Sidik Jari Irma

Tidak seperti halnya hantu yang datang secara diam-diam, ia datang secara terang-terangan, bahkan dengan suara gemuruh yang menciutkan; seperti halnya iblis, ia datang meninggalkan sidik jari yang memiriskan. Itulah barangkali gambaran alegoris mengenai ulah Irma, badai yang baru saja meluluh-lantahkan wilayah Karibia dan Florida (AS)[1]. Sidik jari Irma menyakinkan dan terverifikasi: meyakinkan karena dapat dipastikan malapetaka itu dapat dipastikan ulah Irma, bukan yang lain; terverifikasi karena siapa pun dapat melihatnya sendiri wujud malapertaka itu.

Irma sebenarnya telah “melunak”: statusnya telah diturunkan dari badai (hurricance) menjadi sekadar depresi tropis, kecepatan angin menjadi hanya 35mph (mil per jam) dari sebelumnya 50 mph. Status dan kecepatan itu dinilai masih berpotensi membahayakan sehingga layak diwaspadai.

Untuk jejak Irma berikut ini disajikan ringkasan yang diberikan theguardian[2] yang merujuk pada keadaan Selasa pagi pukul 6.30am GMT (2.30am ET):

  1. Akibat Irma 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh Amerika Serikat: 6 di Florida, 3 di Georgia dan 1 di Carolina Selatan. (Catatan: Laporan CNN Rabu pagi WIB, 12 orang tewas.)
  2. Angka kematian di Karibia mencapai 37 setelah kematian pertama di Haiti dikonfirmasi. Menurut Unicef, sumbangan dan bantuan dari masyarakat internasional akan dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang sedang berlangsung. Inggris telah menjanjikan bantuan £ 32 juta sementara presiden Prancis, Emmanuel Macron, berangkat pada hari Senin untuk mengunjungi St. Martin.
  3. Skala kerusakan pada Florida Keys akan menjadi lebih jelas pada hari Selasa 7:00 ketika penduduk akan diijinkan masuk. Komunikasi terputus pada hari Senin sehingga arus informasi terbatas. Laporan dari komisaris kota Key West mengatakan bahwa makanan, air dan bahan bakar semakin berkurang, dan ada laporan korban tewas yang belum dikonfirmasi di daerah tersebut, diperkirakan akan terkena dampak parah setelah Irma mendarat di sana pada hari Minggu.
  4. Gubernur Florida, Rick Scott, mengatakan bahwa dia melihat “kehancuran” di Florida Keys, “Saya hanya berharap semua orang selamat,” katanya. “Mengerikan, apa yang kita lihat.”
  5. Rekam banjir bandang menyapu Jacksonville dari Sungai St Johns, sementara sekitar 13 juta orang ditinggalkan tanpa listrik di seluruh negara bagian di Florida.

Apakah ini azab (siksaan) atau balaa (cobaan)? Wallahu’alam. Yang jelas kita hanya dapat merespon akibatnya, bukan mencegah kejadiannya. Dalam konteks ini tampak relevan do’a yang seringkali dilantunkan oleh sebagian muslim: “Ya daafi’al balaa (Wahai Dzat pencegah balaa..),   dst….”, doa yang yang mengekspresikan keyakinan ketidak-berdayaan diri sekaligus sensibilitas ketergantungan kepada yang di Atas dalam menghadapi balaa. Apakah manusia memberikan sumbangsih terhadap kerusakan akibat balaa? Jawabannya “ya” bagi yang percaya akan teks suci berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebbkan karena perbuatan manusia; Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian dari (bukti) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Berpergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesduahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah) (Ar-Ruum, 41-42).

Wallahu’alam….@

Sumber gambar: Google

[1] Catatan awal mengenai Irma lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/09/pelajaran-dari-irma/

[2] https://www.theguardian.com/world/live/2017/sep/10/hurricane-irma-millions-brace-for-impact-as-superstorm-reaches-florida-live

← Back

Thank you for your response. ✨

Pelajaran dari Irma

Amerika Serikat (AS) tengah didera bencana alam, lagi. Kali ini Badai Irma yang dinilai dan terbukti “menghancurkan dan mematikan” (devastating and deadly). Sebelumnya, akhir Agustus lalu, negara adidaya ini didera Harvei, badai lain yang telah meninggalkan beragam “sidik jari” di kawasan Tenggara Texas[1]: wilayah Houston, misalnya, berupa guyuran sekitar 20 triliun galon air hujan, volume air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi Kota New York selama lebih dari lima dekade. Dapat dibayangkan kerusakan material yang diakibatkannya; yang jelas, terkait badai itu dilaporkan sekitar 50 jiwa meninggal.

