Bermain Sepak Bola Tanpa Gawang

Dalam suatu ceramah, seorang kiai besar menganalogikan kita semua tengah bertanding sepak bola. (Bola Sepak, kata orang di negeri Jiran.) Tapi anehnya, sebagian kita tidak sadar tengah melakukannya. Sebagian lagi– sekalipun menyadari tengah melakukan pertandingan bola, dibekali keterampilan tinggi, serta dipenuhi semangat bermain– tidak mengenali tujuan atau gawang ke mana bola harus diarahkan. Sebagian di ataranya– sekalipun mengenali tujuan– tidak menatai aturan bermain Sepak Bola. Sisanya–  sekalipun bersedia menaati aturan– berharap memperoleh kemenangan tanpa lawan, cobaaan atau tantangan dari kesebalan lawan.

Sang Kiai, ketika menggunkan analoginya, sebenarnya tengah mengajarkan ilmu hikmah menggunakan satu kitab klasik yang sangat populer sedunia; yaitu, Al-Hikam. Kitab ini adalah karya Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (Iskandariah, Mesir, 1250-1309), mursyid ketiga dari Thariqah Syadziliyah, yang hidup di masa kekuasaan Dinasti Mamluk[1].

Tetapi berbeda dengan model penceramah lain, ia menghendaki agar pelajaran AL-Hikam tidak hanya bersifat teoretis apalagi sekadar berfungsi sebagai aksesoris, untuk “gaya-gayaan”. Sebaliknya, Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan  praktis sehari-hari para Salik.

Sang Kiai berkomitmen agar pelajaran Al-Hikam dapat memandu kehidupan praktis sehari-hari para Salik.

Apa itu Salik? Untuk mudahnya, Salik adalah orang yang tengah berada dalam perjalanan pulang kembali kepada Tuhan (istilah Qurani, rajiun). Dalam pengertian ini, Salik berlaku bagi semua orang, tanpa kecuali. Orang yang tidak menyadari status Salik ini yang dimaksudkan Sang Kiai dengan pemain bola yang tidak sadar tegah bermain bola.

Jalan yang ditempuh oleh Salik disebut Suluk. Karena Salik berlaku bagi semua orang maka hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aini, kata Sang Kiai; artinya juga berlaku umum. Dengan kata lain, bagi Sang Kiai, Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Salik berlaku bagi semua orang,… hukum mempelajari Ilmu Suluk fardhu ‘aiani,… Ilmu Suluk bukan ilmu elitis!

Tanpa ilmu Suluk hidup kita jadi random (istilah orang statistik), tidak memiliki probability density function atau pdf (kata orang statistik), tidak memiliki pola, tidak memiliki tujuan. Itulah yang dimaksud dengan pemain bola yang tidak memiliki gawang (gawang lawan), ke mana bola harus diarahkan dengan mengerahkan segala daya-upaya-semangat (himmah, dalam istilah Al-Hikam, Hikmah ke-2).

Dalam menjalani Suluk tentu ada aturan yang harus ditaati berupa syariah (aturan umum) dan arahan mursyid (pembimbing Salik). Tanpa ketaatan itu maka mustahil bagi Suluk untuk menuju ke arah yang benar, bahkan berbahaya, serta sampai dengan selamat (wusul, istilah Sufi) ke tujuan akhir Suluk yaitu (keredaan) Tuhan. Itulah analogi dari ke-tidak-taat-an pada aturan permainan sepak bola.

Itulah “keanehan” sebagian besar kita. Ada lagi keanehan yang luar biasa, yang benar-benar absurd: ingin memperoleh kemenangan, bahkan ingin menjadi juara, tetapi tidak menghendaki tantangan dari kesebelasan lawan.

Tantangan dari kesebelasan lawan ini yang dalam kehidupan beragama disebut dengan cobaan (Rab: balaa). Tantangan ini harus dihadapi oleh semua orang, tanpa kecuali, suka atau tidak suka.

Mengenai cobaan ini Sang kiai mengutip ayat berikut (Quran 2:155-157):

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Inna lillahi “wa inna ilahi wa iian ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami miliki Allah dan kepada-Nya kami kembali).

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petujnjuk.

Dari ayat ini jelas status Salik kita yang tengah “kembali” ke Tuhan (rojiun). Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks kematian. (Menurut penuturan Sang Kiai, “kelas” Umat kebanyakan, bahkan  kebanyakan  kalangan cendekia dan pembesar kerajaan di negara Jiran, sampai saat ini, baru memahami rojiun dalam konteks peristiwa kematian.)

