Takdir Manusia

Takdir Manusia (Human Destiny)

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Takdir manusia adalah mengetahui. Mengetahui apa? Mengetahui yang Mutlak (the Absolute) atau yang Riil (the Real), yang berbeda dengan yang relatif atau yang tidak (kurang) riil. Kemampuan membedakan itulah fungsi intelegensi; tanpa fungsi itu intelegnsi bukan apa-apa. Pengetahuan mengenai yang Mutlak menghadirkan kesadaran mengenai keberadaan pusat (sense of the center) yang dibutuhkan agar tidak tersesat atau terombang-ambing tanpa arah. Thawaf, ritual mengeliling Ka’bah, antara lain dimaksudkan untuk memperkuat kesadaran ini. Pengetahuan mengenai yang Mutlak juga menghadirkan perasaan mengenai kesucian (sense of the holy) yang dibutuhkan agar tetap bermartabat sebagai manusia.

dest_3

Mengetahui Dia yang Mutlak adalah alasan hakiki keberadaan manusia. Tanpa pengetahuan itu kita tak_layak dikategorikan sebagai manusia karena tidak sesuai dengan takdir atau alasan keberadaannya. Simak dan renungkanlah hadits qudsi ini: “Aku adalah harta karun; Aku ingin dikenal maka Aku menciptakan”. Menciptakan apa? Menciptakan alam semesta, kosmis maupun metakosmis, yang saripati atau quintessence-nya adalah manusia. Langit dan bumi  dengan segala isinya menolak menerima “amanah” mengetahui-Nya dengan satu kekecualian: kita, manusia. Ketika dalam alam purba (hari “alastu”) berkomitmen untuk menerima amanah itu beserta semua konsekuensi logisnya.

Nama yang Mutlak

Yang Mutlak memiliki 99 nama yang indah (asmaul husna); yang terindah tercantum dalam dua ayat pertama Al-Imran: “Allah Tidak ada Tuhan Selain Dia yang Hidup dan Mandiri). Asma Allah tersusun dari empat huruf yaitu Alif, Lam, Lam dan Ha(besar) merujuk pada dzat-Nya. Asma itu unik:

  • jika huruf Alif dihilangkan maka ia akan menjadi “lillâh”, “bagi Allah”: “Bagi Allah apa yang yang ada di langit dan di bumi (ayat);
  • jika selanjutnya huruf Lam pertama dihilangkan maka ia menjadi “lahû”, milik atau hak ekskulif Allah: Milik Allah kerajaan langit dan bumi (ayat); dan
  • jika selanjutnya huruf Lam kedua dihilangkan maka ia menjadi H yang merujuk kata ganti ketiga, “Hua”, Dia: “Dia yang menciptaanmu dari jiwa yang satu.

Singkatnya, sekalipun asma dzat-Nya itu dipilah-pilah maka hasilnya tetap saja merujuk pada yang Satu. Sebagai catatan, keutamaan ayat Qursi antara lain terletak pada fakta bahwa ayat itu paling banyak mengandung kata ganti nama-Nya: “Lahû”, “Hua”, “Hu”, dst. Sebagai catatan tambahan, sebagian sufi mentradisikan banyak berdzikir dengan hanya menyebut Hua (bukan menyebut Allah secara lengkap) dengan alasan yang menarik: yang Mutlak hanya Allah maka kata ganti ketiga, Dia, pasti merujuk pada-Nya; melafalkan secara legkap asma Allah dalam dzikir yang intens bagai mereka dianggap sebagi tanda meragukan kemutlakan-Nya yang ekslusif.

Pengetahuan mutlak

Mengetahui yang Mutlak bersifat mutlak. Kenapa? Karena pengetahuan itu melekat (built-ininscribed) dalam setiap diri kita yang mustahil dapat dihilangkan secara mutlak. Juga karena kita memilki hati (qalb) yang fungsinya sebagai cermin untuk menerima pancaran ilahiah dari yang Mutlak. Pengetahuan mutlak itu dengan demikian identik dengan pengetahuan diri yang sebenarnya (self); bukan diri sebagi makhluk fisikal, emosional atau intelektual, tetapi dir sebagai makhluk jiwani (spiritual). Karena diciptaan oleh-Nya, maka esensi, hakikat atau saripati kita adalah jiwani: kita bukan tubuh yang memilki jiwa, tetapi jiwa yang tengah “terperangkap” dalam tubuh tertentu. Dengan perkataan lain, kita bukan tubuh yang berjiwa, tetapi jiwa yang bertubuh. Apa bukti kita adalah mahluk jwani? Segala yang ada di kolong langit ini pasti tidak akan pernah dapat memenuhi keinginan hati yang tak-tarbatas kecuali Dia yang Mutlak yang Tak-terbatas (the Infinite Absolute).