Sementara upaya pemulihan akibat Badai Harvey masih berlangsung yang diperkirakan memerlukan anggaran sangat besar dan waktu yang lama (bulanan atau bahkan tahun), AS kini tengah sibuk menyiapkan kedatangan Irma yang dinilai lebih dahsyat dari Harvey dan diduga kuat akan mendarat di kawasan Florida. Menghadapi ini Gubernur negara bagian itu menyatakan sudah minta bantuan negara (bagian) lain dan pemerintah Federal[2]. Dia telah mewanti-wanti warganya untuk memfokuskan pada keselamatan jiwa: “rumah yang hancur dapat dibangun kembali tetapi jiwa yang hilang tidak dapat dikembalikan”, ujarnya kira-kira. Menurut laporan CNN, meghadapi bencana ini sekitar 17.000 volunter dibutuhkan di luar sumberdaya yang telah disediakan oleh pemerintah negara bagian dan federal.

Ketika tulisan ini tengah disiapkan, Irma dilaporkan telah meluntuh-lantahkan wilayah Karibia (Caribbian), suatu wilayah yang mencakup luas sekitar 2.8 juta km (daratan: 240.000 km), berpenduduk sekitar 44 juta, kepadatan 151.5/km persegi, dan 30 unit pemerintahan (13 negara merdeka; sisanya negara “jajahan” negara lain termasuk AS, Inggris, Prancis, Belanda). Korban Irma di wilayah Karibia secara keseluruhan mencakup sekitar 1.2 juta jiwa dan 26 juta lainnya dilaporkan memiliki risiko serupa. Di Barbuda saja badai itu telah menghancurkan sekitar 95% infrastruktur[3].

Ketika AS tengah sibuk menyiapkan diri untuk menghadapi Badai Irma yang berkategori 5 dan sangat dihawatirkan akan memakan banyak korban jiwa (life threatening), Mexico sibuk menagatasi korban dan kerusakan gempa bumi berskala 8.1, terbesar dalam 100 tahun terakhir menurut presidennya. Di luar ini, ada ancaman lain: dua badai serupa tengah aktif “mengintip” wilayah Karibia.

karibia1

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Caribbean

Pelajaran apa yang dapat diambil? Yang jelas, bencana alam seperti ini di luar kendali kita. Adakah yang dapat menolong? Kebanyakan kita mungkin menjawab: “tidak ada, ini bencana alam”. Sebagian (kecil) kita yang memiliki kepekaan spiritual di atas rata-rata akan menjawab: “ada, Rabb, definitely! Surat al-Falaq mengingatkan ini[4]. Golongan terakhir ini merasa selalu tidak aman terhadap azab Tuhan: “

… dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azan Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya) (Al-Ma’arij: 26-28).

Tetapi sayangnya kita “pelupa-berat”, tabiat yang diabadikan dalam teks suci:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?” (Dengan mengatakan), “Sekiranya Dia menyelamtkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah (Muhammad), “Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kemudian kamu (kembali) mempersekutukann-Nya (Al-An’aam:63-64).

Wallahu’alam…. @

[1] Mengenai topik ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2017/09/02/badai-harvey/

[2] Mantan Preseiden Bush dan Obama dilaporkan tenagh aktif menghimpun dana untuk membantu korban Harvey.

