Doa Wudu: Daftar Pengakuan

Ya Rabb, terkadang hamba memulai wudu dalam rangka menghadap-Mu dengan dengan kalimat pendek yang berdaya menyucikan, bismillah; sayangnya, aku terlalu sering lalai menyelaraskan perilaku keseharian dengan doa-doaku itu.

Ketika mencuci pergelangan tangan aku berdoa: “Ya Rabb, berkatilah kedua tangan ini agar gemar terangkat bermunajat ke haribaan-Mu dan agar terbebas dari sifat kikir yang membelenggu”.

Dalam keseharian hati ini lebih sering mengabaikan-Mu yang Maha Hadir seolah-olah tidak butuh uluran tangan-Mu yang Maha Pemurah.

Ketika berkumur aku bermohon: “Ya Rabb, berkatilah mulutku agar mampu menyatakan kebenaran dan hanya kebenaran”.

Dalam keseharian mulut ini lebih banyak berceloteh sia-sia dan sering kali menyerempet bahaya.

Ketika hidung menghirup air aku berkata lirih: “Ya Rabb, berkatilah agar hidungku peka terhadap wewangian surgawi”.

Dalam keseharian hidungku lebih terbius oleh bau asap dunia fana yang menyesakkan dan mengaburkan visi kesucian.

Ketika membasuh wajah aku melafalkan doa: “Ya Rabb, limpahkan wajahku cahaya-Mu agar mampu merefleksikan kelembutan hati serta menebarkan kesejukan”.

Dalam keseharian wajahku lebih banyak mencuatkah kekasaran dan kekerasan hati.

Ketika mencuci tangan aku bermunajat: “Ya Rabb, limpahkan sedikit kekuatan-Mu agar kedua tanganku ini mau dan mampu melakukan kebajikan untuk kesejahteraan sesama”.

Dalam keseharian tanganku didominasi karya egosentris yang tidak peka terhadap kepentingan orang lain.

Ketika mengusap kepala aku meminta: “Ya Rabb, kendalikan pikiranku agar cukup jernih untuk mentadaburi luasnya rahmat-Mu yang mencakup segala”.

Dalam keseharian kepalaku didominasi perspektif sempit dan tidak merasa nyaman ketika mengenakan lensa universalitas.

Ketika mengusap telinga aku mengadu: “Ya Rabb, berkatilah telingaku agar menggemari suara yang mengajak ke jalan-Mu”.

Dalam keseharian telingaku lebih terobsesi oleh suara hiruk-pikuk dunia tanpa makna.

Ketika mencuci kaki aku berdoa: “Ya Rabb, bimbinglah kakiku agar condong ke jalan kebaikan dan hanya kebaikan”.

Dalam keseharian kakiku terbiasa menyusuri jalan kesia-siaan duniawi yang sering kali menyerempet batas-Mu.

“Ya Rabb, aku terlalu lemah untuk menyelaraskan perilaku keseharian dengan doa yang mungkin karena daki dosaku sudah terlalu tebal; oleh karena itu, berilah aku kelimpahan keberkahan bersuci sehingga mampu melunturkan daki dosaku!”.

”Ya Rabb, didiklah aku agar mampu bersuci secara layak sebelum menghadap-Mu, sebelum berpartisipasi sesama mahkluk lain dalam bertasbih kepada-Mu, sebelum menceburkan diri dalam cahaya-Mu yang tanpa batas!”

“Ya Rabb, terimalah doaku ini!; limpahkanlah Salawat dan Salam kepada junjunganku, rasul-Mu yang terakhir dan agung itu!… @

Hidup: Jalan Menyempit

Catatan:

Tulisan Singkat ini diadaptasi dari tulisan Frithjof Schuon bertajuk “Mode of Prayer” dalam Prayer Fashions Man, World Wisdom (2005:75).

 

Jauh dari yang dipercayai dan diobesesikan oleh anak-anak dan kebanyakan kita (wordly man), hidup bukanlah ruang yang penuh kemungkinan yang menjanjikan untuk memperoleh aneka kesenangan hidup duniawi. Jauh dari itu. Hidup adalah satu jalan yang terus semakin menyempit: dari kekinian (present moment), sampai ke kamatian. Di ujung jalan ini ada kematian dan pertemuan dengan Tuhan, kemudian keabadian (eternity). Semua realitas ini sudah hadir dalam Salat, aktualitas nirwaktu (timeless) dari kehadiran yang Ilahi.

Jauh dari yang dipercayai dan diobesesikan kebanyakan kita, yang diperhitungkan dalam hidup bukanlah diversitas pengalaman sepanjang jalur magis yang kita kenal sebagai durasi. Jauh dari itu. Yang diperhitungkan adalah menjaga kesucian diri (perseverance) dan dzikir (remembrance) yang membawa kita keluar dari kungkungan waktu, serta mengatasi semua harapan kehawatiran kita. Dzikir ini sudah hadir dalam keabadian; di dalamnya, suksesi aksi hanyalah ilusi, Salat menyatukannya. Salat karenanya sudah merupakan suatu kematian, pertemuan dengan Tuhan, suatu kebahagiaan abadi (an eternity of bliss).

Bagi kita, empat hal sudah pasti: kekinian, kematian, pertemuan dengan Tuhan, dan keabadian. Kematian adalah jalan keluar dari suatu dunia yang tertutup, pertemuan dengan Tuhan adalah langkah pertama pada keabadian yang kekal, keabadian adalah kepenuhan wujud cahaya murni, dan kekinian adalah “tempat” dalam durasi kita yang hampir tidak dapat dipahami (ungraspable) ketika kita sudah berada dalam keabadian, satu titik waktu dalam rentang keabadian yang tak terhingga.

Dalam konteks ini, apa fungsi Salat? Salat memberi kita kesempatan penuh dan seketika untuk menikmati keabadian dan nilai-nilai ilahiahnya, kapal suci yang mengantarkan kita ke pelabuhan berikutnya, ke keheningan cahaya:

Prayer gives to the terrestrial instant of the full weight of eternity and its divine value; it is a sacred ship that bears its load, through life and death, toward the further shore, toward the silence of light.

Wallâhu’alam….@

 

Rumus Agama

Istilah Rumus Agama merujuk pada pernyataan yang kebenarannya berlaku umum bagi semua agama. Artikel ini mempertanyakan apakah ada rumus semacam itu dan meninjau secara kritis rumusan yang ditawarkan Baquet (2006) serta melihat kesesuaian rumus dengan ajaran Islam sejauh yang penulis pahami.

Artikel dapat diakses secara bebas dengan cara meng-klik:   Rumus_Agama