Konsekuensi pengetahuan mutlak

Pengetahuan yang Mutlak secara benar berarti menarik konsekuensi yang benar dari pengetahuan itu. Apa itu? Mentransendenkan-diri secara vertical dengan-Nya; atau dalam bahas agamanya, mengambakan-diri kepada-Nya, taabbud! Jika mengetahui yang Mutlak merupakan fungsi inteligensi, maka menghambakan diri kepada-Nya merupakan fungsi kehendak. Dalam konteks ini istilah munafiq dapat dilihat sebagai ketidakmampuan menarik konsekuenasi yang benar dari pengetahuan mutlak. Seorang munafiq bisa jadi melakukan salat tetapi ketika salat ingatan kepada-Nya hanya sedikit: “…walâ yadzkurûna allâha illâ qalîlâ” (ayat).

Transendesi-diri secara verikal menuntut transendensi-diri secara horizontal: hablum minallah dan hablum minan nas. Yang terakhir ini artinya mencintai semua makhluk di bumi yang merupakan simbol atau ayat keberadan-Nya: “Cintailah yang di bumi maka makhluk yang di langit akan mencintaimu” (Hadits).

Sinopsis

Singkatnya, takdir manusia adalah mengetahui yang Mutlak (fungsi inteligensi) dan menaraik konsekunesi yang benar dari pengetahuan itu (fungsi kehendak). Menarik konskuensi yang benar berati mentransendensi-diri secara vertical maupun secara horizontal. Yang terakhir ini wujudnya adalah mencintai makhluk bumi dalam kedudukannya sebagai simbol atau ayat keberadaan-Nya. Dalam analisis terakhir, takdir manusia adalah kembali kepada-Nya dengan mengikuti atau melawan takdirnya. Mereka yang memilih “melawan” takdirnya memerlukan proses penyucian diri dalam neraka-Nya (naudzu billah) sebelum layak menghadap_nya…..@

Kabul 22/4/2013

Kesadaranku Menunjukkan

Kesadaranku Menunjukkan

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Kesadaranku menunjukkan inteligensiku bukan apa_apa kecuali  mampu membedakan yang Mutlak atau yang Riil atau Atma atau yang Satu dengan yang lain: yang relatif atau ilusi atau maya.

Kesadaranku menunjukkan kehendakku tak_bermakna kecuali  terhubung atau berasimilasi dengan yang  Satu.

Kesadaranku menunjukkan kualitas jiwaku didefinsikan oleh keearatan hubungan atau intensitas asimiliasi itu.

Kedasaranku mengatakan selain yang Mutlak bisa ada bisa tidak: jika ber-ada maka (a) realitasnya hanya dapat dipahami sebagai relatif terhadap yang Mutlak; (b) keberadaannya merupakan bukti dari dan tunduk pada homogenitas hukum yang merujuk pada yang  Satu.

Kesadaranku menunjukkan inteligensiku yang suprarasional lebih berdaya dari pada pikiranku yang rasional.

Kesadaranku menujukkan bakat bawaan suprarasionalitas inteligenisku mampu menjangkau yang tak_terhingga, salah satu aspek dari yang Satu.

Kesadaranku menunjukkan kehendakku tak_pernah terpuaskan kecuali oleh yang Satu, yang Tak_terhingga.

Bersyukurlah jika yang Satu memancarkan cahaya sehingga terhindar dari ilusi yang koruptif: inteligensiku hanya untuk yang relatif, kehendakku hanya untuk yang maya.

Bersyukurlah aku yang Satu berkenan memancarkan cahaya kebijakan abadi: kebijakan nir-waktu dan universal kebijakan yang mendasari prinsip-prinsip doktrin-doktrin, simbol-simbol, seni-seni suci, dan praktek-praktek spiritual semua agama dunia,

Bahwa yang Satu itu dan hanya yang Satu itu saja yang Mutlak; yang lainnya, termasuk alam raya, alam imajinal, konsep atau bayangan kontemplasiku mengenai yang Satu, semuanya relatif …..@