Pemberitaan meninggalnya Osama bin Laden memperoleh liputan luas dari hampir semua media masa baik pada tingkat nasional maupun internasional karena alas an yang jelas: dia adalah tokoh terorisme global. Tetapi apa itu teror atau terorisme? Jawabannya tergantung pada perspektif yang digunakan. Artikel ini mengilustrakan tiga macam perspektif dan model penanganan teror dan terorisme global. Bagi yang berminat mengakses artikel yang agak panjang ini –lebih dari 2300 kata dalam 7 halaman– silakan klik: Terorisme_Final
Terorisme: Perspektif dan Model Penanganan
Published by Uzair Suhaimi
**Statistics and Spirituality: An Unexpected Synergy** At first glance, the pairing of statistics and religion may seem unconventional—even paradoxical. One discipline is rooted in empirical analysis, quantifying the tangible realities of our world; the other contemplates the transcendent, exploring truths beyond the physical realm. Yet this very duality defines my journey: a lifelong dedication to statistical rigor intertwined with a deep fascination for humanity’s spiritual dimensions. **Professional Journey: Three Decades of Data-Driven Impact** From 1981 to 2011, I served as a statistician at *BPS-Statistics Indonesia*, the nation’s central bureau of statistics, contributing to data-driven policymaking and national development. Following this, I lent my expertise to Indonesia’s *TNP2K* (a Vice President’s Office initiative) and the *International Labour Organization’s Regional Office for Asia and the Pacific (ILO-ROAP)* as a senior statistician. Since 2012, I have operated as an independent consultant, collaborating with entities like the ILO and Indonesian government agencies on pivotal projects. A recent highlight includes leading Indonesia’s first comprehensive *estimation of child labor* for the ILO Country Office in Jakarta (2019), a critical step toward addressing this urgent social challenge. **Spiritual Inquiry: Bridging the Universal and the Esoteric** Parallel to my professional work, I have nurtured a decades-long intellectual passion for the essence of religious thought—its esoteric traditions, universal principles, and timeless wisdom. Sufism’s mystical teachings and the *perennial philosophy*, which seeks shared truths across spiritual traditions, hold particular resonance for me. To explore these themes, I have authored and shared reflections on my personal blog, inviting dialogue on how inner understanding intersects with our outer world. **Convergence: Where Analysis Meets Meaning** This unlikely harmony between data and devotion has profoundly shaped my perspective: statistics reveal the *"what"* of human conditions, while spirituality grapples with the *"why."* Together, they form a dynamic lens through which I seek to understand—and contribute to—both the measurable and the immeasurable dimensions of life. . View all posts by Uzair Suhaimi
Kajian yang cukup tajam dan aktual.
Lagi-lagi terorisme. “Terorisme” menjadi benda yang layak untuk diperjualbelikan. Saya mencoba melihat dari aspek perang peradaban (entah nyambung atau tidak) dan efek dari pembangunan. “Terorisme” saat ini menjadi komodisi/sarana untuk menancapkan kekuatan suatu negara untuk melakukan intervensi negara lain.
Penanganan terorisme saya cenderung untuk menyelesaikan dengan pendekatan sosiologi. Saya melihat (pasti ada perdebatan) suatu negara yg subur terorismenya, koq disitulah praktek korupsi sangat tinggi dan penegakkan hukum menjadi barang dagangan yang mahal. Wallahu’alam.
LikeLike
Salam hormat pak uzair,
Setelah membaca tulisan bapak, saya jadi tertarik untuk menulis Radikalisme Idiologi dari Masalah Sosial, yang saya lihat pola terorisme di Indonesia sangat berbeda pola kebangkitannya dengan kondisi timur tengah. Radikalisme yang terjadi di Indoesia lebih dikarenakan aspek kondisi ekonomi sosial yang saat ini berlangsung. Rasa kepercayaan “akibat reformasi” kepada pemerintah yang berkurang dan kebebasan berekspresi yang berlebihan menjadi tombak radikalisme. Rasa takut masyarakat akan masa depan karena sudah tidak percaya lagi pemerintah mengayominya.
