental itu, agar bermakna, membutuhkan kebenaran sebagai landasan. Kombinasi kebenaran dengan kebersahajaan menurunkan dua varian kebajikan: (3) kebenaran yang bersahaja (humble veracity) dan (4) kebersahajaan yang benar (truthful humility). Pada sisi lain, kombinasi kebenaran dengan kemuahan_hati menurunkan varian kebajikan: (5) kebenaran yang murah hati (cahritable veracity) dan (6) kemurahan hati yang benar (truthful charity).

Hemat penulis, memahami 6 (enam) varian kebajikan penting selain untuk memperkaya pemahaman kita mengenai kebajikan tetapi, tetapi juga agar tidak terjebak dalam semangat atau kecenderungan untuk memberikan penekanan yang berlebihan yang tidak perlu (overemphasis) terhadap suatu kebajikan fundamental tertentu.

  • “Kebenaran yang murah hati” (varian ke-5), sebagai contoh, mengingatkan kita bahwa kebenaran bukan hanya untuk keperluan diri-sendiri tetapi perlu di-share dengan orang lain, tentunya dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dipahami.
  • “Kebersahajaan yang benar” (varian ke-4) dan “kemurah-hatian yang benar” (varian ke-6), sebagai contoh lain, menegaskan bahwa “kebersahajaan” dan “kemurah-hatian” harus sesuai dan mengungkapkan kebenaran, bukan bertentangan dengannya.

Contoh terakhir ini mengilustrasikan betapa tidak eloknya melakukan suatu aksi atas nama “kebenaran” tetapi mengabaikan “kebersahajaan” dan “kemurahan_hati” ketika melakukan aksi itu. Wallaahu’alam.

Teks Suci Mengenai Kebajikan

Kebajikan bersifat universal dalam arti dapat ditelusuri dalam teks suci semua agama atau tradisi besar manusia sepanjang sejarah. Dalam konteks Islam, narasi megenai kebajikan (al-birr) dalam berbagai kontkes antara lain dapat ditemkan dalam ayat-ayat al-Qur’an berikut:

  • Ayat (3,92): Kebajikan tidak dapat kita diraih kecuali jika kita mampu menafkahkan sebagian harta yang kita cintai;
  • Ayat (3:193): Doa agar digolongkan ke dalam golongan ahli kebajikan (al-abraar); dan
  • Ayat (2:44): Kecaman kepada Bani Israil yang menyuruh orang lain melakukan melakukan kebaikan tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.

Versi ayat yang agak panjang mengenai kebajikan dapat ditemukan dalam Ayat (2:177):

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, kitab-kitan, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicinatinya kepada kerabat, anak yaitim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menempati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka adalah orang-orang yang benar dan mereka iulah orang yang bertakwa[7].

Ayat itu menyebut ahli kebajikan sebagai orang-orang yang benar atau jujur (shodaquu) dan bertaqwa (muttaquun). Ayat itu mungkin paling lengkap dalam menggambarkan kebajikan karena mengandung unsur ketiga pilar Agama Islam (sesuai “hadits Jibril”)  yaitu Iman, Islam dan Ihsan:

  • Unsur Iman: percaya kepada Allah dan rukun iman lainnya,
  • Unsur Islam: melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan
  • Unsur Ihsan: memberikan harta yang dicintai kepada yang berhak, menempati janji, sabar dalam penderitaan.

Wallahu’alam bimuraadih….@

[1] Dalam situs ini dapat diakses tiga tulisan serupa dengan tulisan ini tapi lebih sederhana: (1) Rendah Hati (1/1/16), Kebajikan Fundamental (24/4/12) dan Kebenaran dan Kebajikan (21/4/12).

[2] Lihat misalnya, Webster’s Pocket Thesaurus, New Revised Edition (2002)..

[3] Lihat , misalnya, Kamus Lisaânul ‘Arabî.