Istilah rojiun  berlaku umum dalam semua situasi, bukan hanya dalam konteks konteks kematian.

Sang Kiai menafsirkan ayat di atas sangat kontekstual.

Ketakutan: Kamtibmas;

Kelaparan dan kekurangan buah-buahan: Kecukupan pangan serta kecukupan gizi; dan

Kekurangan harta: kemiskinan struktural.

Dengan tafsir kontekstual semacam ini maka tidak mengherankan jika untuk menangani “cobaan” Sang Kiai berharap lebih banyak kepada kalangan negarawan-ilmuan-cendekiawan-birokrat dari kepada ulama.  Wawasan luar biasa bagi seorang kiai pesantren tradisional (salafiyah).

Sumber Gambar: Google

Sebagai catatan akhir, Sang Kiai yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan tokoh fiktif. Dia adalah tokoh riil, masih hidup, masih mengelola pesantren tradisional, ulama besar kalangan Nahdiyin yang akrab dengan Muhammadiyah, tokoh karismatik MUI, populer di negara-negara Jiran termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Nama beliau adalah K.H. Zezen Zaenal Abidin. Bagi yang berminat mengakses rekaman pengajian beliau mengenai AL-Hikam, silakan kunjungi alamat ini:

https://ceramahhikmah.blogspot.com/2015/05/ceramah-hikam-mp3-kh-zezen-zaenal-abidin.html#more.

[1] Lihat  https://www.qudusiyah.org/id/kajian/al-hikam/; juga http://nurulmakrifat.blogspot.com/2013/09/terjemah-kitab-al-hikam-ibnu-athaillah.html.

← Back

Thank you for your response. ✨

 

Agus Sang PNS

jibril1

Agus menatapi paras Si-kecil (6 bulan) yang tengah tidur lelap di samping putri sulungnya (3  tahun) yang juga lelap. Sore tadi Si-kecil terpapar demam yang mencemaskan. Ibunya dengan sigap membawanya ke dokter spesialis swasta yang bagi Agus bertarif terlalu mahal. Buktinya semalam ia mengeluarkan sepertiga honor bulanannya untuk sang dokter. Tetapi dalam hal dokter ini istrinya fanatik sehingga Agus hanya bisa mengurut dada. “Urusan kesehatan anak kok coba-coba”, argumen istrinya ketika Agus menyarankan untuk mencoba dokter umum atau Puskesmas. Di dua jenis pelayanan ini Agus dapat memanfaatkan BJPS Kesehatan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya berarti.

“Sudah turun panasnya”.

Agus kaget mendengar suara istrinya yang dikira masih di belakang. Tetapi dia lega melihat istri terkesan lega.

“Jam tiga tadi dia baru tidur”, lanjut istrinya.

Agus membayangkan istrinya bergadang dan mungkin juga menggendong si kecil sesekali. Ia tidak tahu persis karena lagi “pisah ranjang”. Maksudnya, akhir-akhir ini dia biasa tidur di ranjang terpisah, bahkan di kamar berbeda.

Paling tidak ada empat alasan kenapa dia pisah ranjang. Pertama, Agus sering menerima telepon malam hari soal pekerjaan kantor dari atasan langsungnya, seorang ibu separuh baya yang terkenal taft. Agus tidak keberatan karena menganggapnya sebagai risiko kerja. Kedua, dia terkadang bangun malam untuk salat sunat yang dikhawatirkan mengganggu tidur istri dan anak-anaknya. Ketiga, ranjang di kamar tidur utama terlalu sempit untuk empat kepala. Keempat, istrinya tidak keberatan.

Setelah pamit kepada istri Agus dengan tenang mengendarai motor menuju stasiun KA terdekat. “Paling menelepon ibunya”, pikir Agus ketika mengantisipasi istrinya repot karena sakitnya di-kecil. Dia merasa beruntung punya mertua yang masih cekatan, memiliki waktu bebas setelah suaminya (mantan pejabat satu BUMN) meninggal, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan sayang cucu. “Sayang berlebihan”, pikir Agus.

Menekan Pengeluaran

“Masih pagi”, pikir Agus ketika melihat jam dinding stasiun KA masih merujuk pada angka 5.30. Dia terbiasa memanfaatkan Commuter Line pada jam ini menuju kantornya di kawasan Jakarta Pusat. Pagi ini ia beruntung berkesempatan duduk.