[3] Lihat misalnya http://www.express.co.uk/news/weather/850317/H.urricane-Irma-path-track-when-Irma-hit-Florida-US-latest-forecast-weather-models

[4] Mengenai relevansi surat ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2016/10/08/tragedi-badai-matthew-tragedi-aleppo-dan-jejak-ilahi/

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Badai Harvey: Suatu Tinjauan Singkat

Warga Amerika Serikat (AS), khususnya warga di wilayah tenggara Texas dan sekitar, tengah mengalami musibah dahsyat terkait dengan Badai Harvey, badai tropis terbesar yang mendarat di AS sejak Wilma 2005. Kita tentunya turut prihatin dan berempati dengan mereka dan berharap yang terbaik buat mereka. Kita tidak boleh melupakan keprihatinan, empati, simpati serta bantuan dari warga global (termasuk warga AS) kepada kita ketika terjadi bencana tsunami Aceh akhir 2004 lalu. Ketika itu warga AS sempat mengutus salah satu putra terbaiknya, mantan presiden yang sangat dihormati, Jimmy Carter.

Badai Harvey berkembang dari gelombang tropis ke timur Antilles Kecil, yang mencapai status badai tropis pada 17 Agustus. Badai melintasi Kepulauan Windward yang pada keesokan harinya melintas tepat di sebelah selatan Barbados dan kemudian dekat Saint Vincent. Harvey sempat melemah pada awal 19 Agustus karena hembusan angin moderat di utara Kolombia sehingga statusnya menjadi gelombang tropis. Ketika melinatasi Teluk Campeche pada 23-24 Harvey kembali menguat cepat sehigga kembali berstatus badai tropis. Sementara badai bergerak secara umum ke barat laut, fase intensifikasi Harvey terhenti sedikit dalam semalam dari 24-25 Agustus, namun segera melanjutkan penguatan dan menjadi topan Kategori 4 pada akhir Agustus 25. Beberapa jam kemudian, Harvey mendarat di dekat Rockport, Texas, pada intensitas puncak.

Dalam periode empat hari, di beberapa daerah, Badai Harvey mencurahkan hujan lebih dari 40 inci (1.000 mm) dan dengan akumulasi puncak 51,88 in (1,318 mm) sehingga tercatat sebagai “topan tropis terbasah”. Terkait dengan badai itu Direktur FEMA Brock Long menyebut Harvey sebagai bencana terburuk di sejarah Texas dan memperkirakan pemulihan tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun. Perkiraan awal kerugian ekonomi berkisar antara $ 10 miliar sampai $ 160 miliar, sebagian besar kerugian dialami oleh pemilik rumah yang tidak diasuransikan[1].

Akibat badai itu dilaporkan ribuan orang mengungsi (displaced), sekitar 72,000 orang diselamatkan dan 47 jiwa meninggal. Dari sisi korban bencana itu tidak sedahsyat bencana tsunami yang diperkiakan menelan korban sekitar 200,000 jiwa[2]. Walaupun demikian, Badai Harvey jelas tergolong dahsyat sebagaimana terungkap dari beberapa angka berikut ini[3].

Besarnya angka-angka di atas mengilustrasikan signifiknasi masalah yang ditimbulkan oleh Badai Harvey yang oleh CNN dilaporkan bersifat histortical. Ini jelas memprihatinkan. Yang melegakan adalah besarnya dedikasi petugas dalam upaya penyelamatan korban bencana badai itu. Yang juga melegakan adalah bahwa musibah itu tampaknya telah memicu gerakan solidarits sesama warga AS dalam membantu dan meringankan beban penderitaan korban. Dalam kaitan ini dilaporkan banyak voluntir yang terlibat secara spontan, bersemangat dan penuh pengabdian. Ada harapan samar-samar: bencana alam ini mendorong mempersatukan masyarakat AS yang kini oleh beberapa pengamat dinilai “terbelah” dan memicu diskusi publik mengenai global warming.

Apa yang dapat dilakukan menghadapi bencana alam semacam ini? Jelas tidak banyak: kita sama-sekali tidak dapat mencegah terjadinya, kita secara kolektif–bahkan dengan tingkat IPTEK yang paling terkini– hanya dapat mengantisipasi dampaknya dengan mengupayakan agar korban sesedikit mungkin. Bencana semacam ini, untuk kesekian kali, seyogyanya memberikan pelajaran penting bagi kita untuk secara legowo “menghormati” alam: pada dasarnya kita tidak dapat mengendalikan alam, tetapi “dikendalikan alam”[4].

harvey1

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Hurricane_Harvey

[2] Penulis aktif terlibat dalam Sensus Penduduk Nangro Aceh dan Nias (SPAN) 2005 yang salah satu tujuan utamanya adalah untuk menghitung jumlah korban jiwa akibat tsunami. Kegaiatan ini dibayai oleh komunitas global di bawah koordinasi UNFPA.

