The Golden Rule: Meditation, Concentration, and Prayer

The Golden Rule is often said to encapsulate the essence of all religious teachings: “Love God with all your strength and love your neighbor as yourself” [1]. Within this rule, “love” signifies an act of intelligence grounded in true faith (Iman), an act of will to align with the truth of that faith, and an act of the heart to fully assimilate that truth. In this profound sense, love demands the complete participation of one’s being: intelligence, will, and heart alike.

What, then, is its connection to meditation? The answer depends entirely on how meditation is defined. If understood broadly as “the act or process of spending time in quiet thought” [2], then meditation bears no direct relation to the Golden Rule. However, the link becomes profoundly intimate when meditation is viewed from the traditionalist perspective as “contact between intelligence and Truth.” To grasp this meaning more fully, consider the following excerpt from a leading figure in this school of thought:

“Another mode of orison is meditation; contact between man and God here becomes contact between intelligence and Truth, or relative truths contemplated in the Absolute. … Meditation acts on the one hand upon the intelligence, in which it ‘awakens’ certain consubstantial ‘memories,’ and on the other hand upon the subconscious imagination, which ends up incorporating into itself the truth meditated upon, resulting in a fundamental and quasi-organic persuasion” [3].

From this passage, it is evident that meditation carries a vast and profound significance—far broader and deeper than standard dictionary definitions suggest. In other words, the common understanding of meditation has been degraded, stripped of the elements that evoke the divine. This degradation, as the traditionalists argue, applies to many key terms in religious metaphysics, including “intellect” [4].

What, then, is the role of meditation? From the traditionalist viewpoint, its primary function is to “open the soul”:

“The role of meditation is thus to open the soul, first to the grace that draws it away from the world, second to what brings it nearer to God, and third to what reintegrates it into God, if one may speak in this way; however, reintegration may be only a fixation in a given ‘beatific vision,’ that is, a still indirect participation in divine Beauty.”

If meditation pertains to Truth and the intelligence, then concentration pertains to the Way and the will. While meditation and concentration represent the respective “practices” of intelligence and will, what practice does prayer (Salat) embody? It can be seen as the practice of the heart or the soul. Together, meditation, concentration, and Salat vividly illuminate the spiritual life and its primary modes. Regarding Salat, the following reflection from Schuon merits deep contemplation:

“Prayer—in the widest sense—triumphs over four accidents of our existence: the world, life, the body, the soul; we might also say: space, time, matter, desire. It is situated like a shelter, like an islet. In it alone are we perfectly ourselves, because it puts us in the presence of God. It is like a diamond, which nothing can tarnish and nothing can resist [5]”.

Endnotes:

[1] In the Islamic context, this Golden Rule is formulated as the principle of maintaining the vertical bond with the Absolute (hablun min Allah) and the horizontal bond with fellow humans (hablun min al-nas). Degradation befalls anyone who neglects these two essential connections. Wa Allāhu a’lam.

[2] Merriam-Webster’s Advanced Learner’s English Dictionary.

[3] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, “Modes of Prayer” (2005, p. 59).

[4] According to Merriam-Webster, intellect is “the ability to think in a logical way.” For traditionalists, its meaning is far broader: “at once a mirror of the supra-sensible and itself a supernatural ray of light” (See Valodia in Glossary of Terms Used by Frithjof Schuon, undated). [5] Frithjof Schuon, Prayer Fashions Man, “The Servant and Union” (2005, p. 182).

Salat: Ibadah Istimewa dan Kedalaman Maknanya

Salat Sempurna

Salat (Shaläh) adalah ibadah istimewa. Indikasi keistimewaannya terlihat dalam banyaknya ayat Al Qur’an mengenai Salat; juga, dalam suatu hadits Rasul saw yang mengungkapkan “bebas-periksa-amal” bagi yang Salatnya sudah sempurna.

Dalam Al-Qur’an paling tidak kita dapat menemukan 12 ayat mengenai Salat[1]. Salah satunya Ayat ke-53 Surat Al-Baqarah: “Dan laksanakanlah Salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah besama orang yang rukuk” (2:43). Dalam ayat ini perintah Salat menggunakan kata ‘aqïïmu’ yang terjemahkannya kira-kira ‘laksanakanlah secara sempurna”. Sempurna dalam arti apa? Menurut Shihab dalam arti ‘memenuhi rukun dan syaratnya serta bersinambung’ (Shihab, 2002:176)[2].