Sambil menikmati duduk dengan mata terpejam-agak-kantuk ia membayangkan paras si-kecil yang tadi sempat ditatapnya. Diam-diam dia berdoa agar si-kecil dikaruniai nikmat kesehatan. Harapannya, anak-anaknya tidak perlu terlalu sering ke dokter spesialis swasta yang mahal. “Naluri protektif keibuan yang berlebihan”, bisiknya dalam hati menilai istrinya.

Bagi Agus yang bergelar S2 dan sudah berkarier sebagai PNS hampir 10 tahun membayar dokter spesialis anak identik dengan pengurangan signifikan tabungannya yang tipis. Tahun ini, tabungannya menipis drastis karena dua macam pengeluaran: (1) biaya kelahiran si-kecil, dan (2) donasi sukarela biaya kuliah keponakan yang sudah yatim sejak usia SD. Yang terakhir ini jumlahnya lumayan besar tetapi dilakukan antara lain karena dorongan istri. Dalam hal kepekaan sosial istrinya layak diacungi jempol.

Walaupun tabungannya tipis Agus masih berharap tahun depan mampu menunaikan zakat. Tahun ini, untuk pertama kali dalam 5 tahun terakhir, ia tidak berzakat karena tabungannya di akhir waktu penghitungan tidak memenuhi nisab atau batas minimal untuk berkewajiban zakat.

Jam masih menunjukkan pukul 6.35 ketika Agus turun dari kereta di stasiun terakhir dan segera menyusuri trotoar jalan kaki ke kantor yang masih dalam rentang walking distance.

Kebiasaan jalan kaki dari stasiun terakhir ke kantor sudah dimulai setahun lalu. (Kebiasaan sebelumnya ngojeg.) Bagi Agus ini bagian upayanya untuk menekan pengeluaran. Upaya lainnya termasuk beberapa jenis pengurangan frekuensi: (1) frekuensi minum jus sirsak yang merupakan hobi beratnya, (2) frekuensi mentraktir istri makan bakso, dan (3) frekuensi menikmati double espresso di Starbucks Coffee yang juga merupakan hobi beratnya.

Menyempurnakan Tugas

Ketika memasuki ruang kerjanya dan baru menyalakan komputer Agus dipanggil menghadap Bos (besar). Ia segera melapor singkat ke atasan langsungnya. Kebetulan ia berada di kantor padahal pada jam itu bisanya belum hadir karena kesibukan luar. Agus melapor ke Ibu karena tahu itulah etika dan prosedur standar kantor.

Ketika menghadap Bos dia memperoleh  perintah singkat: “Ihsan, Bapak lusa akan menghadiri rapat antar-kementerian bertemakan B di Kementerian A. Kamu siapkan bahannya. Besok jam 8 sudah siap ya”. Agus merespons, “Siap Pak”. “Mohon izin bertanya Pak. Nama saya Agus, bukan Ihsan. Apa Bapak tidak salah panggil”.  Bos menjawab: “Oh tidak, tidak. Yang Bapak maksud memang kamu, tadi hanya salah sebut nama. Tadi pagi Bapak baru baca artikel bagus mengenai Ihsan, jadi keceplosan memanggilmu Ihsan”.

Agus lega mendengar penjelasan Bos. Sambil menuju ruang kerjanya ia mulai membayangkan rencana kerja untuk menyelesaikan tugas barunya ini. Sebelum mulai mengerjakannya ia melapor ke Ibu yang kali ini berbaik hati memberikan arahan singkat: “Untuk keperluan Bos kamu cukup menyiapkan pointers dan catatan ringkas, jangan bertele-tele”. “Siap Bu”, respons Ahmad.

Setelah melapor Agus langsung googling mencari informasi yang relevan mengenai Kementerian A dan Tema B. Maklum dia merasa awam soal keduanya. Ia menghabiskan sekitar satu jam untuk kegiatan ini sebelum akhirnya merasa memiliki bahan cukup.

Selesai googling dia mulai menyusun pointers sesuai arahan Ibu dan menggunakan waktu 90 menit untuk menyelesaikannya. Ia segera melapor ke Ibu yang menerimanya datar-datar saja. Ibu sempat memberikan sedikit koreksi walaupun kebanyakan (seperti biasanya) trivial, tidak substantif. Ia kembali ke komputernya untuk mengakomodasikan arahan Ibu walaupun menyadari sudah kehilangan sepertiga waktu istirahatnya.