[3] http://abcnews.go.com/US/hurricane-harvey-wreaks-historic-devastation-numbers/story?id=49529063. Sebagian angka-angka itu masih mungkin berubah karena situasi masih sangat cair ketika tulisan ini disiapkan. Laporan CNN Sabtu (3/9/2017) petang, misalnya, mengungkapkan korban meninggal terkait Harvey menjadi 50 jiwa.

[4] Mengenai yang terakhir ini lihat https://uzairsuhaimi.blog/2011/12/06/dikuasai-alam/

← Back

Thank you for your response. ✨

Trump Sang Presiden

Trump Sang Presiden

Uzair Suhaimi

uzairsuhaimi.wordpress.com

Donald J. Trump kini menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) yang ke-45. Kita baru saja menyaksikan pelantikannya yang meriah, walaupun tidak semeriah pelantikan Barrack Obama 8 tahun sebelumnya. Penulis sependapat dengan Bapak Wapres bahwa kita harus menghormati proses demokrasi di negara adidaya itu. Fakta tak-terbantahkan dia memenangkan pemilu sekalipun menyandang daftar panjang kelemahan: bukan pemenang mayoritas, bukan politisi, visi globalnya tidak popuer, tidak didukung oleh partai “pendukung”, “dimusuhi” oleh banyak politikus senior dari Partai Republik maupun Demokrat, tidak populer di kalangan wanita dan kaum muda, dan dinilai luas sebagai rasialis dan tidak memiliki standar moral yang layak bagi seorang pemimpin negara. Daftar itu bisa diperpanjang; demikian panjangnya daftar itu sehingga kalaupun toh dia menang maka hal itu dapat dilihat sebagai, singkatnya, wujud dari “Kersanipun Gusti Allah”.

trump101.png

Sumber Foto: Googgle image

Masalah Sosial

Perspektif Moïsi (2009) dalam memahami fenomena geopolitik boleh dikatakan unik. Bagi dia, kita tidak dapat memahami sepenuhnya dunia di mana kita hidup tanpa mencoba memahami emosinya, dan (2) emosi, seperti kolesterol, ada yang baik dan ada yang jahat[1]. Emosi yang dimaksud dapat berbentuk kekhawatiran (fear), perasaan malu (humiliation) dan harapan (hope).

Dengan menggunakan perspektif Moïsi kita dapat melihat kemenangan Trump secara sederhana sebagai bentuk kekhawatiran dan harapan publik AS, khususnya, pendukung Trump, mengenai sejumah masalah sosial mendasar yang dipersepsikan saat ini menimpa masyarakat AS: pengangguran, kebangkrutan sektor manufaktur, kriminalitas, kemiskinan (kota), rasa aman, “beban” Obamacare, “sistem” kenegaraan yang “korup” dan tidak efektif, ketimpangan ekonomi (diakui oleh Obama), dan sebagainya.

  • Kekhawatiran bahwa masalah-masalah itu tidak akan berakhir dalam sistem yang sudah mapan (established) dan sudah kehilangan trust; dan
  • Harapan bahwa Trump lebih meyakinkan untuki mengakhiri situasi itu dibandingkan Hillary Clinton yang dianggap sebagai bagian dari –atau akan melanggengkan–sistem yang mapan.

Tetapi itu semua adalah persepsi (politik konon soal persepsi), yang belum tentu faktual. Mengenai pengangguran dan kemiskinan, misalnya, angkanya justru turun secara drastis dalam era Obama. Lebih dari itu, masalah-masalah serupa yang bahkan jauh lebih parah dan rumit, bagi sebagian pengamat, justru dihadapi oleh Obama menjelang kepemimpinannya sebagai presiden.