[4] Frihjof Schuon (1988:51-52),  To Have A Center, World Wisdom Books.

[5] Al-Imran 112; terjemahan dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita.

[6] Disarikan dari Shuon, “Spiritual Perspectives and Human Facts”, World Wisdom online library: http://www.wordpresss.com/public/library/ default.aspx

[7] Dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita

Reuni Mistis

Reuni Mistis

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Istilah Reuni Mistis dalam tulisan ini mengacu pada fase ketiga, fase terakhir, dari siklus sejarah alam semesta termasuk kita. Ketiga fase itu adalah “tidak ada”, diadakan, dan “ditiadakan”. Ketiganya secara padat diungkapkan dalam teks suci: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”[1].

Fase pertama, “tidak ada”, bertanda kutip karena yang semua ada bersasal dari Dia SWT yang Maha Ada sehingga mustahil tidak ada dalam pengertian mutlak. Dalam alam azali sudah ada semacam pola, prototype atau ayyan tsabitah dari segala sesuatu yang dikongkritkan melalui misteri kun! (jadilah!) Khusus bagi manusia, prosesi penciptannya melalui perjanjian purba antara Khalik SWT dengan kita:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِينَ ﴿١٧٢﴾

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap itu” (7:172).

Ingatan pada momen itu, betapapun samarnya, tetap melekat dalam diri kita dan mustahil mampu kita hapuskan sama-sekali. Bagi sebagian orang terpilih, ingatan itu berubah menjadi semacam kerinduan laten, kerinduan mistis, untuk bertemu dengan-Nya. Bagi sebagian mereka, kerinduan mistis ini demikian kuatnya sehingga mampu menghambarkan semua jenis kenikmatan duniawi dan membunuh gairah untuk mengikuti perlombaan mengejar kekayaan duniawi seperti kebanyakan.

Kita sekarang dalam fase kedua, fase diadakan, tanpa tanda kutip. Karena sebelumnya “tidak ada” maka keberadaan kita pasti diadakan. Yang perlu dicatat adalah bahwa yang mengadakan kita pasti “lebih tinggi” dari kita; sangatlah absurd membayangkan kita yang memiliki kesadaran ini di-generate dari materi yang lebih rendah sebagaimana diimpikan oleh teori evolusi Darwinis.

Bagaimana dengan fase ketiga, fase “ditiadakan”? Kenapa bertanda kutip? Karena juga sangat absurd membayangkan sejarah kita berakhir dengan kematian. Mengenai ini kita memiliki pengetahuan bawaan sekalipun itu menakutkan sehingga kita terus mencoba mengabaikannya dengan segala cara. Kenapa menakutkan? Karena, suka atau tidak suka, kita mengetahui secara intuitif bahwa diri atau jiwa kita yang sebenarnya (self) bersifat “abadi”[2]. Melalui pintu kematian yang bersifat transisional, diri kita yang sebenarnya melanjutkan perjalanan pulang kembali kepada tujuan akhir segala, Dia SWT, untuk mempertanggungjawabkan kehidupan selama fase kedua, baik yang menyangkut urusan sepele maupun urusan besar. Suka atau suka, percaya atau tidak percaya, kita akan ber-reuni secara mistis dengan sumber hakiki kita.

Bagaimana mempersiapkan diri menghadapi reuni mistis itu? Yang pasti, bukan “bermegah-megah” (at-takatsur) atau turut serta dalam perlombaan mengejar kekayaan dan kekuasaan duniawi. Sayangnya, dorongan ‘bermegah-megah’ demikian kuatnya sehingga bagi sebagian kita tidak mereda sampai masuk liang kubur:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ﴿٥﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ﴿٦﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ﴿٧﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ﴿٨﴾

(1)               Bemegah-megah telah melalaikan kamu, (2) sampai kamu masuk ke dalam kubur, (3) Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (4) kemudian sekali-kali tidak, Kelak kamu akan mengetahui, (5) Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (6) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanim, (7) kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri, (8) kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

Bermegah-megah menggerus secara efektif kerinduan mistis untuk pulang ke kampung halaman sebenarnya, sesuatu yang akan berakhir dengan penyesalan tak_berkesudahan. Naudzu billâh min dzâlik. Wallahu’alam….@


[1] Al-Quran (2:156).