Ketika menuntaskan pointers (dalam Words) sebenarnya ia telah menyelesaikan tugasnya menurut ukuran normal kantornya. Walaupun demikian ia merasa yang dilakukannya belum sempurna dan berniat untuk menyiapkan versi Power Point setelah makan siang. Dia bermaksud mengonsultasikan dengan Ibu mengenai idenya ini tetapi yang bersangkutan sudah keluar. “Tidak akan kembali sampai besok pagi”, kata sekretarisnya.

Ia melanjutnya niatnya menyiapkan Power Point yang dilengkapi logo kantor dan aksesori sederhana tetapi apik: “Biar besok pagi dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya.

Usai menyelesaikan Power Point Agus masih belum puas. (Ia terkenal kreatif dan sedikit perfectionist.) Ia dapat membayangkan dalam rapat nanti Bos memiliki peluang memberikan sumbangan pikiran substantif. Agus meyakini kantornya memiliki ladang subur untuk menanam kebaikan bagi kepentingan masyarakat luas. Keyakinan ini yang selalu menyalakan semangatnya mengabdi sepenuh hati.

Didorong oleh pikiran ini ia berpikir untuk menyiapkan artikel singkat sebagai pelengkap Power Point: “Biar besok pagi hasilnya dikonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Ia mulai menggarap artikel itu walaupun tidak selancar dugaannya. Penulisan artikel ternyata perlu diselingi googling untuk memperoleh evidence-based yang kuat dan argumen yang meyakinkan untuk menghasilkan artikel kredibel. Ia menyadari Bos-nya yang menyandang gelar PhD itu akrab dengan model artikel ilmiah.

Agus menyelesaikan artikelnya satu jam setelah jam-pulang-kantor sehingga harus berdesak-ria dalam kereta. ia tidak keberatan dengan situasi tidak nyaman itu karena menyadari sudah menjadi risiko kerja. Sebelum pulang ia sempat mem-print artikelnya. Niatnya, malam nanti kan memeriksa artikel agar lebih sempurna.

Paginya dia bersyukur memeriksa artikel karena ternyata masih mengandung beberapa kekurangan. Dia berangkat kerja lebih pagi untuk menyelesaikan penyempurnaan yang ternyata hanya butuh waktu 15 menit. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini waktu menunjukkan pukul 7.30. “Masih ada waktu mengonsultasikan dengan Ibu”, pikirnya. Sayangnya yang bersangkutan belum ada di kantor. Ia menunggu sampai sekretaris menginformasikan Ibu baru siang nanti di kantor. Karena informasi ini ia menyerahkan seluruh hasil kerjanya langsung ke Bos karena sudah mendekati tenggang waktu yang diberikan.

Sabar, sabar

Setelah menyerahkan tugas ia merasa lega dan berniat untuk santai sejenak. Niatnya urung: ia dipanggil Ibu yang baru tiba dan di luar dugaan marah berat karena merasa dilangkahi: “Kenapa kamu menyerahkan hasil kerja ke Bos sebelum Aku periksa?, dst., dst., ..,,” Agus sempat terenyak dan hampir marah. Tetapi segera menyadari ia tengah berhadap dengan atasan. Amarahnya pun segera mereda: “Ya Bu”, responsnya pendek. Dengan lunglai ia kembali ke ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya sempat terpikir oleh Agus bagaimana dirinya sering diperlakukan tidak adil oleh Ibu. Dua teman seangkatannya yang juga anak buah Ibu memperoleh promosi jabatan dua tahun lalu padahal “kinerjanya biasa-biasa saja” menurut teman sejawat. Tetapi Agus segera menyadari pikirannya itu berasal dari Setan sehingga ia segera bersistigfar. Ia merasa hampir menghujat kebijaksanaan Tuhan sehingga segera menangkan diri: “Sabar, sabar. Apa yang menjadi nasibmu adalah izin Tuhan dan ini berati yang terbaik bagimu”, bisiknya dalam hati.

Agus populer di kalangan teman-teman antara lain karena dinilai terlalu lama di posisinya sekarang. Normalnya, tiga tahun lalu ia sudah memperoleh promosi jabatan. Agus mengetahui penilaian koleganya tetapi sama-sekali tidak merasa terganggu. Ia tetap bermuka jernih ketika bekerja dan bergaul di lingkungan kantor.

