Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi SAW adalah lima ayat pertama Surat 96 al-Quran (al-’Alq) ketika beliau tengah melakukan penyendirian spiritual di Gua Hira. Tulisan INI menyajikan secara singkat signifikansi wahyu pertama ini.
Siginfikansi Wahyu Pertama
Published by Uzair Suhaimi
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy** At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions. **Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact** From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge. **Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric** Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world. **Convergence: Where Analysis Meets Meaning** This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life. . View all posts by Uzair Suhaimi
Surat Al-‘Alaq harusnya menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang ingin belajar Islam secara menyeluruh. Saya sendiri menyadari dalam membaca surat Al-‘Alaq masih seperti membaca koran yang sudah tentu tidak ada kehebatan yang dapat kita peroleh. Padahal kata Iqra mempunyai spektrum arti yang sangat luas dan mendalam seperti yang diuraikan oleh pak Uzair yaitu Kumandangkan! Dengungkan! Dan Proklamasikan! Terimakasih pak Uzair semoga kita dapat menjadi ihsan yang ma’rifatullah dalam arti yang sebenarnya.
LikeLike
Mohon koreksi bila comment saya ada yang salah.
saya fokus pada Surat Al-‘Alaq, adalah tentang perintah “baca”.
Ada tahapan dalam proses “baca”. Tahap awal adalah belajar bagaimana cara baca (arti sesungguhnya). Tahap berkutnya adalah apa yang bisa dibaca. Nah pada tahap inilah menurut saya tahap yang berat, karena membaca tidak hanya ,elihat sederetan huruf saja tetapi semua yang ada di alam ini adalah seseuatu yang perlu di “baca” (perilaku binatang, tanda2 alam, dan lain-lain). Berikutnya adalah memberikan ruh pada apa yang dibaca sehingga bisa mengambil pelajaran dari yang dibaca tersebut, untuk kemudian di terapkan.
Semoga bisa mengambil ibro dari semuanya.
Amiiin. Salam buat Mas Djoko.
LikeLike
Untuk ‘pengayaan’ tafsiran Roni saya kira betul dan berguna. Tetapi hemat saya dalam menerjemahkan teks suci kita dituntut untuk tidak keluar dari arti dasar atau arti turunan masing-masing kata yang eksplisit digunakan dalam teks. Nah arti dasar membaca, sejauh itu merupakan terjemahan qaraa, adalah menghimpun dengan arti turunan (sebagaimana dikemukana dalam artikel) “menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu”. Dengan arti dasar dan makna turunan ini maka bisa jadi kegiatan membaca tidak memerlukan ucapan atau bahan bacaan tertentu tertentu seperti buku. Thanks anyway for your inspirational comments. Salam
LikeLike
Salam kenal. Terimakasih utk kunjungan Anda ke blog saya. Selamat berjuang demi tegaknya Dinul-Islam di dunia!
LikeLike
pak, fani gag ngerti yg ini. Cerita Ibrahim atau Muhammad Udah banyak dijelasin dmana2. buku apapun. soal wahyu pertama, lum pernah fani baca artikel sebelumnyaa.
Inspired, Informatif,
bpk buat fb donk spy bs chating chatingan bapakkke
LikeLike
Subhanallah , tiada kitab yg sesempurna Al Qur’an. didalamnya tidak ditemukan sedikitpun kecatatan. kehilangan makna, kekurangan, maupun kelebihan didalamnya. dan memuat seluruh kesempurnaan isi dan kualitas yg mencakup segala hal dengan absolut tanpa terbantahkan, .
Tidak Diragukan lg kerasulan Muhammad SAW, seorang wakil Allah yg berperan sebagai Rahmatan lilalamin, yg walaupun seorang yg ummi tapi karena keistimewaan dari ALLAH SWT yg diberikan padanya mampu menyampaikan firman ilahi kepada seluruh umat manusia melalui Al’Quran yg luarbiasa kebermaknaannya.
melalui wahyu pertama ini, moga makin menambahkan iman kita kepada Allah dan makin menambah kecintaan kita kepada baginda Rasullullah SAW
LikeLike