Tauhid:  Berguru kepada Izutsu


**Toshihiko Izutsu dalam *The Concept of Belief in Islamic Theology*** menawarkan eksplorasi bernuansa tentang keyakinan Islam melalui analisis semantik dan struktural. Berikut ajaran dan tema utama dari karyanya:

### **Poin-Poin Utama**:
1. **Analisis Semantik Istilah Kunci**: 
   Izutsu menggunakan metode linguistik untuk mengurai istilah Arab kunci dalam teologi Islam, seperti *īmān* (iman), *kufr* (kekafiran), *shirk* (syirik), dan *taqwā* (takwa). Ia meneliti penggunaan istilah-istilah ini dalam Al-Qur’an dan Hadis, mengungkap bagaimana maknanya dibentuk melalui relasi dalam “medan semantik”.

2. **Transformasi Konsep Pra-Islam**: 
   Izutsu melacak evolusi konsep-konsep era Jahiliyah di bawah pengaruh wahyu Islam. Misalnya, *īmān* yang awalnya bermakna “rasa aman” atau “kepercayaan”, memperoleh kedalaman teologis sebagai “iman kepada Tuhan”, mencerminkan redefinisi Islam terhadap nilai-nilai moral dan spiritual.

3. **Iman sebagai Konsep Holistik**: 
   Izutsu menekankan bahwa *īmān* dalam Islam mengintegrasikan akal, emosi, dan tindakan. Iman bukan sekadar pengakuan, tetapi melibatkan keyakinan hati (*tasdīq*), deklarasi lisan, dan amal saleh—menantang reduksi iman menjadi legalisme atau intelektualisme semata.

4. **Debat Iman vs. Amal**: 
   Ia menganalisis perdebatan teologis, seperti pandangan Murji’ah yang memisahkan iman dari amal versus Khawarij yang menegaskan amal sebagai bagian dari iman. Ini menunjukkan ketegangan dalam batasan definisi iman dan implikasinya secara praktis.

5. **Perjanjian (Mīthāq) dan Pengakuan Primordial**: 
   Konsep Al-Qur’an tentang perjanjian pra-penciptaan, di mana manusia mengakui ketuhanan Allah, menjadi dasar pandangan Izutsu bahwa iman adalah penemuan kembali ikatan bawaan (*fitrah*), menekankan akuntabilitas manusia.

6. **Oposisi Struktural**: 
   Dikotomi kunci seperti *īmān* vs. *kufr* dan *islām* (kepatuhan) vs. *nifāq* (kemunafikan) membingkai teologi Islam. Izutsu menunjukkan bagaimana oposisi ini membentuk identitas komunitas dan batasan etis.

7. **Dimensi Psikologis dan Sosial**: 
   Iman digambarkan sebagai hal dinamis—bisa bertambah atau berkurang (menurut teologi Ashʿari)—dan terkait erat dengan komunitas. Kemunafikan (*nifāq*) menggambarkan konsekuensi sosial dari keimanan yang tidak tulus.

8. **Perbandingan dengan Tradisi Lain**: 
   Izutsu membandingkan *tawḥīd* (keesaan Tuhan) dalam Islam dengan konsep seperti Trinitas Kristen, menekankan penekanan Islam pada monoteisme absolut dan pengaruhnya terhadap struktur iman.

9. **Komitmen Etis dan Eksistensial**: 
   Iman melibatkan penyerahan eksistensial kepada kehendak Tuhan, mengintegrasikan etika ke dalam kehidupan sehari-hari. Izutsu menyoroti bagaimana istilah seperti *islām* dan *taqwā* merefleksikan perpaduan antara spiritualitas dan imperatif moral.

### **Kontribusi Metodologis**: 
Pendekatan strukturalis dan semantik Izutsu mengungkap bagaimana bahasa membentuk pemikiran teologis. Dengan memetakan “semesta semantik” Al-Qur’an, ia menunjukkan koherensi keyakinan Islam sebagai sistem konsep yang saling terkait.

**Kesimpulan**: 
Karya Izutsu menerangi kedalaman dan kompleksitas iman dalam Islam, menjembatani analisis linguistik, konteks historis, dan wacana teologis untuk mempresentasikan iman sebagai komitmen dinamis dan holistik yang sentral dalam identitas Muslim.

One thought on “Tauhid:  Berguru kepada Izutsu

Leave a reply to Diana Aryanti Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.