Selamat datang di uzairsuhaimi.blog! Blog ini merekam jejak pemikiran penulisnya mengenai bidang sosial-ekonomi-kependudukan dan refleksinya mengenai kebijaksanaan abadi dalam perspektif Islam.
Kesadaranku menunjukkan inteligensiku bukan apa_apa kecuali mampu membedakan yang Mutlak atau yang Riil atau Atma atau yang Satu dengan yang lain: yang relatif atau ilusi atau maya.
Kesadaranku menunjukkan kehendakku tak_bermakna kecuali terhubung atau berasimilasi dengan yang Satu.
Kesadaranku menunjukkan kualitas jiwaku didefinsikan oleh keearatan hubungan atau intensitas asimiliasi itu.
Kedasaranku mengatakan selain yang Mutlak bisa ada bisa tidak: jika ber-ada maka (a) realitasnya hanya dapat dipahami sebagai relatif terhadap yang Mutlak; (b) keberadaannya merupakan bukti dari dan tunduk pada homogenitas hukum yang merujuk pada yang Satu.
Kesadaranku menunjukkan inteligensiku yang suprarasional lebih berdaya dari pada pikiranku yang rasional.
Kesadaranku menujukkan bakat bawaan suprarasionalitas inteligenisku mampu menjangkau yang tak_terhingga, salah satu aspek dari yang Satu.
Kesadaranku menunjukkan kehendakku tak_pernah terpuaskan kecuali oleh yang Satu, yang Tak_terhingga.
Bersyukurlah jika yang Satu memancarkan cahaya sehingga terhindar dari ilusi yang koruptif: inteligensiku hanya untuk yang relatif, kehendakku hanya untuk yang maya.
Bersyukurlah aku yang Satu berkenan memancarkan cahaya kebijakan abadi: kebijakan nir-waktu dan universal kebijakan yang mendasari prinsip-prinsip doktrin-doktrin, simbol-simbol, seni-seni suci, dan praktek-praktek spiritual semua agama dunia,
Bahwa yang Satu itu dan hanya yang Satu itu saja yang Mutlak; yang lainnya, termasuk alam raya, alam imajinal, konsep atau bayangan kontemplasiku mengenai yang Satu, semuanya relatif …..@
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy**
At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions.
**Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact**
From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge.
**Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric**
Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world.
**Convergence: Where Analysis Meets Meaning**
This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life.
.
View all posts by Uzair Suhaimi
Published
4 thoughts on “Kesadaranku Menunjukkan”
Hanya orang-orang yang senantiasa berifikir sesuai fitrohnya yang akan senantiasa sadar akan dirinya
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (3:190).
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka (3:191).
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (30:30)
Dear Edi; TK Komentarnya yang saya yakin memperkaya.
Kalau Edi cermati, inti artikel itu terkait dengan wisdom yang menjadi underlying semua agama agama atau tradisi yang bersifat universal dan “abadi” (nir waktu, khalidiyah, prennial). “Wisdom” dengan kualifikasi itu yang menurut saya makna dari “Al-Din Hanif” dalam Surat (30:30) yang Edi terjemahkan “agama Allah”. Wisom itu bersifat essesnsial yang mengambil bentuk (form) -atau mengejawantah” dalam bentuk- agama atau tradisi. Yang menarik, sejauh yang saya fahami, istilah al-Islam dalam banyak ayat benar-benar inklusif dan lebih merujuk pada agama-agama (yang sama) yang dibawa para Rasul dalam tradisi monoteisme paling tidak sejak Ibrahim AS, bukan ekslusif hanya pada agama yang dibawa Rasul Muhammad saw. Setju?
Subhanallah…tulisan yang sangat indah, kalimatnya penuh makna bersayap.
Yth Pak Uzair……
ditengah kesibukan yang begitu padat…terkadang terlupakan bahwa hidup adalah berujung. terlupakan akan bekal yang akan dibawa sesudah kehidupan. Dengan tulisan bapak…begitu menggugah saya untuk selalu mengingat Yang Satu…Yang Mutlak…Dunia Maya yang Pasti.
Semoga Rahmat dan Kasih Sayang Nya senantiasa menyertai Bapak dan Keluarga.
…” segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya”….
Hanya orang-orang yang senantiasa berifikir sesuai fitrohnya yang akan senantiasa sadar akan dirinya
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (3:190).
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka (3:191).
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (30:30)
LikeLike
Dear Edi; TK Komentarnya yang saya yakin memperkaya.
Kalau Edi cermati, inti artikel itu terkait dengan wisdom yang menjadi underlying semua agama agama atau tradisi yang bersifat universal dan “abadi” (nir waktu, khalidiyah, prennial). “Wisdom” dengan kualifikasi itu yang menurut saya makna dari “Al-Din Hanif” dalam Surat (30:30) yang Edi terjemahkan “agama Allah”. Wisom itu bersifat essesnsial yang mengambil bentuk (form) -atau mengejawantah” dalam bentuk- agama atau tradisi. Yang menarik, sejauh yang saya fahami, istilah al-Islam dalam banyak ayat benar-benar inklusif dan lebih merujuk pada agama-agama (yang sama) yang dibawa para Rasul dalam tradisi monoteisme paling tidak sejak Ibrahim AS, bukan ekslusif hanya pada agama yang dibawa Rasul Muhammad saw. Setju?
LikeLike
Subhanallah…tulisan yang sangat indah, kalimatnya penuh makna bersayap.
Yth Pak Uzair……
ditengah kesibukan yang begitu padat…terkadang terlupakan bahwa hidup adalah berujung. terlupakan akan bekal yang akan dibawa sesudah kehidupan. Dengan tulisan bapak…begitu menggugah saya untuk selalu mengingat Yang Satu…Yang Mutlak…Dunia Maya yang Pasti.
Semoga Rahmat dan Kasih Sayang Nya senantiasa menyertai Bapak dan Keluarga.
…” segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya”….
Salam Hormat Ananda
Chryssanti Widya
LikeLike
Dear Santi, TK Komentar dan do’anya; Rahmat dan Kasih Sayang-Nya semoga terlimpah juga u/ Santi dan sekeluarga. Ada komentar u/ “Ya Rasul”? Salam
LikeLike