Makna Batiniah Wudu

Istilah wudu (abolition) merujuk pada aktivitas pembasuhan sebagian anggota tubuh tertentu khususnya pada bagian muka, kedua belah tangan sampai siku, dan kedua pasang kaki sampai pergelangan kaki. Secara lahiriah, tindakan pembasuhan itu bersifat fisikal atau duniawi (profan). Walaupun demikian, wudu mengandung makna beyond tindakan profan karena intensi, “niat-ingsun” atau motivasinya adalah membebebaskan, membersihkan atau menyucikan dari dari segala sesuatu yang bersifat tidak suci (hadats). Inilah yang penulis maksdukan dengan “makna batiniah” (the inner meaning) wudu.

Penegasan mengenai makna batiniah wudu dapat dilihat dari praktek para ulama yang melafalkan bacaan-bacaan tertentu ketika membasuh anggota tubuh tertentu ketika berwudu. Sebagai ilustrasi, ketika membasuh kaki, sebagian ulama membaca lafal doa “Allâhumma tsabbit qadamayya ‘alas shirâti yauma tazillul aqdâmu fin nâri”; yang artinya kira-kira, “Wahai Tuhanku, tetapkan kedua kakiku di atas shirat pada hari ketika banyak kaki manusia terpeleset di api neraka,”[1] Dalam lafal do’a itu tampak bahwa kaki melambangkan keseluruhan jalan hidup kita di dunia ini.

wudhu107

Menurut fikih wudu hukumnya bersifat anjuran (sunat) tetapi menjadi keharusan (wajib) ketika hendak melakukan salat (atau tawaf): wudu merupakan prasyarat sahnya salat (atau tawaf). Dengan berwudu seseorang menjadi terbebas dari ketidaksucian atau hadats kecil yang secara umum tidak kasat mata[2].

Dalam praktek, anggota tubuh yang dibasuh dalam berwudu tidak hanya mencakup wajah, tangan dan kaki, tetapi juga mulut, hidung dan telinga. Seperti disinggung sebelumnya, masing-masing anggota tubuh itu mengandung simbol kekotoran tertentu yang harus disucikan ketika seorang hamba siap menghadap-Nya. Tangan, misalnya, menurut Schuon menyimbolkan tindakan-tindakan duniawi (profan) secara umum. Untuk lengkapnya, berikut ini disajikan ungkapan Schuon mengenai makna simbolis anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu:

In abolition, the hand refers to profane actions; the mouth to the impurities contracted knowingly; the nose to the impurities contracted unwillingly and unconsciously; the face to the shame of sin; the forearms to impure intention; the ears to deafness with regard to the divine Words; the head to pride; the ears to waywardness. Or in positive terms: the purified hand to spiritual actions; the mouth to active purity; the nose to passive and unconsciousness purity; the face to the state of grace; the forearms to purity of intention; the ears to the receptivity to the divine Words or to spiritual or angelic inspirations; the heads to humility before God, hence to awareness of our nothingness;the feet to our qualification for the path of contemplation (Schuon: 145-146)[3]

Dari kutipan di atas tampak bahwa masing-masing anggota tubuh melambangkan suatu aspek ketidaksucian atau ketidakmurnian tertentu yang melekat dalam diri kita sehingga perlu dimurnikan terlebih dahulu sebelum menghadap Dia yang Maha_Suci:

·      Tangan : Tindakan duniawiah (profan);
·      Mulut : Kekotoran yang dilakukan secara sengaja;
·      Hidung : Kekotoran yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar;
·      Wajah : Keburukan aib dosa;
·      Lengan : Kekotoran niat; dan
·      Telinga : Ke-tidak-patuhan.

Dari kutipan di atas juga tampak bahwa setelah dimurnikan masing-masing anggota tubuh itu mengandung suatu aspek kesucian tertentu:

·      Tangan : Tindakan spiritual;
·      Mulut : Kemurnian yang bersifat aktif;
·      Hidung : Kemurnian yang bersifat pasif dan tanpa sadar;
·      Wajah : the state of grace;
·      Lengan : Kemurnian niat;
·      Telinga : Kesiapan menerima Firman ilahiah atau inspirasi spiritual;
·      Kepala : Kerendahan hati di hadapan Tuhan; dan
·      Kaki : Kualifikasi untuk menempuh jalan kontemplasi.