Di lingkungan kantor Agus juga populer sebagai PNS yang baik: hampir tidak pernah terlambat tiba di kantor, rajin bekerja dan produktif-kreatif, selalu bermuka jernih dan tidak pernah melawan atasan.

Agus-Ahmad-Ihsan

Sebenarnya label “PNS yang baik” untuk sosok Agus terlalu sederhana. Ia mewakili sosok “PNS yang terpuji”. Label terpuji sesuai bagi Agus yang bernama lengkap Ahmad Agus: Ahmad (Arab) artinya terpuji.

Selain berlabel Ahmad, sosok Agus sebenarnya juga layak dilabeli Ihsan. Alasannya, Agus terbisa menyelesaikan tugas lebih dari yang dituntut secara formal yang menurut para ustaz merupakan ciri Ihsan. Kata ustaz Ihsan adalah “puncak kebaikan”; Ihsan tidak hanya melakukan pekerjaan secara sempurna menurut aturan, tetapi melakukannya dengan mengerahkan inteligensi (Inggris: intelligence, lebih luas dari pada mind), dan jiwa (Inggris: soul). Juga menurut ustaz, Ihsan memiliki kemampuan untuk memberikan donasi sukarela dalam keadaan sulit dan untuk menahan amarah. Semua ciri-ciri ini ada pada Agus bahkan sudah merupakan akhlak atau kebiasaan spontannya.

Demikianlah Agus, sang PNS. Dalam populasi PNS banyak Agus-agus lain yang jumlahnya cenderung meningkat. Walaupun demikian, kelompok ini tetap minoritas dan umumnya tidak berbakat untuk menarik perhatian atasan. Bagi mereka, mengasah bakat ini identik dengan mengaburkan nilai profesionalisme sejati….@

Puasa: Tujuan dan Adab

Dasar hukum (syar’i) puasa adalah al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ayat pendek ini mungkin termasuk paling populer di kalangan umat karena sering dikemukakan oleh para pencermah, khususnya pada bulan puasa.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa ayat ini tidak menyebutkan siapa yang yang mewajibkan puasa. Dalam hal ini apa yang diungkapkan Shihab layak disimak. Baginya, tidak disebutkannya secara eksplisit pihak yang mewajibkan puasa mengisyaratkan bahwa ibadah ini sangat penting dan berguna bagi manusia; sedemikian penting dan bergunanya ibadah ini sehingga “seandainya bukan Allah SWT yang mewajibkannya, niscaya manusia yang akan mewajibkan atas dir mereka sendiri” Shihab (2002:401). Sejalan dengan pendapat ini al-Gazali (2012:123) mengungkapkan bahwa “puasa adalah asas ibadah yang sekaligus merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah swt”.

Seperti ditegaskan dalam ayat ini, tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa yang secara singkat dapat didefinisikan sebagai “terhindar dari segala macam sanksi atau dampak buruk bagi duniawi maupun ukhrawi” (Shihab, 2003:401). Dalam narasi al-Gazali (2012:123), tujuan puasa adalah “meredam keiginan nafsu dan meningkatkan kekutan batinmu, agar engkau dapat gunakan sebagai modal untuk meningkatkan nilai ketakwaanmu”.

takwa1

Sumber: Youtube

Yang juga menarik untuk dicatat adalah bahwa penggunaan kata “agar” (Arab: la’alla) dalam ayat itu dan ini mengisyaratkan bahwa antara puasa dan takwa tidak ada hubungan otomatis; artinya, orang yang berpuasa belum tentu mencapai derajat takwa. Hal ini sejalan dengan hadits yang kira-kira artinya “banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapat manfaat apa-apa dari puasanya itu, selain rasa lapar dan dahaga”.

Apa yang menyebabkan puasa tidak “ngefek” (istilah remaja) dalam arti tidak membuahkan pahala atau tidak efektif sebagai modal untuk meningkatkan ketakwaan sebagaimana diungkapkan al-Gazali? Jawaban singkat untuk pertanyaan ini adalah bahwa pelakunya kurang atau tidak mengindahkan adab puasa. Dalam kaitan ini layak disimak apa yang dikatakan al-Gazali (2012:121):

Agar puasa menjadi sempurna, maka yang harus dilakukan adalah menahan seluruh anggota tubuh dan pikiran dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Artinya, engkau harus harus dapat menjaga mata dari hal-hal yang tidak disukai-Nya, menjaga lisan dari mengatakan sesuatu yang tidak manfaatnya untukmu, dan menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang oleh Allah Ta’ala.

