Istilah keindahan dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas kata Arab husn yang menunjukkan kualitas baik dan indah. Keindahan sangat terkait dengan cinta sebagaimana terungkap dalam sabda Junjugan: “Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Artikel ini melihat secara sepintas lalu signifikasi keindahan dalam ajaran Islam— khususnya pilar Ihsan– dan dalam peradaban Islam, khusunya bidang kesenian. Bagi yang tertarik silakan klik Cinta dan Keindahan
Signifikansi Keindahan dalam Ajaran dan Peradaban Islam
Published by Uzair Suhaimi
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy** At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions. **Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact** From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge. **Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric** Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world. **Convergence: Where Analysis Meets Meaning** This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life. . View all posts by Uzair Suhaimi
Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan makhluk lain. Jika demikian, Islam pasti mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan mendukung fitrah manusia yang suci itu, dan karena itu pula Islam bertemu dengan seni dalam jiwa manusia, sebagaimana seni ditemukan oleh jiwa manusia di dalam Islam.
LikeLike
TK komentarnya yang singkat-padat.
LikeLike
Ihsan mencakup semua aspek kehidupan manusia,dan Islam mewajibkan ihsan pada semua aspek kehidupan tersebut tentunya salah satunya adalah seni. “Innallaha katabal ihsana ‘alakuli syaiin” hadist Rasulullah ini menjadi landasan bagi kita untuk mengisi kehidupan ini dengan ihsan. Ketika seni dimaknai cara menjalani hidup (style life)bukan sekedar seni mengungkapkan perasaan dengan karya seni maka bagi yang mengimani “Hal Jazaul ihsanu ilal ihsanu (Ar-Rahman, 60)” akan mengiringi seni hidupnya dengan Ihsan dalam niat (lillah), ihsan dalam pelaksanaan (ma’iyatullah untuk tidak ri’a), ihsan setelah pelaksanaan (untuk tidak sum’ah). Dalam Islam tidak ada celah yang memungkinkan untuk berbuat tidak ihsan. Dalam lanjutan hadits tersebut Rasulullah memberikan contoh yang paling ekstrim (menurut saya)dengan perbuatan yang seolah-olah orang tidak mungkin berbuat ihsan yaitu “ketika membunuh, bunuhlah dengan ihsan, ketika menyembelih sembelihlah dengan ihsan”. Apabila ihsan telah menyertai ‘seni hidup’ setiap muslim maka muslimlah orang yang paling profesional dengan melakukan aktivitas sebaik-baiknya dengan Allah sebagai tujuan, dengan cara yang Allah ridhai yang dijalankan, dan balasan serta penilain dari Allah yang hal utama yang diharapkan.
Pandangan Ibnu Qoyyim Al Jauziah dalam Madarijus Shalihin, Ihsan merupakan inti iman, ruh dan kesempurnaannya. Tempat persinggahan ihsan ini menghimpun semua tempat persinggahan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, yang berarti semuanya tercakup di dalamnya.
Ada tiga derajat ihsan menurut beliau, yaitu:
1. Ihsan dalam tujuan, dengan mengarahkannya dari sisi ilmu, menguatkannya dari sisi hasrat, dan membersihkannya dari sisi keadaan. Dengan kata lain, ihsan dalam tujuan ini dilakukan dengan tiga cara:
a. Mengarahkannya dari sisi ilmu, yaitu menjadikannya mengikuti ilmu dan keharusan-keharusannya serta terbebas dari hal-hal keduniaan, sehingga tidak ada tujuan kecuali yang diperbolehkan ilmu. Yang dimaksudkan mengikuti ilmu di sini ialah mengikuti perintah dan ketentuan syariat.
b. Menguatkannya dari sisi hasrat, atau menyertai tujuan dengan hasrat yang bisa memberikan dorongan, sehingga tidak ada kelemahan atau keloyoan.
c. Membersihkannya dari sisi keadaan. Artinya, keadaan pelakunya harus bersih dari noda dan kotoran, yang menunjukkan tujuannya yang kotor. Karena keadaan menunjukkan tujuan. Jika keadaannya bersih, berarti tujuannya juga bersih.
2. Ihsan dalam berbagai keadaan, yaitu menjaganya karena cemburu, menutupinya dari segala sisi, dan membenahinya dalam kenyataan. Menjaga keadaan karena cemburu maksudnya menjaga keadaan itu agar tidak berubah-ubah. Karena keadaan berlalu seperti awan yang berjalan. Jika hak-haknya tidak dipenuhi, maka ia akan berubah. Menjaga keadaan ialah dengan cara memenuhi hak-haknya. Menutupi keadaan dari segala sisi artinya menutupinya agar tidak diketahui manusia menurut kesanggupan, tidak memperlihatkannya kecuali ada alasan atau kebutuhan atau kemaslahatan yang jelas. Memperlihatkan keadaan kepada orang tanpa ada alasan-alasan ini, bisa mengakibatkan dampak yang kurang baik, apalagi jika mereka maling, perampok dan pecemburu. Memperlihatkan keadaan kepada manusia merupakan tindakan yang bodoh, karena ini merupakan aksi syetan. Orang-orang yang lurus lebih suka menutupi keadaan dirinya, terlebih lagi dalam masalah harta. Sehingga banyak di antara mereka yang justru memperlihatkan keadaan yang sebaliknya. Membenahi keadaan dalam kenyataan artinya berusaha membenahi dan meluruskan keadaan. Karena keadaan itu bisa dicampuri yang haq dan yang batil. Sementara tidak ada yang bisa membedakan antara yang haq dan batil ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan ma’rifat.
3. Ihsan dalam waktu, yaitu engkau tidak menghilangkan waktu yang ada, tidak menghadirkan seseorang dalam hasrat dan menjadikan hijrahmu hanya kepada Allah semata. Tidak menghilangkan waktu yang ada artinya tidak menyia-nyiakannya. Hal ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang tegar, yang dapat memotong perjalanan antara jiwa dan hati, antara hati dan Allah. Tidak menghadirkan seseorang dalam hasrat artinya tidak menggantungkan hasrat kepada seseorang selain Allah, karena yang seperti ini termasuk syirik dalam pandangan orang yang berjalan kepada Allah.
Siapa pun yang berjalan kepada Allah secara lurus dan ikhlas, maka dia adalah orang yang berhijrah kepada-Nya. Dia tidak boleh terlewatkan dari hijrah ini, dia harus bergabung hingga dapat bersua Allah.
LikeLike
TK untuk komentar yang memperkaya artikel dan inspirasional. Salam
LikeLike