Keharusan wudu sebelum menghadap-Nya melalui salat menghendaki agar kita terbebas dari semua bentuk “kekotoran”: keterikatan terhadap semua urusan duniawi serta terbebas dari semua jenis kekotoran, aib dosa, kekotoran niat, dan dari semua bentuk ketidak-patuhan. Hemat penulis, semua ini mengisyaratkan bahwa Dia hanya berkenan menerima kita jika keseluruhan individualitas kita sudah murni dalam arti terbebas dari semua bentuk kekotoran itu. Pertanyaan restropektif: Apakah kualifikasi itu berlaku untuk mengahadap-Nya melalui pintu kematian? Astagfirullah…. @

[1] Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta; http://www.nu.or.id/post/read/66243/doa-basuh-kaki-kanan-saat-wudhu;

[2] Untuk terbebas dari hadats besar seseorang harus mandi dengan niat khusus yakni bersuci dari hadats besar.

[3] Frithjof Schuon, Sufism: Veil and Quintessence (2006), World Wisdom, Inc. Nama muslim Schuon adalah Isa Nur ad-Din, nama yang konon diberikan oleh Shaykh Ahmad al-Alawi, pendiri salah satu tarekat sufi di Aljazair pada tahun 1930-an. Schuon adalah Syech dari tarekat itu sampai akhir hayatnya (May, 1998).

Makna Hidup dan Salat

Hidup bukanlah semacam ruang kemungkinan yang menawarkan berbagai kesenangan hidup sebagaimana dipercayai oleh anak-anak dan orang-orang duniawi (worldly people); hidup adalah jalan yang semakin menyempit, dari momen masa kini ke kematian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian; semua realitas itu sudah hadir dalam Salat; dalam aktualitas nir-waktu dari Kehadiran ilahiah.

kali1000

Sumber: Google

Apa yang penting bukanlah keragaman pengalaman hidup sepanjang bentangan ajaib yang kita sebut durasi, tetapi ketekunan dalam “kenangan” (“rememberance”) yang membawa kita keluar dari waktu dan mengangkat kita mengatasi harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan kita. Kenangan ini sudah ada dalam keabadian; di dalamnya, rangkaian aktivitas hidup hanyalah ilusi yang menjadi satu dalam Salat; Salat dengan demikian sudah merupakan suatu kematian, suatu pertemuan dengan Tuhan, suatu keabadian dalam kebahagiaan.

Apakah arti dunia kalau bukan aliran bentuk-bentuk (forms), dan apakah arti hidup kalau bukan suatu bejana yang dikosongkan dari satu malam ke malam lainnya? Dan apakah arti Salat kalau bukan satu-satunya titik stabil –terbuat dari kedamaian dan cahaya—di dalam dunia mimpi ini dan dalam gerbang sempit yang membawa kita pada suatu “tempat” dimana semua yang ada dalam dunia dan kehidupan ini menjadi remeh? Dalam kehidupan manusia, empat kepastian adalah segalanya: momen sekarang, kematian, bertemu Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah pintu keluar dari dunia yang menjadi tertutup; bertemu Tuhan layaknya suatu pembuka jalan yang mengarah pada ketakterbatasan yang penuh cahaya dan tak berubah.

Keabadian adalah kelimpahan cahaya murni; dan masa kini adalah suatu tempat yang hampir tak terfahami dalam durasi kita yang sudah abadi—suatu tetesan keabadian di tengah perubahan bentuk dan melodi; Salat memberikan daya penuh kebadian dan nilai-nilai ilahiah dalam titik waktu duniawi; Salat adalah kapal suci yang mengantarkan muatannya, melalui kehidupan dan kematian, menuju pelabuhan berikut, menuju keheningan cahaya. Dan lebih dari itu, dalam level yang lebih dalam, bukannya Salat yang berlalu dalam waktu; waktu itulah yang berhenti di hadapan Salat yang sudah menjadi kesatuan utuh dan keunikan surgawi dari Salat.

Catatan: Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari Prayer Fashions Man: Fritjhof Shuon on Spiritual Life, World Wisdom, Inc., halaman 75.

