Mengapa Ulama Klasik Tidak Takut pada Budaya Lokal? (Episode 1)

Episode 1: Kasus Mesir dan Syam

Pernah mendengar narasi bahwa Islam datang untuk menghancurkan budaya lokal? Itu keliru. Justru, Futuhāt (Pembukaan) Islam adalah sebuah dialog peradaban yang kreatif dan penuh keyakinan.

Lihatlah apa yang terjadi di Mesir dan Syam. Islam tidak datang menghadapi kekosongan, melainkan bertemu dengan dua wajah besar Peradaban Helenistik yang masih hidup:

  • Mesir (Alexandria): Menyimpan warisan Neo-Platonisme dan ilmu-ilmu praktis seperti kedokteran Galen dan astronomi Ptolemy.
  • Syam (Antiokia & Edessa): Pusat logika Aristotelian dan teologi Kristen yang sangat filosofis.

Para ulama dan khalifah tidak menolak, takut, atau membakarnya. Mereka justru melihatnya sebagai khazanah ilmu umat manusia yang perlu diselamatkan. Maka, diluncurkanlah proyek intelektual paling ambisius dalam sejarah: Gerakan Penerjemahan Besar-besaran. Pusatnya adalah Bayt al-Hikmah di Baghdad, yang menjadi tempat di mana warisan Yunani, Persia, dan India disaring, dikaji, dan diislamkan dalam bingkai epistemologi Tauhid.

Hasilnya sungguh mengubah dunia: Lahirlah filsafat Islam yang orisinal—dari Al-Kindi si filosof Arab pertama, hingga raksasa pemikiran seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Ilmu agama seperti Ushul Fikih dan Ilmu Kalam pun menjadi sangat rigorus karena dipertajam dengan logika (mantiq) Aristoteles.


Tapi Kekuatan Sebenarnya: Adaptasi Tanpa Kehilangan Identitas

Lebih dari sekadar menerjemahkan, Islam menunjukkan kecerdasan akulturatifnya yang langka:

  • Di Mesir, Universitas Al-Azhar berdiri melanjutkan semangat keilmuan Iskandariyah, namun dengan jiwa Tauhid yang baru. Infrastruktur peradaban seperti kanal dan administrasi tidak dihancurkan, melainkan diambil alih dan dikelola lebih adil.
  • Di Syam, ketika Khalifah Al-Walid membangun Masjid Agung Damaskus, ia tidak menghancurkan Katedral Santo Yohanes yang ada. Arsitek Muslim mempertahankan struktur megah Romawi-Byzantium itu, lalu mengisinya dengan seni kaligrafi dan ornamen Islami. Pesannya jelas: Islam datang menyempurnakan, bukan memutus sejarah.
  • Di Yerusalem, Kubah As-Sakhrah menjadi masterpiece akulturasi: estetika Byzantium, motif Persia, geometri Islam—bersatu dalam simbolisme tauhid yang universal.

Para ulama awal pun berdialog intens dengan pendeta dan cendekiawan Ahlul Kitab setempat untuk memahami konteks geografi, sejarah, dan tradisi tafsir. Dari sini lahirlah ilmu Qira’at yang kaya dan fikih yang responsif terhadap realitas multikultural.


Sebuah Jembatan Peradaban Menuju Eropa

Kisahnya tidak berhenti di Timur. Saat Baghdad goncang oleh invasi, khazanah pengetahuan yang telah disintesis ini bermigrasi ke Barat—ke Cordoba dan Toledo di Spanyol Islam. Di sinilah Ibnu Rusyd (Averroes) menulis komentarnya yang mendalam tentang Aristoteles, yang kelak menjadi buku wajib di universitas-universitas Eropa abad pertengahan.

Dari Andalusia inilah, melalui gerakan penerjemahan lagi (kini ke bahasa Latin), pengetahuan yang telah disaring dan diperkaya oleh peradaban Islam itu menyulut Renaisans Eropa. Fakta sejarah ini tak terbantahkan: Tanpa jembatan intelektual Cordoba, Eropa mungkin akan tetap lebih lama dalam “Zaman Kegelapan”-nya.


Pelajaran Reflektif untuk Kita Hari Ini:

Islam adalah penyelamat dan jembatan peradaban, bukan penghancur. Kekuatannya terletak pada epistemologi Tauhid yang percaya diri untuk menyaring, mengolah, dan mengangkat nilai-nilai universal dari mana pun.

Menjadi Muslim bukan berarti memutuskan sejarah lokal. Seperti yang dilakukan ulama klasik, kita justru diajak untuk membaca sejarah dan budaya lokal dengan kacamata tauhid, lalu menulis babak baru yang lebih terang di atasnya.

Kita kehilangan apa ketika menjadi takut? Jika dulu para ulama tidak ragu belajar logika dari Yunani dan arsitektur dari Persia, mengapa kini kita sering menganggap budaya lokal sebagai ancaman? Apakah kita telah menyempitkan agama ini menjadi sekadar kumpulan larangan, dan melupakan rohnya yang menghidupkan peradaban?

“Mereka tidak menghancurkan puing-puing peradaban sebelumnya—mereka membangun kembali dengan batu yang sama, namun dengan cetak biru yang lebih tinggi.”


Mari diskusi! Menurutmu, pelajaran terpenting apa dari kasus Mesir & Syam ini untuk Muslim masa kini yang hidup di tengah globalisasi dan budaya lokal yang kuat?