Empat Jenis Fitnah: Refleksi Surat Al-Kahf

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Kata fitnah dalam tulisan ini bermakna cobaan (ibtilaa) atau ujian (imtihan)[1]. Makna ini ditemukan antara lain dalam ayat ke-2 Surat Al’Ankabuut: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji (teks: laa yuftanuun)?” Bagi yang meyakini kebenaran Al-Qur’an, ayat ini dipahami sebagai penegasan bahwa keimanannya akan mengalami cobaan atau ujian.

Fitnah keimanan dapat mengambil berbagai bentuk termasuk lingkungan sosial yang tidak mendukung atau bahkan membahayakan seorang yang beriman untuk merealisasikan nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan sehari-hari. Fitnah inilah yang dihadapi sekelompok pemuda penghuni gua (ashabul kahfi). Fitnah keimanan dapat juga mengambil bentuk lain termasuk: (1) kekurangan atau kelimpahan harta, (2) kemiskinan atau kekayaan ilmu, dan (3) kemiskinan atau kelimpahan kekuasaan. Jadi kita paling tidak memilki daftar yang terdiri empat jenis fitnah keimanan: lingkungan sosial, harta, ilmu dan kekuasaan. Keempat jenis fitnah ini disajikan dalam Surat Al-Kaf…

View original post 1,845 more words

Ihsān: Pilar Agama yang Terabaikan

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Hadits Jibril menegaskan tiga cabang, logi, atau pilar Agama:  Īmān, Islām dan Ihsān. Dua cabang pertama sangat populer karena terkait dengan apa yang dikenal sebagai Rukun Iman dan Rukun Islam, cabang terakhir kurang populer. Cabang ini dirumuskan secara sangat padat: “Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, percayalah Dia senantiasa melihatmu”.

Layaknya fungsi cabang pada pohon, kekurangan cabang pasti akan mengurangi ‘keteduhan’ pohon Islam. Layaknya bangunan gedung, kekurangan satu pilar dari yang seharausnya akan mengurangi nilai seni arsitektur, mengganggu keseimbangan daya tahan atau bahkan merobohkan bangunan Islam.

Tulisan pendek ini terkait dengan topik Ihsān dan dapat diakses di SINI

View original post

Indeks Kemajuan Sosial: Tinjauan Umum

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Kata kunci: Dimensi IKS, pertanyaan kunci, metode dan hasil perhitungan, hubungan antara IKS dan GDP Per Kapita, Kapasitas Indonesia.

Setiap negara tentu mengupayakan agar warganya maju secara sosial. Upaya ini berarti, tetapi tidak terbatas pada, pemenuhan kebutuhan dasar akan sandang-pangan-papan-pendidikan-kesehatan semua warga, juga anak-cucu-cicit mereka yang masih hidup maupun yang akan hidup di abad-abad mandatang. Inilah upaya ke arah kebajikan yang dikenal secara universal (Arab: ma’ruf). Masalahnya, kapasitas negara untuk mewujudkan semua itu berbeda. Jadi pertanyannya bagaimana mengukur kapasitas itu. Indeks Kemajuan Sosial (IKS) atau Social Progress Index, indeks komposit yang dikembangkan oleh Social Progress Initiative sekitar satu dekade yang lalu, dimaksudkan untuk mengukur kapasitas itu tapi bukan satu-satunya[1]. Tulisan berdurasi-baca enam menit ini meninjau secara umum indeks komposit ini, menelisik anatomi dan metodologinya secara sepintas, serta mengevaluasi hasil perhitungannya secara sederhana. 

Anatomi IKS

Substansi IKS mencakup tiga dimensi sosial-lingkungan yang mendasar bagi kemanusiaan: kebutuhan dasar, pondasi…

View original post 1,545 more words