Pertanyaannya adalah apakah dengan “memenuhi rukun dan syaratnya serta bersinambung” Salat sudah dapat dikatakan benar-benar sempurna. Jawabannya “ya” jika dilihat dari tilikan usul fikih, tetapi “belum tentu” jika dilihat dari tilikan lain, misalnya, dari sisi pencapaian tujuan dan sikap mental ketika Salat:

  • Tujuan Salat adalah untuk “mengingat-Ku”, firman-Nya (20:14). Jika tujuan ini belum tercapai maka tidak realistis untuk mengklaim Salat sudah sempurna. Mengingat-Nya tentu tidak hanya ketika Salat tetapi juga setelah Salat; dengan kata lain, menyadari kehadiran-Nya setiap saat (omnipresent). Kesadaran inilah yang diperlukan agar Salat berdampak positif pada tingkat individu (taqwa, hablum-min-Allah dan mencegah melakukan tindakan keji atau fahsyä) maupun pada tingkat sosial (hablum-minan-näs, menghargai makluk-Nya terutama manusia).
  • Menurut firman-Nya juga, Salat itu berat kecuali bagi orang yang khusyu’ (2:45), orang yang oleh yang yakin akan bertemu dengan dan akan kembali kepada ‘tuhan mereka’. Khusyu’ dapat dikatakan sebagai syarat substansial (yang dapat dibedakan dengan syarat formal) kesempurnaan Salat.

Makna Sosial Salat

Salat diawali ucapan ‘Allahu Akbar’[3]. Ucapan singkat ini ‘membuka komunikasi sangat pribadi dengan Allah swt’, ucapan yang merupakan ‘lambang dari iman, dari taqwa, dari ikhlas, dan dari segala sesuatu yang bersifat pribadi’. Tetapi itu tidak cukup karena Salat harus diakhiri dengan ucapan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri, ‘menandakan bahwa setelah khusyu berkomunikasi dengan Allah, kita tidak boleh melupakan komunikasi kita dengan lingkungan sosial kita’ (Majid, 2000:82)[4]. Ucapan salam ini merupakan rukun Salat yang tanpanya Salat menjadi tidak sah: kedudukan rukun dari ucapan salam ini menegaskan makna sosial dari Salat.

Makna sosial Salat juga terlihat dalam fakta bahwa perintah Salat dalam Al-Qur’an hampir selalu diikuti oleh perintah Zakat. Masih terkait dengan makna sosial ini, isyarat yang mungkin paling lugas dapat ditemukan dalam Surat Al-Ma’un (Surat ke-107) yang mengecam orang-orang yang Salat tetapi mengabaikan fakir miskin dan menggelari mereka sebagai pendusta agama:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang mengahrdik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang Salat (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap Salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan.

Sum Ergo Oro: I am, therefore I pray

Salat menyimbolkan sesuatu yang sangat dalam artinya. Meminjam istilah Schuon sebagaimana dikutip oleh Kazemi[5], Salat merupakan imperatif eksistensial (existential imperative) dalam arti merupkan keharusan bagi keberadaan kita sebagaimana manusia.

Untuk memperjelas maksudnya Schuon memulai dengan mengetengahkan pandangannya mengenai hubungan antara ego, pikiran (mind) dan hati. Dalam pandangannya, gagasan atau ide-ide yang hanya berada dalam fakultas mental berisiko terlupakan bahkan “terjebak dalam sifat ketidak-peduli-an alamiah kita”. Jika ego adalah ‘semacam kristalisasi dari kelalaian kepada Tuhan, maka otak adalah ‘organ bagi kelalaian itu, semacam parasit yang penuh dengan bayangan hirik-pikuk dunia yang timbul-tenggelam’. Hati, di lain pihak, merekam ingatan laten kita kepada Tuhan yang tersembunyi jauh di bawak ke-Aku-an (I) kita’. Lalu, apa hubungannya dengan Salat? Schuon menjelaskan, melalui Salat hati seolah-olah naik ke permukaan untuk mengambil alih peran otak yang kemudian tidur dalam kesucian; tidur ini menyatukan dan mengentengkan dan jejak dasarnya dalam jiwa adalah kedamaian. “Saya tidur tetapi hati saya bangun”[6].