[2] Diberi tanda kutip karena bersifat relatif; yang abadi hanya Dia SWT, selainnya fana (lihat al-Qur’an (55:26-27)

Misteri Malam Qadar

Misteri Malam Qadar

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Bagi kaum muslimin, jika ada bulan istimewa maka itu adalah Bulan Puasa (Ramadhan), dan jika ada malam istimewa maka itu adalah Malam Qadar (lailat al-qadr). Para ulama sepakat Malam Qadar terjadi suatu malam dalam Puasa walaupun mereka berbeda pendapat mengenai ketepatan tanggalnya: ada yang berpendapat malam ke-17 (seperti halnya Perang Badar yang terkenal), ada yang ke-27, ada yang satu malam 2/3 bulan terakhir, atau mungkin ada lainnya. Perbedaan pendapat semacam itu dapat dipahami mengingat al-Qur’an tidak menyebutkan secara spesifik tanggal itu. Al-Qur’an– mungkin berbeda dengan kitab suci sebelumnya- agaknya lebih mengedepankan aspek substansi dari pada detail historis suatu peristwa. Gaya ini membuka ruang interpretasi dalam kalangan umat; akibatnya, terciptalah pluralisme tafsir mengenai Malam Qadar.

Ulama Salaf (sampai abad ke-3 Hijriah), karena sikap hati-hati, pada umumnya merasa enggan menafsirkan Malam Qadar dan ini bukan tanpa argumen. Bagi mereka Malam Qadar terkait dengan Kalam Ilahi yang bersifat abadi (qadim); konsekuensinya, tidak tepat berbicara mengenai ruang dan waktu mengenai “peristiwa” itu. Mereka cenderung mengatakan wallâhu’alam ( “Allah lebih tahu artinya”) jika diminta menafsirkan suatu ayat al-Qur’an yang bagi kebanyakan memerlukan tafsir.

Berbeda dengan Ulama Salaf, para ulama Khalaf (setelah abad ke-3 H) merasa bebas menafsirkan Malam Qadar walaupun selalu dilakukan secara hati-hati dan rendah hati[1]. Kajian mereka mengenai Malam Qadar sangat mendasar dan kritis Bahasan mereka mencakup isu-isu, misalnya, (1) Apakah Malam Qadar terjadi hanya sekali yaitu ketika turun lima ayat pertama Surat Al-‘Alq kepada Nabi Muhammad SAW di Guha Hira, atau terjadi berulang setiap datang Bulan Puasa? dan (2) Apakah al-Qur’an sekaligus (yakni pada Malam Qadar), atau bertahap selama 22 tahun, 2 bulan, 2 hari. Mengenai isu-isu ini pendapat para ulama yang tampaknya diterima oleh mayoritas umat adalah bahwa Malam Qadar terjadi setiap Bulan Ramadhan dan al-Qur’an turun sekaligus ke langit kedua tetapi selanjutnya disampaikan kepada Muhammad saw melalui malaikat Jibril secara bertahap.

Seperti disinggung sebelumnya, para ulama terdahulu selalu hati-hati dalam mengkaji masalah keagamaan. Khusus mengenai Malam Qadar, kehatian-hatian mereka sesuai dengan ayat ke-2 Surat al-Qadr[2]. Dalam kaitan ini layak dicermati pendapat Shihab[3]:

(Ketika menerjemahkan ayat ke-2) “Dan apakah yang menjadikan engkau siapapun engkau walaupun Nabi Muhammad saw tahu apa Lailat al-Qadar? Engkau tidak akan mampu mengetahui dan menjangkau secara keseluruhan betapa hebat dan mulianya malam itu. Kata-kata yang digunakan manusia tidak dapat melukiskannya dan nalarnya sukar menjangkaunya…” (Shihab, 426).