Termasuk dalam adab puasa adalah mengendalikan nafsu makan ketika berbuka. Mengenai hal ini al-Gazali (2012:123) sangat serius:

Jadi, bila engkau berbuka dengan memakan jatah makan yang mestinya untuk dua atau tiga kali, maka tidak ada gunanya engkau berpuasa. Sudah barang tentu perutmu akan terasa berat. Padahal benjana yang sangat dibenci Allah swt adalah perut yang terisi penuh makanan halal, hingga kekenyangan. Lantas, bagaimana dengan perut yang terisi makanan yang diharamkan”

Juga merupakan bagian dari adab puasa adalah menghindari lima perkara yang menurut hadits (dikutip oleh al-Gazali, 2012:120) dapat membatalkan pahala puasa: berbohong, mengadu-domba (namimah), memfitnah, bersumpah palsu dan memandang lawan jenis dengan syahwat.

Jika adab-adab puasa sebagaimana dibahas sebelumnya merupakan bagian dari akhlak (perilakuk otomtis) kita sehari-hari (bukan hanya bulan puasa), maka ada harapan puasa kita efektif dalam arti dapat menjadi modal bagi kita untuk meningkatkan nilai ketakwaan.

Perlu dicatat bahwa takwa menunut keterampilan-spiritual lebih, jauh di atas rata-rata: berinfak di waktu sempit, memaafkan kesalahan orang lain, sedikit tidur di malam hari (karena tahajjud), banyak minta ampun menjelang fajar, memberikan hak orang miskin tanpa perlu diminta. Keterampilan-keterampilan itu sama-sekali bukan mengada-ada tetapi secara eksplisit termaktub dalam al-Imran 134 dan al-Dzariat 15-19:

(orang yang bertkwa yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain (al-Iamran 134).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (surga) dari mata air (15); mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya sebelum itu (di dunia) mereka tergolong muhsinin (16); mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (17); dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah) (18); dan pada harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta, dan orang-orang miskin yang tidak meminta (19) (al-Dzariat: 15-19).

Kutipan ayat di atas menegaskan unsur ihsan dalam makna takwa yang kurang memperoleh perhatian pencermah atau khatib jum’at kita ketika menjelaskan takwa. Hal ini tentu memprihatinkan terutama bagi mereka yang serius ingin menggarisbawahi wajah Islam yang ramah dan damai.

Wallahu ‘alamu bi muraadih…..@

Referensi

Iman al-Gazali (2012), Biayatul Hidayah (Jalan Meraih Hidayah Allah) (terjemahan), Khatulistiwa.

Shihab, M. Quraisy ( 2002 ), Tafsir al-Misbah, Lentera Hati

← Back

Thank you for your response. ✨

Dimensi Kebajikan

Kebajikan berdimensi ganda [1]. Hal ini tercermin dari padanan katanya dalam Bahasa Inggris yaitu virtue atau dalam Bahasa Arab yaitu al-birr. Dalam kamus Bahas Inggris, kata virtue mengandung unsur integritas (integrity), adil (justice), sederhana (temperance), murni (purity), patut (decency), pantas (merit), beda (distinction), dan unggul (excellence)[2]. Dalam kamus Bahasa Arab kata al-birr mengandung unsur kejujuran (asshidieq) dan ketaatan (tha’ah), kebaikan (khair), kemasalahatan (ishlah), dan sebagainya[3].

Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa semua unsur virtue maupun al-birr bernilai positif. Walaupun demikian, perbandingan yang cermat menujukkan bahwa konotasi dari dua kata itu sebenarnya tidak sepenuhnya sama: sementara yang pertama lebih banyak merujuk pada, meminjam istilah Schuon, kebajikan alamiah (natural value), yang kedua pada kebajikan supra-alamiah (supernatural value). Yang menjadi perhatian tulisan ini adalah yang kedua karena yang pertama hanya efektif jika diintegrasikan dengan yang kedua sebagaimana dinyatakan Schuon dalam kutipan berikut[4]:

Thus it is important to understand that the natural virtues have no effective value save on the condition of being integrated into the supernatural virtues….Natural virtue does not, in fact, exclude pride, that worst of illogicalities and that of preeminent vice; supernatural virtue alone –rooted in God—excludes that vice, in the eye of Heaven, cancels all the virtues. Supernatural virtue –which alone is fully human—coincide with humility; not necessarily with sentimental and individualistic humanitarianism, but with the sincere and well-grounded awareness of our nothingness before God and our relativity in relation to others. To be concrete, we would say that a humble person is ready to accept even a partially unjust criticism if it comprises grain of truth, and if it comes from a person who is, if not perfect, at least worthy of respect; a humble person is not interested in having his virtue recognized, he is interested in surpassing himself; hence in pleasing God more than men.