Terimakasih artikelnya ya Pak. Tulisan saya ada di sini http://www021.wordpress.com/2011/05/22/radikalisme-idiologi-dari-masalah-sosial/ , Mohon koreksinya kalau salah.
Hormat Saya,
Udin Suchaini
LikeLike
Pak Uzair Ysh,
Saya sepakat dengan pernyataan bahwa terorisme bersifat faktual,
sekaligus sebagai suatu simptom, indikasi atau petunjuk bahwa ada sesuatu yang salah. Menarik juga mencermati tiga model penanganan yang Pak Uzair paparkan, dengan kecenderungan untuk menggunakan model Turki yang dinilai relatif ‘mumpuni’. Kalau boleh saya usul, dapatkah Pak Uzair menambahkan penjelasan tentang organisasi terorisme yang berhasil ditangani Turki? Kalau ini diulas juga, maka makin komprehensif pengetahuan yang saya peroleh (maaf ya Pak, jadi nambahin kerjaan, soalnya saya belum sempat baca sumber lain ttg penanganan terorisme di Turki).
Tiga faktor sukses Turki dalam penanganan terorisme juga menarik, walaupun buat saya faktor kedua yaitu fundamental politik demokrasi jadi tanda tanya. Seperti Pak Uzair tulis, di Turki ada pemisahan tegas antara politik dan agama. Dalam tugas keagamaan, Imam tidak dapat berpolitik dan kebanyakan umat tidak menghargai Imam yang berbicara urusan politik di Masjid. Pertanyaannya apakah memang seharusnya demikian dalam agama Islam? Apakah pelaksanaan agama di Turki terbatas pada ritual saja? Mohon penjelasan ya Pak. Saya sering membaca atau mendengar kecaman terhadap sekularnya islam di Turki. Mudah-mudahan saya dapat pencerahan dari Pak Uzair.
Terakhir, saya setuju dengan masalah kepercayaan diri. Saya pikir para pemikir islam seperti Afgani, Abduh, Qutb yang gigih mengingatkan umat
mengenai pentingnya identitas diri dengan ajakan untuk ‘Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah’ merupakan salah satu cara membangkitkan kepercayaan diri umat islam. Seseorang akan percaya diri jika ia tahu dulu identitasnya, jika ia mengenal terlebih dulu dirinya, kemudian ia bangga dengan identitasnya itu. Bukan begitu Pak?
Salam
LikeLike
TK komentarnya yang bagus. Ini respon singkat saya mengenai kelompok teroris [lihat catatan kaki ke-1 sebagai referensi] dan sekularisme yang mudah2an relevan dengan pertanyaan Upi.
Banyak kelompok teroris yang sudah lama ‘merongrong’ kedaulatan negara Turki dan menggunakan bahasa kekerasan untuk agenda politik (karenanya Turki men-cap sebagai teroris). Kelompok itu antara lain Turkish Hisbullah, the Revolutionary People’s Liberation Party/Front (DHKP/Cor Dev-Sol) dan Kurdistan Freedom and Democracy Congress (PKK_KONGRA GEL). Yang terakhir — sebelumnya dikenal dengan PKK (Partya Karkersen Kurdistan)– berbasis idologi Marxist-Leninist yang mungkin paling popular. Kelompok ini bertujuan membentuk United Democratic Kurdistan yang independen yang sejak awal 1980-an sudah memimpin peperangan grilya, kolaborasi dengan kelompok lain khususnya yang dari Syria dan Yunani. Di luar itu banyak kelompok lain yang pada umumnya terkait dengan kelompok teroris yang bermarkas di Syria dan Iran (state-sponsored terrorisms?).
Mengenai sekularisme perlu artikel sendiri. Artikel ini hanya memberikan contoh ilustratif bagaimana dalam negara sekuler seperti Turki, rumah ibadah dan sarana atau atribut keagamaan ‘tidak laku dijual’ untuk provokasi politik apalagi yang mengarah ke terorisme; DPL, dalam negara sekuler, terorisme tidak dapat menggatas-namakan agama. Make sense? Jika tertarik mengenai sekularisme bagaimana jika Upi baca “Islam Agama Sekuler” karya Arkoun?
Salam.
LikeLike