American First

Bahwa Trump bukan seorang politisi (biasa) tarlihat dari pidato inaguralnya sebagai Presiden. Para analis menduga atau berharap, pidato itu akan dimanfaatkan oleh Trump sebagai kesempatan emas untuk mengemukakan rekonsiliasi nasional, given gejala perpecahan masyarakat domestik yang sangat kentara. Para analis juga menduga, sesuai tradisi, pidato inagural akan berisi “basa-basi” untuk tidak memberi kesan buruk kepada out-going Presiden. Itu semua tidak terjadi. Tema pidato inagural ternyata berputar sekitar: (1) “kebobrokan” pemerintahan-pemerintahan sebelumnya yang dianggap sebagai penyebab karnagi, dan (2) American First.

Tema American First bagi penulis sah-sah saja. Trump benar ketika mengatakan bahwa setiap negara berhak mengedepankan kepentingan negara sendiri. Dalam praktek, hemat penulis, semua negara berupaya mempraktekkannya. Ini adalah HDL, kolesterol baik. Masalahnya adalah bahwa karena tema itu dideklarasikan (apalagi dalam pidato inagurasi ketika mata dunia tertuju) maka hal itu diduga kuat diterjemahkan oleh pihak luar sebagai sikap proteksionis yang berlebihan. Ini adalah LDL, koletorel jahat. Indikasi ke arah proteksionisme terlihat dari apa yang dilakukan Trump selama 2-3 hari pertamanya sebagai Presiden.

Bagi penulis, kebijakan proteksinisme justified sejauh tidak berlebihan, tidak mengarah kepada ekslusifieme dan ekspansionisme serta tidak mencerminkan sikap “mau_menang_sendiri”. Penulis tidak memiliki latar belakang ekonomi untuk mengomentari kebijakan itu secara layak. Walaupun demikian penulis memiliki beberapa pertanyaan yang mungkin layak didiskusikan:

  • Apakah kebijakan proteksionisme compatible dengan semangat globalisasi? Bagi penulis, given tingkat teknologi informasi kontemporer, globalisasi tidak dapat dihindari dan merupakan keniscayaan sejarah sehingga we have to live with it.
  • Apakah kebijakan itu harus selalu berlandaskan prinsip zero-sum atau menang sendiri seperti terkesan dalam pidato-pidato Trump selama masa kampanye? Bagi penulis, prinsip “menang bersama” adalah mungkin, lebih realistis dan lebih adil dalam pergaulan internasional sejauh yang menjadi concern adalah kemakmuran global?
  • Apakah kebijakan itu secara ekonomi makro jangka panjang justified dilihat dari sisi penciptaan lapangan kerja (yang merupakan tema besar Trump) maupun pertumbuhan ekonomi? Bagi penulis ini adalah isu masih terbuka untuk diperdebatkan?

Dalam tahun-tahun mendatang tampaknya dunia siap menyaksikan para pemimpin adidaya yang eksklusif dan proteksionis. Mudah-mudahan keduanya tidak mendorong tumbuhnya paham ultra-nasionalisme dan ekspansionisme. Khusus untuk AS, penulis berharap keadaan mendatang sesuai yang dijanjikan Trump: ada perluasan lapangan kerja, ada pengurangan kesenjangan ekonomi, ada peningkatan rasa aman, dan sebagainya yang membawa kemaslahatan riil bagi warga AS. Khusus bagi AS pula, penulis berdoa agar situasi mendatang tidak seperti yang dihawatirkan Obama: AS menjadi magnit bagi terorisme. Semoga … @

[1] Moïsi, Dominique (2009), The Geopolitics of Emotion: How Culture of Fear, Humiliation, and Hope Are Reshaping the World, Doubleday, halaman x. Kita mengenal istilah HDL (High Density Lipoprotein) untuk kolesterol baik dan LDL (Low Density Lipretein) untuk kolesterol jahat. Tinjauan buku ini dapat diakses dalam blog ini.

Profil Desa Kita

Tulisan ini memotret Wajah Desa Kita berdasarkan Statistik Potensi Desa 2011. Isinya menggambarkan secara singkat keadaan geografis, lapangan usaha, konversi lahan pertanian, dan keberadaan atau aksesibilitas terhadap fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. 

(Lanjut)

[Kembali ke Daftar Isi]