Adalah penting bagi kita untuk mengerti bahwa kebajikan alamiah tidak memiliki nilai efektif kecuali jika terintegrasikan ke dalam kebajikan supra-alamiah… Kebajikan alamiah tidak bebas dari kesombongan, sesuatu yang paling tidak logis dan merupakan induk dari segala keburukan; hanya kebajikan supra-alamiah –yang bersumber dari Tuhan—yang dapat terbebas dari keburukan yang dalam pandangan Langit dapat menghanguskan semua amal kebaikan. Kebajikan supra-alamiah –dan ini yang sepenuhnya manusiawi – berhimpitan dengan kebersahajaan; tidak harus sentimental atau sejalan dengan humilitiarisme individualistik, tetapi bertepatan dengan kejujuran dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan kita di hadapan Tuhan dan relativitas kita di hadapan yang lain. Agar kongkrit, kita dapat katakan bahwa seorang yang bersahaja siap menerima suatu kritik yang sekalipun sebagian tidak adil sejauh tetapi mengandung benih kebenaran, dan sejauh itu datang dari orang yang –jika tidak sempurna—paling tidak layak dihormati; seorang yang bersahaja tidak tertarik agar kebajikannya diakui, ia hanya tertarik untuk mengatasi dirinya; mencari lebih keridoan Tuhan dari pada pujian manusia.

Dari kutipan di atas dapat dipetik paling tidak dua macam pembelajaran yang saling terkait. Pertama, kebajikan (supra-alamiah) bebas dari kesombongan (pride) sehingga bertepatan dengan kebersahajaan (humility). Kedua, kebersahajaan ini berbasis nilai Ketuhanan (rooted in God) yaitu kejujuran (Arab: assiddieq) dan kesadaran kokoh mengenai kekerdilan diri di hadapan Tuhan dan mengenai kesetaraan atau relativitas dirinya di hadapan yang lain.

Dari kutipan di atas juga tersirat arti penting hubungan vertikal (“tali Allah”) dan hubungan horizontal (“tali manusia”) dalam konteks kebajikan; yang kedua ini merupakan basis dari kemurahan-hati (charity). Dua jenis “tali” ini perlu dipegang_teguh agar terhindar dari kehinaan (dzillah): “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanian) dengan manusia…”[5]

kebajikan

Varian Kebajikan[6]

Kebajikan (supra-alamiah) memungkinkan kebenaran (veracity) menjadi kongkrit, terlihat dan hidup: tanpa unsur kebajikan, kebenaran tidak tampak atau seolah-olah tidak bertubuh (imposture). Di sisi lain, dalam perspektif spiritual, kebajikan menjadi tidak bermakna jika tidak dilandasi kebenaran.

Uraian di atas juga menyinggung kaitan kebijakan dengan kebersahajaan dan kemurahan-hati, dua wujud dari kebajikan fundamental (fundamental value). Agar berkah atau manjur, masing-masing kebijakan fundamental itu perlu dipadukan sehingga menghasilkan dua varian kebajikan: (1) “kebersahajaan” bersifat “murah hati” (charitable humility) dan (2) “murah-hati” bersifat “bersahaja” (humble charity).

Karena merupakan wujud kebajikan, masing-masing kebajikan fundamental itu, agar bermakna, membutuhkan kebenaran sebagai landasan. Kombinasi kebenaran dengan kebersahajaan menurunkan dua varian kebajikan: (3) kebenaran yang bersahaja (humble veracity) dan (4) kebersahajaan yang benar (truthful humility). Pada sisi lain, kombinasi kebenaran dengan kemuahan_hati menurunkan varian kebajikan: (5) kebenaran yang murah hati (cahritable veracity) dan (6) kemurahan hati yang benar (truthful charity).

