Mengapa Ulama Klasik Tidak Takut pada Budaya Lokal?

Episode 2: Persia — Transfigurasi: Ketika Tauhid Menghidupkan

Warisan Peradaban

Salah satu kekuatan terbesar Islam dalam sejarah bukanlah kemampuannya menghancurkan, melainkan keberaniannya berdialog, menyeleksi, dan mentransformasi. Di mana Islam berjumpa dengan peradaban besar, ia tidak datang membawa palu—melainkan membawa cahaya Tauhid.

Kasus Persia adalah bukti paling terang. Sebuah peradaban tua, mapan, dan penuh kebanggaan kultural—namun tidak diperlakukan sebagai ancaman. Oleh para ulama klasik, Persia justru dilihat sebagai ladang subur bagi aktualisasi nilai-nilai Islam yang universal.

Dari Adaptasi Menuju Transfigurasi Islam tidak menghapus Persia. Ia menyucikan tanpa mematikan.

Dalam pemerintahan, Kekhalifahan Abbasiyah mengadopsi sistem birokrasi Sassaniyah: diwan, pajak (kharaj), dan tata kelola administratif. Ini bukan peniruan kosong, tetapi kecerdasan peradaban—agar Islam mampu bekerja efektif dalam masyarakat yang kompleks.

Dalam arsitektur dan seni, kubah, iwan, ukiran, dan kosmologi taman Persia (charbagh) diberi makna baru. Dari simbol imperial, ia berubah menjadi bahasa visual keagungan Ilahi. Kaligrafi Islam tumbuh subur di atas tradisi seni tulis Persia—keindahan yang berpadu dengan wahyu.

Dalam bahasa dan sastra, Persia tidak ditindas, tetapi dihidupkan. Jalaluddin Rumi memilih bahasa Persia untuk menyampaikan spiritualitas Islam yang lintas zaman dan lintas budaya. Islam tidak membungkam lokalitas—ia mengangkatnya ke panggung universal.

Sintesis Agung: Akal, Wahyu, dan Kearifan Lokal Lebih dalam dari bentuk lahir, Islam menghidupkan jiwa intelektual Persia.

Ibnu Sina menyatukan Neo-Platonisme, ilmu kedokteran, dan teologi Islam dalam karya-karya monumental yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Ia menunjukkan bahwa kebenaran ilmiah bersifat universal dan tidak bertentangan dengan iman.

Suhrawardi menghidupkan kembali hikmah cahaya Persia dalam Hikmat al-Isyraq—sebuah filsafat pencerahan yang memadukan rasio, intuisi spiritual (dzauq), dan wahyu. Warisan pra-Islam tidak ditolak, tetapi ditransfigurasi.

Puncaknya, Mulla Sadra membuktikan bahwa filsafat Islam tidak mati pasca Al-Ghazali. Melalui konsep al-harakah al-jawhariyyah (gerakan substansial), ia melahirkan filsafat yang hidup, dinamis, dan spiritual—sebuah sintesis tertinggi antara akal, wahyu, dan ‘irfan.

Pelajaran Besar untuk Kita Inilah keberanian intelektual ulama klasik: mereka tidak takut pada warisan pra-Islam, karena mereka yakin bahwa kebenaran—di mana pun ia ditemukan—adalah milik orang beriman yang paling berhak memungutnya (al-hikmah dhāllat al-mu’min).

Pertanyaannya kini berbalik kepada kita: Jika Islam mampu berdialog kreatif dengan peradaban Persia yang begitu kompleks—tanpa kehilangan Tauhid, bahkan melahirkan masa keemasan—mengapa hari ini kita justru sering takut pada budaya kita sendiri?

Mereka tidak takut pada budaya, karena mereka yakin pada Cahaya yang mereka bawa.

Dialog Abadi: Ṣadrā, Nietzsche, Rūmī, dan Pencarian Makna

Di sebuah ruang imajiner melampaui zaman, duduklah empat pemikir:

  1. Mullā Ṣadrā dengan ajaran gerak substansial menuju kesempurnaan;
  2. Friedrich Nietzsche dengan gema “Tuhan telah mati” dan kritiknya pada agama yang membelenggu;
  3. Martin Heidegger dengan analisis manusia yang terlempar di dunia; serta
  4. Jalāl al-Dīn Rūmī yang menyaksikan dengan mata hati.

Inti dialognya begini:

  • Nietzsche menggugat: “Agama adalah penjara!” Ṣadrā menjawab: “Tapi spiritualitas adalah sayap.”  Dia menawarkan dua sayap kebenaran: akal yang jernih dan hati yang bercahaya. Bukan dogma yang membeku, melainkan pendakian jiwa menuju pengenalan hakiki.
  • Heidegger melihat manusia sebagai proyek yang berakhir dalam ketiadaan. Ṣadrā melihatnya sebagai perjalanan substansial menuju Sumber Eksistensi. Di sini, setiap perubahan diri bukanlah kesia-siaan, melainkan langkah terarah menuju makna.

Rūmī tersenyum dari sudut ruangan, berbisak lembut: 

“Ada lilin di dalam hatimu, siap untuk dinyalakan. Ada kekosongan di dalam jiwamu, siap untuk diisi. Kau merasakannya, bukan?“

(“There is a candle in your heart, ready to be kindled.
There is a void in your soul, ready to be filled.
You feel it, don’t you?”)

Dialog ini bukan perdebatan siapa menang atau kalah. Ini adalah undangan untuk menyadari bahwa dalam diri kita telah tertanam potensi transenden. Pertanyaannya menurut Rumi:

“Dan kamu? Kapan akan memulai perjalanan panjang ke dalam dirimu sendiri?”(And you? When will you begin that long journey into yourself?”)