Judul ini sekilas tampak aneh karena Rumi tidak dikenal sebagai ahli tauhid. Secara populer ia dikenal– di Timur maupun di Barat (yang ternyata lumayan banyak “pemujanya”)– sebagai penyair, tepatnya penyair sufistik. Kesan eneh muncul karena kebanyakan kita mengabaikan fakta historis bahwa sebelum menjadi penyair ia adalah seorang ulama besar-masyhur bahkan ketika usianya masih sangat muda[1].
Tidak berlebihan jika dikatakan karya-karya puitis Rumi merefleksikan keyakinan tauhid seorang ulama besar yang kokoh tetapi dinyatakan secara khas. Kekhasan inilah yang membuat karyanya dapat diterima oleh kalangan ulama tradisional yang cenderung mencurigai ajaran-ajaran sufistik.
Kekhasan itu juga yang agaknya membuat ia populer bahkan di kalangan non-Muslim, termasuk kalangan Barat-Nasrani kontemporer, paling tidak di kalangan intelektual. Yang terakhir ini mungkin salah satu “pahala” terbesar Rumi. Kenapa? Karena karya Rumi– sampai taraf tertentu– memainkan peran penting dalam menepis kesalahpahaman Barat terhadap ajaran Islam, khususnya di kalangan masyarakat awam Barat.
Tulisan ini mengulas secara singkat salah satu karya Rumi yang sarat dengan ajaran Tauhid yaitu “Kita Bertiga”. Aspek ajaran terkait dengan tema keabadian jiwa– atau kehidupan akhirat– yang mungkin bersifat universal yang diakui oleh semua agama yang dikenal manusia.

Sumber Gambar: Google
Ajaran mengenai kehidupan akhirat layak terus-dibaca-ulang paling tidak karena dua alasan: (1) ajarannya paling sulit ditransformasikan menjadi kesadaran kongkret dalam arti menentukan sikap dan perilaku hidup sehari-hari, dan (2) dalam banyak kesempatan Al-Quran “meringkas” perinsip keimanan menjadi hanya dua yaitu percaya kepada Rabb SWT dan ada hari akhir[2].
Untuk menjelaskan ajaran ini Rumi mengajak pembaca untuk merefleksikan pengalaman langsung siklus hidup kita masing-masing mulai dari embrio. Jadi, argumennya bersifat eksistensial[3], suatu pendekatan yang dapat diterima secara universal. Pendekatan ini jelas berbeda dengan pendekatan umum para ulama tradisional yang umumnya mempercayakan diri pada dalil naqliyah (berbasis teks suci) maupun metode para mutakallimin yang cenderung mengandalkan dalil aqliyah (berbasis akal).
Untuk memperoleh gambaran lengkap isi puisi Rumi yang berjudul “Kita Bertiga” ini berikut disajikan terjemahan bebas penulis. Terjemahan ini tidak berasal dari karya Rumu melainkan dari terjemahan karya Espada[4]. Tokoh ini adalah satu dari sekian banyak “pengagum” Rumi .
Terjemahan
Kita Bertiga
Sedikit demi sedikit, sapihlah dirimu.
Ini adalah inti dari apa yang saya katakan.
Dari embrio, yang makanannya masuk dalam darah,
menjadi bayi peminum susu,
menjadi seorang anak dengan makanan padat,
menjadi pengejar kebijaksanaan,
menjadi pemburu permainan yang lebih tak-kasat-mata.
Pikirkan bagaimana melakukan percakapan dengan embrio.
Anda mungkin berkata, “Dunia di luar sangat luas dan rumit.
Ada ladang gandum dan gunung terbentang, dan kebun mekar.
Di malam hari ada jutaan galaksi, dan di bawah sinar matahari
keindahan teman-teman yang menari di pesta pernikahan.”
Anda bertanya kepada embrio kenapa tinggal diam-diam
di kegelapan dengan mata tertutup.
Dengarkan jawabannya:
Tidak ada “dunia lain”
Saya hanya tahu apa yang saya alami
Anda pasti berhalusinasi.
Teks Inggris:
We Are Three
Little by little, wean yourself.
This is the gist of what I have to say.
From an embryo, whose nourishment comes in the blood,
move to an infant drinking milk,
to a child on solid food,
to a searcher after wisdom,
to a hunter of more invisible game.
Think of how it is to have a conversation with an embryo.
You might say, “The world outside is vast and intricate.
There are wheat field and mountain passes, and orchards in bloom.
At night there are millions of galaxies and in sunlight
the beauty of friends dancing at a wedding.”
You ask the embryo who he, or she, stays copped up
at the dark with eyes closed.
Listen to the answer.
There is no “other world”
I only know what I’ve experienced
You must be hallucinating.
[1] Tulisan mengenai Rumi dapat diakses di sini.
[2] Lihat QS (2: 232,234), QS (3:114), QS (4:39,162), QS (9:45,99), QS (58:22), QS (65:2).
[3] Eksistenssiali: kemampuan mengenal dan memaknai diri sendiri untuk kemudian menentukan apa yang akan dilakukan dengan memilih di antara berbagai kemungkinan yang terbuka sebagai ungkapan keberadaannya (diri sendiri) sebagai manusia.
[4] “My Favorite Rumi: selected by Jason Espada (200:65). Rujukan mengenai karya-kara Espada dapat diakses di sini.
Contact: uzairsuhaimi@gmail.com
Membaca karya penyair semacam Rumi kadang saya perlu berulang-ulang berfikir. Itu pun masih meraba-raba makna sebenarnya. Suka sih bahasanya, sangat puitis dan memotifasi untuk memikirkan pengenalan diri. Lain dengan puisi Gus Mus yang mudah sekali dimengerti.
Tapi saya suka kedua-duanya.
LikeLike