Schuon lebih lanjut mengungkapkan bahwa Salat merupakan kunci metafisikal bagi keselamatan manusia. Bagaimana? Dengan cara merealisasikan atau membuat riil apa yang difahami secara mental. Karena alasan ini Salat tidak dapat dianggap secara sederhana sebagai tindakan individual, tetapi memiliki impratif eksistensial. Ia merumuskan ide-idenya dalam kalimat yang sangat padat: “The very fact of our existence is a prayer and compels us to prayer, so that it could be said: “I am, therefore I pray; sum ergo oro.” Ungkapan ini dapat dilihat sebagai reformulasi— atau lebih tepatnya refutasi– dari ungkapan ‘Bapak’ dunia modern Descartes yang sangat terkenal: cogito ergo sum (I think threfore I am– Saya berfikir oleh karena itu saya ada).

Jika kebanyakan kita sukar memahami rumus “cogito ergo sum” dari Decartes, maka lebih-lebih mengenai rumus “sum ergo oro” dari Schuon. Oleh karena itu kita memerlukan seorang yang kompeten untuk menjelaskannya rumus Schuon itu. Untuk maksud ini berikut disajikan kutipan agak panjang dari Kazemi (1998:94)[7]:

Tidak dapat dibayangkan ada ilustrasi lain yang lebih singkat dari rumusan itu yang dapat menjelaskan jurang pemisah antara ‘kebodohan inteligensi’ (intelligence stupidity) dari Cartesianism dan realisme metafisik dari perspektif Schuon. Untuk eksis -–yang tidak bisa diragukan oleh seorang waras pun –adalah untuk menyadari kebutuhan akan Salat, yakni menyadari kebutuhan untuk mengatasi eksistensi. Karena jika, di satu sisi, keberadaan universal adalah Salat atau himne kepada Sang Pencipta, di sisi lain, jarak pemisah antara ciptaan dan Tuhan menyiratkan keserbalainan, penyangkalan, kontradiksi. Kesadaran akan ruang kosong (hiatus) antara eksistensi dan Prinsipnya mendorong seseorang naik ke atas untuk menggapai Tuhan, untuk setia kepada panggilannya. Fakta ek-isting, ‘berdiri terpisah’ dari Allah, karenanya merupakan motif untuk melaksanakan Salat secara sungguh-sungguh.

Ringkasan: Salat adalah ibadah istimewa dilihat dari berbagai tilikan, bersifat sangat pribadi dengan Rabb, tetapi sekaligus memiliki makna sosial. Keistimewaannya juga terlihat dari kedalaman makna eksistensialnya bagi manusia. Wallähu ‘alam…..@

Sumber: Google

[1] Ke 12 Ayat itu dapat ditemukan dalam berbagai Surat dalam konteks: (2:43,83,110), (4:77,103), (6:72), (10:87), (22:78), (24:56), (30:31), (58:13), (73:20). Angka pertama dalam setiap tanda kurung merujut Surat, yang lainnya Ayat.

[2] Lihat M. Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, Volume I (2002:176). Menurut beliau, kata ‘aqïmu’ adalah kata kerja perintah (fiil ‘amr) yang berasal dari kata ‘aqäma’ atau (‘aqwama’)– dengan timbangan atau wazan ‘af’ala’ yang kira-kira berarti ’melaksanakan sesuatu pada waktunya, ‘berbentuk’ (untuk Salat berarti dilakukan dengan gerak dan postur tubuh tertentu), tertib urutan-urutanya, menghasilkan sesuatu, sungguh-sungguh, serta penuh kehidmatan; singkatnya secara sempurna. Jadi terjemahan bebas ‘dirikanlah’ untuk kata ‘aqïmu’, sebagaimana umumnya digunakan, tidak tepat karena yang terakhir ini timbangannya ‘qäma’ (telah mendirikan), bukan ‘aqäma’.