(Di bagian lain) “Ungkapan wa ma adraka tidak digunakan al-Qur’an kecuali menyangkut persoalan-persoalan besar dan hebat yang tidak mudah diketahui hakikatnya …” (Shihab, 427).

Pada Malam Qadar, diturunkan selain al-Qur’an (yang tidak disebutkan secara eksplisit), juga malaikat dan Ruh[4]. Seperti halnya, mengenai tanggal tepat Malam Qadar, al-Qur’an tidak merinci “peristiwa” “turunnya” malaikat dan Ruh yang konon, karena banyaknya malaikat yang “turun” menyebabkan Malam Qadar menjadi gelap gulita. Inilah misteri Malam Qadar! Perlu dicatat, istilah misteri dalam koneks ini dipahami dalam perspektif para tradisionalis sebagai terefleksikan dalam kutipan berikut[5]:

By ‘mystery’ we do not mean something incomprehensible in principle – unless it be on the purely rational level – but something which opens on to the Infinite, or which is envisaged in this respect, so that intelligibility becomes limitless and humanly inexhaustible. A mystery is always ‘something of God’.

Dengan ‘misteri’ dimaksudkan bukan sesuatu yang pada prinsipnya tidak dapat dimengerti – kecuali pada tingkatan rasional murni- tetapi sebagai sesuatu yang terbuka bagi yang Tak_terhingga, atau yang dibayangkan dalam semangat ini, sedemikian sehingga inteligibilitas menjadi tanpa_batas dan secara manusiawi tidak habis-habis. Suatu misteri selalu ‘sesuatu mengenai Tuhan’.

Apa yang patut dilakukan untuk menyongsong Malam Qadar? Wallahu’alam. Bagi penulis, “diturunkanya” (unzila) rahmat dan keberkahan dari “langit” pada Malam Qadar [berupa al-Qur’an, malaikat atau yang lain], layak direspon dengan cara “menaikkan” (mikraj, ta’ruju) jiwa penghuni “bumi” ke langit. Caranya, terserah kepada penghuni bumi itu sesuai dengan kapasitas dan tendensi spiritual masing-masing. Bentuknya, dapat beragam:

·         dengan memperbanyak ibadah, atau mempercantiknya;

·         dengan mempererat “tali Allah”, atau “tali manusia”;

·   dengan cara seorang hamba (Sansekerta: Bhakta) atau cara seorang ‘arif (Sanskerta: Jnâna);  atau

·         dengan sibuk melakukan “aksi” mentadabburi “rahasia” Ilahi, atau “non-aksi” secara damai (peace, serenity), salam[6] (Sanskerta: Shanti), menonaktifkan agitasi pikiran dengan harapan dapat mempermudah menerima curahan rahmat-Nya.

Hemat penulis, semua cara sama baiknya. Yang pasti, Malam Qadar terlalu berharga untuk dibiarkan lewat tanpa respon positif. Bukankah “harga”nya lebih baik dari pada 1000 bulan[7] atau 83 tahun? Wallâhu’alam bimuâdih….. @.


[1] Sejalan dengan semangat Ulama Salaf, para Ulama Khalaf memiliki tradisi kuata untuk mengucapkan atau menuliskan wallâhu’alam ketika mengakhiri kajian keagamaan mereka.

[2]وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

[3] M. Quraish Shihab (2003), Tafsir Al-Mishbah: Juz’Amma (Volume 15).

[4]تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

[5] Frithjof Schuon (2006:119), Gnosis Divine Wisdom, “Christic and Virginal Mystery”, World Wisdom.

[6] Kata “salam” tercantum dalam Surat al-Qadr ayat ke-5: سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ.

[7]لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