Hemat penulis, memahami 6 (enam) varian kebajikan penting selain untuk memperkaya pemahaman kita mengenai kebajikan tetapi, tetapi juga agar tidak terjebak dalam semangat atau kecenderungan untuk memberikan penekanan yang berlebihan yang tidak perlu (overemphasis) terhadap suatu kebajikan fundamental tertentu.

  • “Kebenaran yang murah hati” (varian ke-5), sebagai contoh, mengingatkan kita bahwa kebenaran bukan hanya untuk keperluan diri-sendiri tetapi perlu di-share dengan orang lain, tentunya dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dipahami.
  • “Kebersahajaan yang benar” (varian ke-4) dan “kemurah-hatian yang benar” (varian ke-6), sebagai contoh lain, menegaskan bahwa “kebersahajaan” dan “kemurah-hatian” harus sesuai dan mengungkapkan kebenaran, bukan bertentangan dengannya.

Contoh terakhir ini mengilustrasikan betapa tidak eloknya melakukan suatu aksi atas nama “kebenaran” tetapi mengabaikan “kebersahajaan” dan “kemurahan_hati” ketika melakukan aksi itu. Wallaahu’alam.

Teks Suci Mengenai Kebajikan

Kebajikan bersifat universal dalam arti dapat ditelusuri dalam teks suci semua agama atau tradisi besar manusia sepanjang sejarah. Dalam konteks Islam, narasi megenai kebajikan (al-birr) dalam berbagai kontkes antara lain dapat ditemkan dalam ayat-ayat al-Qur’an berikut:

  • Ayat (3,92): Kebajikan tidak dapat kita diraih kecuali jika kita mampu menafkahkan sebagian harta yang kita cintai;
  • Ayat (3:193): Doa agar digolongkan ke dalam golongan ahli kebajikan (al-abraar); dan
  • Ayat (2:44): Kecaman kepada Bani Israil yang menyuruh orang lain melakukan melakukan kebaikan tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.

Versi ayat yang agak panjang mengenai kebajikan dapat ditemukan dalam Ayat (2:177):

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, kitab-kitan, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicinatinya kepada kerabat, anak yaitim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menempati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka adalah orang-orang yang benar dan mereka iulah orang yang bertakwa[7].

Ayat itu menyebut ahli kebajikan sebagai orang-orang yang benar atau jujur (shodaquu) dan bertaqwa (muttaquun). Ayat itu mungkin paling lengkap dalam menggambarkan kebajikan karena mengandung unsur ketiga pilar Agama Islam (sesuai “hadits Jibril”)  yaitu Iman, Islam dan Ihsan:

  • Unsur Iman: percaya kepada Allah dan rukun iman lainnya,
  • Unsur Islam: melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan
  • Unsur Ihsan: memberikan harta yang dicintai kepada yang berhak, menempati janji, sabar dalam penderitaan.

Wallahu’alam bimuraadih….@

[1] Dalam situs ini dapat diakses tiga tulisan serupa dengan tulisan ini tapi lebih sederhana: (1) Rendah Hati (1/1/16), Kebajikan Fundamental (24/4/12) dan Kebenaran dan Kebajikan (21/4/12).

[2] Lihat misalnya, Webster’s Pocket Thesaurus, New Revised Edition (2002)..

[3] Lihat , misalnya, Kamus Lisaânul ‘Arabî.

[4] Frihjof Schuon (1988:51-52),  To Have A Center, World Wisdom Books.

[5] Al-Imran 112; terjemahan dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita.

[6] Disarikan dari Shuon, “Spiritual Perspectives and Human Facts”, World Wisdom online library: http://www.wordpresss.com/public/library/ default.aspx

[7] Dikutip dari The Wisdom: Al-Qur’an Disertai Tafsir yang Memudahkan Siapa Saja untuk Memahami Al-Qur’an, 2014, PT Mizan Bunaya Kreativita

Do’a ketika Bercermin

Makna doa ketika bercermin ternyata sangat dalam karena mencerminkan ajaran moral mengenai hubungan positif antara sifat penciptaan dan karakter atau akhlak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa misi Islam adalah menyempurnakan atau rektifikasi akhlak atau karakter yang didasari kebenaran metafisis sesuai ajaran Tauhid, dibimbing oleh aturan-ilahiah sesuai dengan hukum syar’i (Islam), dan memiliki platform keindahan ilahiah yang abadi sesuai ajaran Ihsan dan keteladanan Rasul yang ummi.

Bagi yang berminat mengakses artikel lengkap silakan klik: DoaBercermin