[3] Di sini kita merujuk pada Salat Kanonoik (canonical prayer), Salat yang pelakunya adalah manusia tetapi “pengarang” tata-caranya adalah Rabb. Mode Salat ini dapat dibedakan dengan Salat Individual (individual prayer) kita kenal dengan istilah doa; dalam hal ini pelaku dan “pengarangnya” adalah manusia. Mengenai yang terakhir ini dapat dirujuk: https://uzairsuhaimi.blog/2016/11/05/doa-personal/

[4] Majid, Nurholish, Perjalanan Religius ‘Umrah Haji, PARAMADINA.

[5] Reza Shah-Kazemi (1998), “Frithjof Schuon and Prayer’, Vincit Omnia Veritas III,1; aslinya dipublikasikan dalam Sophia 4,2 (Winter 1998).

[6] Dikutip Kazemi, ibid.

[7] Ibid.

 

← Back

Thank you for your response. ✨

Salat sebagai Wahana Latihan Mati

mati

 

Durasi hidup kita adalah jalur sempit yang semakin menyempit dan berujung pada kematian[1]. Dalam jalur itu ada dua kepastian yang menentukan segalanya: “masa kini” dan “kematian”. Yang pertama, penuh kebebasan[2]; yang kedua, tanpa kebebasan karena semuanya di “tangan” Tuhan.

Salat –dalam pengertian “ibadah mahdhah” atau “cannonical prayer[3]—dapat dikatakan identik dengan kematian. Kenapa? Karena dalam Salat maupun “kematian” tidak ada kebebasan: kebebasan gerak, kebebasan bicara, kebebasan bersikap, atau kebebasan lainnya.

  • Ketika Salat, gerakan tubuh maupun ucapan mesti megikuti aturan tertentu sesuai “pakem” atau kanonikal; tidak ada ruang bagi kebebasan atau inisiatif;
  • Ketika salat, kedua kepastian itu –“masa kini” dan “kematian”—bertemu; tepatnya “waktu” berhenti di hadapan Salat; dan
  • Ketika salat, dua kepastian lainnya juga bertemu: “bertemu Tuhan” dan tenggelam dalam “keabadian”.

Singkatnya, Salat mempertemukan empat kepastian: “masa kini”, “kematian”, “bertemu Tuhan” dan “keabadian”[4]. Itulah sebabnya orang cerdas[5] melaksanakan Salat selain sebagai suatu kewajiban agama tetapi juga sebagai wahana untuk latihan mati.

Selain latihan mati, apa yang layak dilakukan pada “masa kini” sebelum “bertemu Tuhan”? Jawaban singkat: dzikir. Simak saja ini:

 

57-16

 

Belum tibakah waktunya bagi orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang fasik (QS 57:16)[6].

 

Wallahualam bi muradih…..@

 

[1] Lihat At-Takastsur (Qur’an: Surah 102)

[2] Kebebasan itu tentu saja tidak mutlak karena manusia secara niscaya adalah makhluk kontingen yang terikat ruang dan waktu.

[3] Pelaku Salat dalam pengertian ini kedudukannya bukan sebagai manusia “tertentu” atau yang “menyejarah” (such a man), tetapi manusia fithrah (man as such) bersama makhluk lainnya.

[4] Lihat “Makna Hidup da Salat” dalam blog ini.

[5] Orang cerdas adalah orang yang mengetahui atau mampu membedakan mana yang prioritas, esensial, penting dan menentukan.

[6] Al-Mizan (2008): Al-Qur’an disertai Terjemahan & Transliterasi.

Makna Hidup dan Salat

Hidup bukanlah semacam ruang kemungkinan yang menawarkan berbagai kesenangan hidup sebagaimana dipercayai oleh anak-anak dan orang-orang duniawi (worldly people); hidup adalah jalan yang semakin menyempit, dari momen masa kini ke kematian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian; semua realitas itu sudah hadir dalam Salat; dalam aktualitas nir-waktu dari Kehadiran ilahiah.

kali1000

Sumber: Google

Apa yang penting bukanlah keragaman pengalaman hidup sepanjang bentangan ajaib yang kita sebut durasi, tetapi ketekunan dalam “kenangan” (“rememberance”) yang membawa kita keluar dari waktu dan mengangkat kita mengatasi harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita. Kenangan ini sudah ada dalam keabadian; di dalamnya, rangkaian aktivitas hidup hanyalah ilusi yang menjadi satu dalam Salat; Salat dengan demikian sudah merupakan suatu kematian, suatu pertemuan dengan Tuhan, suatu keabadian dalam kebahagiaan.