Mencintai Keindahan

Mencintai Keindahan[1]

Uzair  Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Tak_apa mencintai keindahan (beauty); bukankah “Dia Indah dan Mencintai Keindahan?[2]

Apa itu keindahan?

    • Keindahan adalah harmoni keragaman (the harmony of diversity);
    • Akar ontologisnya terletak jauh lebih dalam dari semua apa yang dapat dipahami oleh sain yang domainnya adalah tataran fenomena;
    • Arketipnya adalah kelimpahan dan keseimbangan kualitas-kualitas ilahiah, sekaligus kelimpahan potensi-potensi eksistensial dalam Wujud murni (pure Being).

Apa itu cinta?

    • Cinta adalah kehendak untuk melepaskan dan melimpahkan  diri_sendiri pada “yang lain”;
    • Cinta adalah totalitas yang merealisasikan keseimbangan dan keindahan sempurna dan keindahan;
    • Cinta memanifestasikan keindahan.

Tak_apa mencintai keindahan asalkan tidak berhenti pada tingkat bentuk_formal obyek partikular, melainkan berlanjut sampai tingkat inti_esensial universal:

    • Mencintai keindahan sampai tingkat bentuk berpotensi memenjarakan jiwa dan merendahkan martabatnya;
    • Mencintai keindahan sampai tingkat inti berdaya memerdekakan jiwa dan meningkatkan kualitasnya.

Pada tingkat inti, keindahan lebih dari bersinggungan dengan kebenaran (truth):  keindahan adalah penampakan luar kebenaran, kebenaran adalah inti keindahan; “Beauty is the splendor of the truth[3].

Pada tingkat inti, keindahan terkait_erat dengan kebaikan (goodness): kebaikan adalah keindahan internal, keindahan adalah kebaikan eksternal.

Pada tingkat inti, keindahan tidak hanya sekadar bersesuaian dengan kebajikan (virtue): kebajikan adalah keindahan jiwa, keindahan adalah kebajikan bentuk.

Yang memprihatinkan, kita hidup dalam peradaban modern,  “… satu-satunya peradaban yang merasa perlu mengklaim bahwa keburukan (ugliness) itu indah dan keindahan itu tidak ada” (Schuon, 2009:214).

Dimana dapat ditemukan keindahan?

    • Dalam kemurnian alamiah sekuntum bunga;
    • Dalam karya seni sakral (sacred arts);
    • Dalam struktur geometris kosmos[4];
    • Dalam drama kehidupan_kematian[5].

Apakah makna di balik drama kehidupan_kematian?

Menguji siapa yang paling indah karyanya (ahsanu ‘amalâ)[6].

Wallâhu_áalam….@


[1] Ekstraksi yang disederhanakan dari “Truths and Errors Concerning Beauty” dalam Frithjof Schuon (2009), Logic and Transcendence , halaman 2017-216.

[2] Hadits Qudsi.

[4] Al-Qur’an ( 67:3).

[5] Al-Qur’an ( 67:2).

[6] Al-Qur’an ( 67:2).

Dimensi Salat Menurut Schuon

Artikel ini merupakan terjemahan bebas dari suatu artikel Karya Fritjhof Schuon yang berjudul “Dimension of Prayer”. Agar mampu merasakan ‘gereget-nya’ pembaca dianjurkan mencermati artikel aslinya yang dapat diakses antara lain melalui www.worldwisdom.com/public/library/default.aspx. Dalam artikel ini kata salat merupakan terjemahan prayer sehingga dapat juga diterjemahkan sebagai do’a. Pembaca juga dianjurkan mencermati karya Schuon lain yang senada yang berjudul Mode Salat (Mode of Prayer). Dalam artikel ini Schuon memperluas makna preyer dengan mencakup salat petisi, salat kanonik, meditasi dan dzikir. Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap terjemahan ini— sekitar 1000 kata— silakan klik: Dimensi_doa_1

Dia Allah: Misteri Keberadaan, Misteri Ketuhanan

Artikel terlampir yang sangat pendek ini— satu halaman, 206  kata— bertemakan “Dia Allah” menurut narasi teks suci, deskripsi Schuon dan ungkapan penulis. Bagi yang berminat mengakses, silakan klik: INI