Ihsān: Pilar Agama yang Terabaikan

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Hadits Jibril menegaskan tiga cabang, logi, atau pilar Agama:  Īmān, Islām dan Ihsān. Dua cabang pertama sangat populer karena terkait dengan apa yang dikenal sebagai Rukun Iman dan Rukun Islam, cabang terakhir kurang populer. Cabang ini dirumuskan secara sangat padat: “Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, percayalah Dia senantiasa melihatmu”.

Layaknya fungsi cabang pada pohon, kekurangan cabang pasti akan mengurangi ‘keteduhan’ pohon Islam. Layaknya bangunan gedung, kekurangan satu pilar dari yang seharausnya akan mengurangi nilai seni arsitektur, mengganggu keseimbangan daya tahan atau bahkan merobohkan bangunan Islam.

Tulisan pendek ini terkait dengan topik Ihsān dan dapat diakses di SINI

View original post

Indeks Kemajuan Sosial: Tinjauan Umum

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Kata kunci: Dimensi IKS, pertanyaan kunci, metode dan hasil perhitungan, hubungan antara IKS dan GDP Per Kapita, Kapasitas Indonesia.

Setiap negara tentu mengupayakan agar warganya maju secara sosial. Upaya ini berarti, tetapi tidak terbatas pada, pemenuhan kebutuhan dasar akan sandang-pangan-papan-pendidikan-kesehatan semua warga, juga anak-cucu-cicit mereka yang masih hidup maupun yang akan hidup di abad-abad mandatang. Inilah upaya ke arah kebajikan yang dikenal secara universal (Arab: ma’ruf). Masalahnya, kapasitas negara untuk mewujudkan semua itu berbeda. Jadi pertanyannya bagaimana mengukur kapasitas itu. Indeks Kemajuan Sosial (IKS) atau Social Progress Index, indeks komposit yang dikembangkan oleh Social Progress Initiative sekitar satu dekade yang lalu, dimaksudkan untuk mengukur kapasitas itu tapi bukan satu-satunya[1]. Tulisan berdurasi-baca enam menit ini meninjau secara umum indeks komposit ini, menelisik anatomi dan metodologinya secara sepintas, serta mengevaluasi hasil perhitungannya secara sederhana. 

Anatomi IKS

Substansi IKS mencakup tiga dimensi sosial-lingkungan yang mendasar bagi kemanusiaan: kebutuhan dasar, pondasi…

View original post 1,545 more words

Al-Ghazali dalam Pandangan Jackson

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Konteks

Abad 8-14 dikenal sebagai era emas dalam sejarah Islam (the Islamic Golden Age). Era emas tidak berarti ada stabilitas politik. Di era Imam Ghazali (1058-1111), misalnya, dunia Islam tidak menikmati kesatuan politik: di Spanyol ada Dinasti Umayyah, di Afrika Utara dan sekitar ada Dinasti Fatimiyah (Syiah), dan di Baghdad ada Dinasti Abbasiyah (Suni). Yang terakhir semakin menua di dalam penjara istananya sendiri tanpa kekuatan politik riil dan berperan sekadar simbol kesatuan dunia Islam. Kekuatan politik riil dalam genggaman dinasti Buyids (Syiah) dan itu sudah berlangsung seabad: abad ke-10 dikenal sebagai dekade Syiah. Tiga tahun sebelum Sang Imam dilahirkan Baghdad ditaklukkan oleh suku Saljuk (Turki)[1].

Tulisan mengenai Imam Ghazali (selanjutnya Sang Imam) melimpah. Dalam konteks ini layak disimak pandangan seorang ahli dalam bidang pemikiran filsafat dan keagamaan dari Universitas Gloucestershire (Inggris). Beliau adalah reader dan pengajar di universitas itu untuk kajian Islam, Nietzsche, filsafat Yunani…

View original post 1,036 more words

HUSTON DAN AL-FATIHAH

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Mengaitkan Huston dan Al-Fatihah menarik paling tidak karena tiga alasan. Pertama, Huston[1](1919-2016) adalah tokoh berkaliber dunia dalam bidang studi keagamaan. Kedua, dari sisi afiliasi keagamaan beliau adalah seorang Metodis (Protestan), bukan Muslim. Paling tidak demikianlah beliau dikenal. Ketiga, dari sisi kebiasaan, lebih dari 20 tahun dari masa akhir hidupnya, beliau terbiasa memulai kegiatan hariannya dengan Salat Subuh. Paling tidak demikianlah pengakuannya dalam satu wawancara yang direkam dalam berbagai media termasuk bukunya yang berjudul The Way Things Are (2003).

Yang lebih menarik lagi, ketiga ditanya alasan kebiasaanya Salat Subuh, beliau mengemukakan al-Fatihan– surat pendek Al-Quran yang hanya terdiri dari tujuh ayat, bacaan wajib dalam Salat– sebagai konsiderans. Ini katanya: “That so much of what is important in life could be packed into just seven short phrases is almost in itself that Islam is a revealed religion (WTA, halaman 18). Berikut adalah garis argumennya.

AYAT 1: ALHAMUDULILLAH…

View original post 401 more words

Zikir: “Belum Tibakah Waktunya…”

Uzair Suhaimi's avatarJejak Pemikiran dan Refleksi

Kata Zikir mengandung banyak arti, tergantung sisi pandang. Dari sisi bahasa (lughah) Zikir bermakna mengingat. Dari sisi istilah Zikir, menggunakan bahasa santri, kegiatan “membasahi lidah” dengan menyebut nama-Nya; jadi, lebih merupakan pekerjaan lisan (lisaniah). Tetapi seperti diingatkan Imam Nawawi, Zikir juga pekerjaan hati (qalbiah). Bagi ulama besar ini yang ideal adalah Zikir dengan lisan dan hati sekaligus, tetapi jika harus memilih maka pekerjaan hati yang utama.

Dari sisi etimologi Zikir berasal dari kata “dzakara”. Arti kata ini luas sehingga agaknya mustahil dialih-bahasakan menjadi satu kata dalam bahasa Non-Arab. Kata ini antara lain menyebut, mengingat, menyucikan, memuji, menggaungkan, menjaga, mengerti, mempelajari, menasihati. Dengan demikian, melafalkan bacaan untuk menyucikan-Nya (tasbih), memuji-Nya (tahmid) dan mengagungkan-Nya (takbir) merupakan salah satu bentuk praktik Zikir. Kegiatan ini sangat diajurkan untuk dilakukan setiap setelah Salat.

Tidak Mengenal Waktu

Anjuran Zikir dalam bentuk tasbih, tahmid dan takbir setelah Salat berdasarkan Hadits Nabi SAW. Yang…

View original post 560 more words