Apakah arti dunia kalau bukan aliran bentuk-bentuk (forms), dan apakah arti hidup kalau bukan suatu bejana yang dikosongkan dari satu malam ke malam lainnya? Dan apakah arti Salat kalau bukan satu-satunya titik stabil –terbuat dari kedamaian dan cahaya—di dalam dunia mimpi ini dan dalam gerbang sempit yang membawa kita pada suatu “tempat” dimana semua yang ada dalam dunia dan kehidupan ini menjadi remeh? Dalam kehidupan manusia, empat kepastian adalah segalanya: momen sekarang, kematian, bertemu Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah pintu keluar dari dunia yang menjadi tertutup; bertemu Tuhan layaknya suatu pembuka jalan yang mengarah pada ketakterbatasan yang penuh cahaya dan tak berubah.

Keabadian adalah kelimpahan cahaya murni; dan masa kini adalah suatu tempat yang hampir tak terfahami dalam durasi kita yang sudah abadi—suatu tetesan keabadian di tengah perubahan bentuk dan melodi; Salat memberikan daya penuh kebadian dan nilai-nilai ilahiah dalam titik waktu duniawi; Salat adalah kapal suci yang mengantarkan muatannya, melalui kehidupan dan kematian, menuju pelabuhan berikut, menuju keheningan cahaya. Dan lebih dari itu, dalam level yang lebih dalam, bukannya Salat yang berlalu dalam waktu; waktu itulah yang berhenti di hadapan Salat yang sudah menjadi kesatuan utuh dan keunikan surgawi dari Salat.

Catatan: Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari Prayer Fashions Man: Fritjhof Shuon on Spiritual Life, World Wisdom, Inc., halaman 75.

Takdir Manusia

Takdir Manusia (Human Destiny)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Takdir manusia adalah mengetahui. Mengetahui apa? Mengetahui yang Mutlak (the Absolute) atau yang Riil (the Real), yang berbeda dengan yang relatif atau yang tidak (kurang) riil. Kemampuan membedakan itulah fungsi intelegensi; tanpa fungsi itu intelegnsi bukan apa-apa. Pengetahuan mengenai yang Mutlak menghadirkan kesadaran mengenai keberadaan pusat (sense of the center) yang dibutuhkan agar tidak tersesat atau terombang-ambing tanpa arah. Thawaf, ritual mengeliling Ka’bah, antara lain dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran ini. Pengetahuan mengenai yang Mutlak juga menghadirkan perasaan mengenai kesucian (sense of the holy) yang dibutuhkan agar tetap bermartabat sebagai manusia.

dest_3

Mengetahui Dia yang Mutlak adalah alasan hakiki keberadaan manusia. Tanpa pengetahuan itu kita tak_layak dikategorikan sebagai manusia karena tidak sesuai dengan takdir atau alasan keberadaannya. Simak dan renungkanlah hadits qudsi ini: “Aku adalah harta karun; Aku ingin dikenal maka Aku menciptakan”. Menciptakan apa? Menciptakan alam semesta, kosmis maupun metakosmis, yang saripati atau quintessence-nya adalah manusia. Langit dan bumi  dengan segala isinya menolak menerima “amanah” mengetahui-Nya dengan satu kekecualian: kita, manusia. Ketika dalam alam purba (hari “alastu”) berkomitmen untuk menerima amanah itu beserta semua konsekuensi logisnya.

Nama yang Mutlak

Yang Mutlak memiliki 99 nama yang indah (asmaul husna); yang terindah tercantum dalam dua ayat pertama Al-Imran: “Allah Tidak ada Tuhan Selain Dia yang Hidup dan Mandiri). Asma Allah tersusun dari empat huruf yaitu Alif, Lam, Lam dan Ha(besar) merujuk pada dzat-Nya. Asma itu unik:

  • jika huruf Alif dihilangkan maka ia akan menjadi “lillâh”, “bagi Allah”: “Bagi Allah apa yang yang ada di langit dan di bumi (ayat);
  • jika selanjutnya huruf Lam pertama dihilangkan maka ia menjadi “lahû”, milik atau hak ekskulif Allah: Milik Allah kerajaan langit dan bumi (ayat); dan
  • jika selanjutnya huruf Lam kedua dihilangkan maka ia menjadi H yang merujuk kata ganti ketiga, “Hua”, Dia: “Dia yang menciptaanmu dari jiwa yang satu.

Singkatnya, sekalipun asma dzat-Nya itu dipilah-pilah maka hasilnya tetap saja merujuk pada yang Satu. Sebagai catatan, keutamaan ayat Qursi antara lain terletak pada fakta bahwa ayat itu paling banyak mengandung kata ganti nama-Nya: “Lahû”, “Hua”, “Hu”, dst. Sebagai catatan tambahan, sebagian sufi mentradisikan banyak berdzikir dengan hanya menyebut Hua (bukan menyebut Allah secara lengkap) dengan alasan yang menarik: yang Mutlak hanya Allah maka kata ganti ketiga, Dia, pasti merujuk pada-Nya; melafalkan secara legkap asma Allah dalam dzikir yang intens bagai mereka dianggap sebagi tanda meragukan kemutlakan-Nya yang ekslusif.

Pengetahuan mutlak

Mengetahui yang Mutlak bersifat mutlak. Kenapa? Karena pengetahuan itu melekat (built-ininscribed) dalam setiap diri kita yang mustahil dapat dihilangkan secara mutlak. Juga karena kita memilki hati (qalb) yang fungsinya sebagai cermin untuk menerima pancaran ilahiah dari yang Mutlak. Pengetahuan mutlak itu dengan demikian identik dengan pengetahuan diri yang sebenarnya (self); bukan diri sebagi makhluk fisikal, emosional atau intelektual, tetapi dir sebagai makhluk jiwani (spiritual). Karena diciptaan oleh-Nya, maka esensi, hakikat atau saripati kita adalah jiwani: kita bukan tubuh yang memilki jiwa, tetapi jiwa yang tengah “terperangkap” dalam tubuh tertentu. Dengan perkataan lain, kita bukan tubuh yang berjiwa, tetapi jiwa yang bertubuh. Apa bukti kita adalah mahluk jwani? Segala yang ada di kolong langit ini pasti tidak akan pernah dapat memenuhi keinginan hati yang tak-tarbatas kecuali Dia yang Mutlak yang Tak-terbatas (the Infinite Absolute).

Konsekuensi pengetahuan mutlak

Pengetahuan yang Mutlak secara benar berarti menarik konsekuensi yang benar dari pengetahuan itu. Apa itu? Mentransendenkan-diri secara vertical dengan-Nya; atau dalam bahas agamanya, mengambakan-diri kepada-Nya, taabbud! Jika mengetahui yang Mutlak merupakan fungsi inteligensi, maka menghambakan diri kepada-Nya merupakan fungsi kehendak. Dalam konteks ini istilah munafiq dapat dilihat sebagai ketidakmampuan menarik konsekuenasi yang benar dari pengetahuan mutlak. Seorang munafiq bisa jadi melakukan salat tetapi ketika salat ingatan kepada-Nya hanya sedikit: “…walâ yadzkurûna allâha illâ qalîlâ” (ayat).

Transendesi-diri secara verikal menuntut transendensi-diri secara horizontal: hablum minallah dan hablum minan nas. Yang terakhir ini artinya mencintai semua makhluk di bumi yang merupakan simbol atau ayat keberadan-Nya: “Cintailah yang di bumi maka makhluk yang di langit akan mencintaimu” (Hadits).

Sinopsis

Singkatnya, takdir manusia adalah mengetahui yang Mutlak (fungsi inteligensi) dan menaraik konsekunesi yang benar dari pengetahuan itu (fungsi kehendak). Menarik konskuensi yang benar berati mentransendensi-diri secara vertical maupun secara horizontal. Yang terakhir ini wujudnya adalah mencintai makhluk bumi dalam kedudukannya sebagai simbol atau ayat keberadaan-Nya. Dalam analisis terakhir, takdir manusia adalah kembali kepada-Nya dengan mengikuti atau melawan takdirnya. Mereka yang memilih “melawan” takdirnya memerlukan proses penyucian diri dalam neraka-Nya (naudzu billah) sebelum layak menghadap_nya…..@

Kabul 22/4/2013